hijabTahun ’80-’85, memakai jilbab (kerudung) di sekolah adalah hal yang sangat dilarang. Pelajar muslimah yang nekat memakai kerudung akan dimusuhi guru, bahkan dikejar-kejar sampai melompat pagar sekolah karena “bandel” terus-terusan pakai kerudung. Hukuman bagi yang berkerudung adalah membersihkan toilet dan harus mengepel lantai sekolah, belum lagi mereka dituduh pengikut PKI karena menentang pemerintah.

Ujung dari kisah mereka sungguh klasik, mereka dikeluarkan dari sekolah! Kalaupun harus pindah ke sekolah swasta, sekolah tidak mau menerima kecuali uang pangkalnya dibayar full.

Bagi sekolah, sekolah adalah kawasan bebas jilbab. Tidak boleh ada pelajar perempuan yang berkerudung. Lalu, beberapa tahun setelah peristiwa itu para ikhwan mengadakan negosiasi dengan pihak sekolah. Walaupun jauh dari harapan, namun akhirnya keberadaan jilbab mulai ‘welcome’, hanya saja ada syaratnya. Apa syaratnya? Pakai kerudungnya harus bongkar pasang. Berangkat ke sekolah dipakai, sampai pintu gerbang sekolah dibuka lagi. Lumayan, setidaknya para muslimah itu tidak “gundul” dijalanan.

Belum lagi mendapat sindiran sinis dan ketidak jelasan sekolah:
“Kalo mau lu masuk aja Aliyah, kenapa SMA segala..”.
“Itu tolong ya dirapihkan pakaiannya..”
“Kalau ada yang kepanjangan, saya gunting!”
“Saya tidak melarang, juga tidak menyuruh,”

Subhanallah, akhirnya titik terang itu mulai berpencar cahayanya. Pada 1990, ada musyawarah MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) se-Jaksel yang dihadiri beberapa SMA di antaranya SMA 6, 8, 28, 38, dan 70 yang membahas lokalisasi WTS. Topik yang berkenaan dengan moral itu menjadi momen yang pas untuk melempar isu jilbab dengan harapan jilbab dilegalkan (dibolehkan).

Depdikbud sebagai pihak yang berwenang mendengar aspirasi hasil musyawarah MPK, akhirnya mengeluarkan SK 100 tahun 1991 tentang bolehnya pemakaian kerudung di sekolah (setelah beberapa kasus jilbab mencuat).

Mendengar keputusan Depdikbud tersebut ratusan pelajar muslimah yang melakukan aksi dan berkumpul di Masjid Al-Azahar Jakarta melakukan sujud syukur. Mengucapkan takbir, tahmid dan istighfar atas legalnya kerudung di sekolah-sekolah. Subhanallah, sungguh sangat heroik peristiwa tersebut..

Dan kini, anak perempuan kita bebas memakai kerudung di sekolah tanpa mendapat tekanan apa-pun. Para wanita muslim bebas memakai kerudung di kantor, sekolah dan instansi tempat mereka bekerja. Istri-istri kita bebas memakai kerudung saat pergi ke pasar dan mengantar anak ke sekolah. Para akhwat salafiyin bebas memakai cadar/niqab/burqah dan kerudung panjangnya di instansi pemerintah dan universitas. Kerudung dan cadar yang dulu dilarang, kini sudah bebas merdeka memakainya.

Berhijab, berkerudung adalah syariat agama, dalilnya jelas, hukumnya wajib, meninggalkannya diancam neraka. Namun syariat Allah untuk berhijab ini ternyata butuh perjuangan yang menguras air mata, kisah pilu dan kepahitan. Disana ada dialektika, ada diskusi, ada gerakan, ada aksi, ada orasi, ada negosiasi, ada syuro, dan ada ikhtiar yang panjang. Tidak serta merta, tidak simsalabim, tidak ujug-ujug itu kerudung bisa dipake.

Dulu, niat dan motivasi wanita berhijab dalam rangka beribadah kepada Allah, ketaatan pada syariat, menutup aurat dan menjaga kemuliaan. Tapi sekarang? niat dan motivasinya macem-macem, model kerudungnya pun macem-macem dan aneh-aneh. Ada yang pakai kerudung hanya karena mengikuti arus mode (fashion), ada yang ingin tampil seperti artis sinetron, ada yang pakai hanya untuk gaya, foto-foto dan selfie.

Mulai detik ini, mari luruskan niat dalam berhijab (berkerudung). Niatkan berhijab dalam rangka taat kepada Allah, bukan karena ikut-ikutan mode dan fashion, apalagi artis sinetron. ^O^

Tulisan ini saya rangkum dari sebuah artikel panjang berjudul “Memoar Perjuangan Jilbab Era ’80-an” dan ceramah Ust. Rahmat Abdullah -Allahu yarham- “Kilas Balik 20 Tahun Tarbiyah”.

Alfakir, Fadli Rahman Hamasah

********************
Jadi, jika ada Salafiyin bilang: “Emangnya aksi dan demo itu bisa merubah kondisi?”. Saran saya: Enggak usah dijawab, karena mereka tidak paham politik dan tidak mengerti arti perjuangan.

Oiya satu lagi, enggak perlu juga kita kasih tau siapa orang yang berjuang melegalkan hijab, dari kelompok apa, mana dan siapa. Saya khawatir nanti orang yang berjuang itu ditahdzir dan dihina karena bukan dari kelompoknya. Na’udzubillah.