prof. adrianoOleh : Prof. Adriano Rusfi
Bagi gerakan LGBT, mahasiswa bukan saja lahan subur bagi penularan LGBT, namun juga merupakan lahan strategis. Kenapa ?
Pertama, mahasiswa adalah kalangan yang masih shock dengan kebebasan besar dan mendadak yang mereka peroleh. Bayangkan, baru saja mereka lulus pendidikan menengah atas dengan segala seragam, peraturan, kegiatan terjadwal, tinggal di rumah orangtua, disiplin dan sebagainya, lalu tiba-tiba saja “dihadiahi” segepok ke-boleh-an : tinggal sendiri, mengatur uang sendiri, mengelola waktu sendiri, tak pakai seragam, mata kuliah silakan dipilih sendiri dan sebagainya.
Di satu sisi, ini memang menyenangkan. Tapi sungguh mereka tak siap dengan banjir kebebasan yang diberikan sekaligus. Maka yang pertama kali tersulut oleh limpahan kebebasan tak terkontrol ini adalah naluri seksualitas. Bukanlah hal yang mudah menyalurkannya kepada lawan

jenis. Sedangkan penyaluran hasrat seksual kepada kaum sejenis, itu tak terlalu sulit. Di tempat kost, terlalu mudah mendapatkan kaum sejenis untuk melampiaskan hasrat seksual. Pemilik tempat kost tak akan meributkan jika teman sejenis bertandang ke kamar. Maka, jika anda ingin menyaksikan bagaimana LGBT ditularkan sistematis, datangilah tempat kost !!!

Kedua, mahasiswa masih masuk dalam kategori remaja galau. Mereka masih memiliki krisis identitas yang belum selesai. Bahkan, “jenis kelamin sosial” merekapun belum jelas : dewasa atau anak-anak. Hingga detik terakhir lulus SMA, mereka bahkan masih bingung menetapkan program studi yang harus mereka tuntut. Inilah kaum baligh – belum aqil. Jelas mereka adalah sasaran empuk gerakan penularan LGBT. Jatidiri abu-abu klop dengan orientasi seksual yang juga abu-abu. Mungkin awalnya mereka “hanya” diajak melakukan eksperimen seksual, konon dalam rangka menemukan orientasi seksual yang pas dan cocok. Tapi yang jelas tanggul moral itu telah bobol.
Ketiga, mahasiswa adalah kalangan yang baru melek sains. Mereka sedang terpesona dengan “teori-teori dan bukti-bukti ilmiah”, tanpa pernah tahu filsafat dan hakikat sains. Tiba-tiba mereka gamang dengan iman dan agama, karena sains mangajarkan mereka tentang skeptisme dan empirisme. Tiba-tiba mereka ragu dengan kitab suci, karena sains memberikan “bukti ilmiah” yang berbeda.
Dan, saat “scientific euphoria” ini terjadi, dari balik kegelapan gerakan LGBT hadir dengan sekeranjang “hasil penelitian ilmiah” bahwa LGBT itu normal. Apakah mahasiswa langsung menjadi LGBT karenanya ? Tidak… karena yang paling penting adalah mahasiswa yakin bahwa LGBT itu normal. Itu sudah cukup untuk membobol tembok keyakinan, dan bergerak menuju perangkap. Karena “marhalah” (step) berikutnya akan menjadi jauh lebih mudah.
Keempat, mahasiswa adalah kalangan anti kemapanan, pro kaum lemah dan penentang penindasan. Mereka akan melakukan perlawanan terhadap apapun yang dianggap intimidatif, tak peduli benar atau salah. Ketika beberapa warung “wong cilik” dibongkar paksa, maka mahasiswa akan membela mereka, tak peduli apakah warung tersebut berdiri ilegal di tempat terlarang.
Maka, gerakan LGBT-pun memainkan jurus itu : Kami tertindas… kami dimarginalisasi… hak ekspresi seksual kami tak dihormati. Kami sering menerima kekerasan dan bully sosial. Lalu, mahasiswapun jatuh simpati. Apakah mereka akan langsung mengidap LGBT ? Tidak… karena yang penting mahasiswa telah jatuh simpati pada LGBT. Dan, sekali lagi, pintu itu terkuak…