pengeboran-chevronTetiba salah seorang pramugari menghampiri saya. Ia menawarkan ‘welcome drink’.
“What would you like to drink, Sir?”, tanyanya sambil tersenyum.
“Just mineral water please”, pinta saya.

Sambil menghidangkan air minum pesanan saya, pramugari itu pun membawa setumpuk koran dan majalah. Ia pun menawarkan ragam jenis bacaan. Saya memilih majalah Times. Ketika pesawat sudah dalam posisi cruising, saya membuka-buka majalah tadi. Dan, mata saya berhenti di sebuah tajuk, “McCain Comes, Chevron Gladsomes. McCain Datang, Chevron senang.”

Siapa McCain? Nama lengkap McCain adalah John Sydney McCain III. Dia adalah Senator Senior Amerika Serikat dari Partai Republik. Setiap McCain datang, dunia yang tenang berubah menjadi gaduh. Setidaknya demikian ungkapan para pengkritik “war on terror” mengejek para hawkish dari Partai Republik seperti McCain.

Menurut Times, 2 minggu yang lalu McCain datang ke Indonesia. Bertemu khusus dan serius dengan Presiden SBY. Yang banyak diberitakan media, pertemuan itu membicarakan masalah bahayanya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Gerakan yang dibilang ekstrimis yang sebetulnya juga didukung oleh McCain sendiri (lucu kan?). Namun, ternyata McCain datang ke Indonesia bukan hanya untuk ‘mengingatkan’ Indonesia soal ISIS. Ia juga ternyata mendatangi kawasan perairan Spermode, sekitar 1,5 jam dari lepas pantai Makassar. Di sana McCain mengunjungi Chevron, perusahaan besar milik Amerika Serikat yang berfokus pada bidang pertambangan minyak dan gas.

Dan Chevron, adalah ternyata perusahaan yang menjadi bandar untuk ongkos politik John McCain untuk menduduki kursi senator di Amerika serikat. Ada apa gerangan di areal Spermode? Ternyata, selama ini Spermode masuk ke dalam proyek Indonesia Deepwater Development. Menurut informasi data seismik minyak, Spermode adalah kawasan perawan penghasil gas terbesar di Indonesia. Dengan hanya mengebor di kedalaman 1.500 meter saja, gas hasil tambang yang disedotnya bisa mencapai bertrilyun-trilyun kubik. (Asli saya sampai keselek bacanya).chevron

Sejak tahun 2007, kawasan Spermode tertutup bagi masyarakat lokal. Alasannya adalah kawasan ini adalah kawasan konservasi. Namun, sejak 5 tahun lalu, tidak kurang dari 100 penelitian dilakukan oleh Chevron.
Tidak heran, jika McCain harus repot datang ke Indonesia. Jika kepada SBY ia hanya berbicara masalah ISIS, lain halnya kepada Joko Widodo sebagai presiden terpilih. McCain berbicara masalah perpanjangan konsensi Chevron hingga 2028 dan memulai tambangnya di 2016. Berdasarkan catatan kontraknya, 75% gas Spermode akan diekspor. Sisanya untuk menutupi kebutuhan gas industri di Aceh, lalu sentra industri di Jawa dan Sumatera.

Nampaknya, orang Makassar dan sekitarnya hanya mendapat tetesan sisanya dan pelarangan melaut di area tersebut.
Sepertinya, selain emas dan tembaganya Indonesia yang sudah segunung pindah ke Amerika, menyusul minyak dan gas Indonesia juga akan berpindah menjadi pundi-pundi kekayaan Amerika. Indonesia kaya raya? Ya. Asing yang mengelola dan riang gembira? Tentu saja. Saya lemas… Perjalanan 17 jam ini sepertinya terasa akan bertambah lama…
‪#‎Merdeka‬ #‎LintasanPikiran‬

Sahabat : Azzam Mujahid Izzul Haq