rokok
Oleh : Ust. Nandang Burhanuddin, Lc, M.Sc
Ada seseorang yang mengirimi gambar via inbox. Setelah saya cermati, gambar tersebut mirip dengan gambar bungkus rokok GG. Namun sudah diedit fotoshop; Gudang Haram. Di bawahnya ada tulisan: democration (lihat gambar).

Sungguh yang bikin gambar, yang mengupload, dan mengedit gambar adalah orang-orang cerdas yang terbatas. Disebut cerdas, sebab ia pandai memelintir gambar dan menilai hal-hal mubah jadi haram. Bahkan katanya demokrasi dapat menyebabkan kekufuran, masuk neraka, azab dunia akhirat.Mengapa terbatas? Ya seperti para perokok umumnya, orang-orang tahu bahaya rokok, tapi enjoy menghisapnya. Persis seperti orang yang mengaku antidemokrasi dan pejuang syariah-khilafah: ia tahu bahaya demokrasi, namun tetap menghisap gaji dan produk demokrasi dengan dalih yang sama seperti penghisap rokok: dalil akal-akalan sesuai syahwatnya. Uniknya, para perokok juga sering pake dalil Qur’an. Persis seperti dalilnya pejuang khilafah, yang menggunakan mafhum mukholafah dari ayat kewajiban shalat. Lalu memelintir Siroh Nabi seakan orang lain tidak pernah belajar Tafsir-Siroh.Bagi saya, masih mending perokok. Biasanya suka tahu diri. Minimal ia bilang, dengan merokok saya bikut bayar pajak. Kan jadi pemasukan juga buat negara. Masih mending, para perokok tidak pernah berani berbohong atas nama Siroh Nabi.

Sedangkan pengklaim pejuang khilafah, biasanya agak kurang tahu diri. Tetap menikmati. Namun terus-terusan mencaci maki. Habis gitu, kalau pas Pemilu hobynya Golput. Tapi kalau calon yang menang bukan dari Partai berbasis gerakan Islam, suka foto bareng dan loby-loby. Nah pas giliran dari partai yang berbasis gerakan Islam. Semua serba salah. Lucunya, aktif demonstrasi yang dijamin UU produk demokrasi. He he…memang senyum lebih baik. Parahnya lagi, suka memelintir ayat-hadis-siroh plus mengkafirkan orang-orang yang sama-sama akan menegakkan khilafah, tapi tidak dengan cara mencaci maki atau mengkufurkan orang lain.

Saya sendiri, antirokok dan tidak pernah merokok-berdagang-apalagi jadi pekerja. Tapi tetap tidak berani mengaramkan rokok. Sebagaimana saya bukan anggota parpol, bukan legislator, bukan pula PNS. Tapi saya tetap taat bayar pajak, memenuhi kewajiban sebagai WN, menerima hak, namun tak berani mengkafir-kafirkan demokrasi dan orang-orang yang ada di dalamnya. Mungkin karena saya tidak berguru ke mujtahid mutlak. Tapi setahu saya, guru yang disebut mujtahid mutlak itu yang dulu bekerja dengan penjajah Inggris dan ikut mendukung partai Ba’ats di Irak.Lihat Selengkapnya