rainbow-sunsetKeadilan itu sederhana, bila jundi (prajurit) dihukum dengan tidak dilibatkan lagi dalam syuro (dilepas jabatannya), karena tidak mentaati seruan untuk berdemonstrasi misalnya, maka bila qiyadah (pimpinan) tidak mentaati hasil syuro pun harus dihukum, setidaknya setimpal atau lebih berat.

Bila jundi (prajurit) dikucilkan karena menikah di luar jalur jamaah atau masih di dalam jamaah tapi tidak melalui jalur pimpinan, maka logika sederhananya qiyadah (pimpinan) yang menikah tanpa ijin qiyadah di atasnya, apalagi dengan orang di luar jamaah, apalagi bukan orang yang mengamalkan syariat Islam dengan baik seperti kewajiban menutup aurat, maka setidaknya dia pun harus dikucilkan oleh jamaah atau lebih berat, karena masalahnya lebih berat dan statusnya sebagai pimpinan lebih memberatkan.

Pertanyaannya, apakah penerapan-penerapan keadilan yang sederhana ini antara kerasnya sanksi pada jundi (prajurit) sama juga kerasnya dengan sanksi pada qiyadah (pimpinan), atau hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Begitu pun dalam banyak contoh kasus lainnya.  Bila yang terjadi hanya seperti poin ke dua, galak pada bawahan lembek pada atasan, maka mari kita tidur saja dan kita anggap semua orasi hebat dan narasi-narasi besar tentang keadilan itu sebagai dongeng pengantar tidur belaka.  Bila pada yang kecil dan dekat dengan realitas sehari-hari tidak bisa adil, maka jangan diharapkan keadilannya pada hal yang lebih besar dan jauh dari pengawasan manusia. Wallahu ‘a lam (Penulis: RW)

“Yang buta bukanlah mata, tetapi mata hati. Yang tuli bukanlah telinga, tetapi hati yang tak mampu mendengar. Sahabat, terkadang kebenaran/ keadilan itu begitu sederhana, namun sifat angkuh telah membutakan mata hati, dan melumpuhkan akal kita”. Quote Agus Supriyadi