PADIOleh : Ustadzuna Langlang Buana II
(Biasa saya panggil dengan sebutan Abang Kerak Telor)

Saat Syaikh Hasan Al Banna terbunuh dan jama’ah Al Ikhwan Al Muslimun mengalami perpecahan yang dahsyat, tokoh-tokoh intinya banyak berseteru ideologi, jabatan Mursyid Am kosong hampir selama 3 tahun, dan akhirnya sebagian tokoh utama dikeluarkan di era Syaikh Hudhaibi di antaranya Shahibu Fiqh Sunnah yang masyhur Syaikh Sayyid Sabiq dan Ulama kharismatik Syaikh Muhammad Ghazali, Syaikh Sayyid Sabiq menjawab pertanyaan seseorang tentang kenapa bisa jadi begitu akhir dari jamaah yang baru berdiri itu ? sudah pecah berkeping bahkan sejak awal generasinya ? Syaikh Sayyid Sabiq menyebut bahwa langkah Syaikh Hasan Al Banna menceburkan diri dalam konfrontasi terbuka dalam perang Arab di saat jamaah itu baru saja tumbuh adalah sebuah ketergesaan, seperti diceritakan kembali Dr. Bassam Beliau mengatakan itu padahal Syaikh Hasan Al Banna adalah orang yang sangat matang dalam menghitung resiko. Majmu’ Rasail menceritakan bagaimana beliau menahan diri untuk bertempur walau para pemuda Ikhwan begitu mendesak beliau, hal itu beliau lakukan karena belum cukup terpenuhi syaratnya. Terlepas apa yang terujadi di masa lalu, biarlah itu menjadi sebuah amal yang dinilai pahalanya di sisi Allah yang maha pemurah. Yang ingin kita bicarakan adalah membanding keadaan lampau dan hari ini.

Dalam afat ath thariq, salah satu buku yang menjadi rujukan pembinaan Ikhwan di sini (Indonesia) dahulu, kita sering mendengar larangan jangan beristi’jal (tergesa-gesa) sebab itu adalah salah satu pondasi kehancuran gerakan. Tetapi bila kita cermati manhaj-manhaj haraki, baik itu Ikhwan, Hizbut Tahrir, Jamaah Islamiah, atau semisalnya, kita lihat justru ketergesaan adalah watak dasar mereka. Jadi ada tanaqudh di sini (kontradiksi) antara ajaran dan realita. Kaum harakiyyun selalu fokus tentang bagaimana cara merebut kekuasaan dan mengambilalih pemerintahan, itulah titik terpenting kenapa dalam praktek kaum haraki selalu tergesa dalam banyak hal dan mudah terpancing dengan peluang-peluang sekaligus provokasi politik. Manhaj mereka adalah manhaj politik, merebut kekuasaan baik dengan cara revolusi, kudeta, pemilu, atau semisalnya.

Karena itu pembinaan mereka sangat tidak lepas dari materi sampai bentuk latihannya dengan tujuan utama gerakan tersebut yaitu mengambil alih kekuasaan. Mereka menjadikan kekuasaan hampir seperti segalanya, karena itu tahapan-tahapan pembinaan seperti takwin al fard al islami (pembentukan pribadi muslim), takwin al mujtama al islami (pembentukan masyarakat muslim), dst seperti hanya klise, dengan dirumuskan masing-masing sekian tahun seperti hanya klise, begitu momentum politik muncul maka mereka segera terprovokasi untuk memasukinya, seolah apa yang selama ini ditunggu telah datang, kesempatan merebut dan meraih kekuasaan mulai terbentang, maka mereka pun berbondong-bondong memasukinya baik dengan pemilu atau pun pertempuran lalu semua itu mereka istilahkan JIHAD. Inilah titik krusial kenapa mereka selalu tergesa bila berhadapan dengan momentum politik yang pada akhirnya tidak peduli lagi apakah memang masyarakat Islami yang ada dalam buku pembinaan mereka itu sudah terbentuk atau belum.

Mereka menargetkan membentuk masyarakat Islami hanya dalam waktu 10-20 tahun saja, padahal ini Indonesia yang jumlahnya 200 juta lebih yang wilayahnya terbentang dari Papua sampai Aceh, para wali songo dan ulama nusantara saja yang lebih berilmu dari mereka untuk mengislamkan dan membentuk kekuasaan politik Islam butuh 7 abad dari ditemukannya nisan Fathimah binti Maimun sampai terbentuknya kerajaan Islam Cirebon dan Demak di abad 14. Membentuk masyarakat Islami bukanlah kerja repelita 5 tahun atau kerja 10 tahun. Kalau membentuk kelompok kecil Islami mungkin bisa dalam waktu itu, tapi ini Indonesia yang amat besar dan luas. Rasulullah s.a.w saja yang membentuk Madinah tidak kurang 13 tahun persiapan di Makkah dan 10 tahun di Madinah padahal Madinah dan Jakarta masih lebih luas Jakarta dan lebih padat penduduknya. Itu Madinah yang dibentuk oleh Rasul s.a.w dan didukung para sahabat Rasul s.a.w, lalu bagaimana membentuk masyarakt Islami Indonesia yang jumlah ratusan juta dengan luas jutaan kilometer hanya dengan target 10 tahun pertama, 10 tahun ke dua, sementara yang berdakwah alumni rohis yang pemahaman keislamannya pas-pasan ? Bila Syaikh Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa perpecahan Ikhwan generasi pertama adalah karena isti’jal, tergesa membenturkan diri dalam perang terbuka, maka bagaimana dengan kondisi yang sekarang ? Adakah nama lain yang lebih di bawah dari Isti’jal (tergesa-gesa) ? Maka itulah, mari kita berlepas diri dari manhaj Isti’jal kaum harakiyyin dan kita mulai lagi bersungguh-sungguh dan bersabar dalam membina masyarakat kita tanpa mudah terprovokasi dengan kejutan-kejutan jebakan peluang merebut kekuasaan.– wallahu a’lam

Melihat kualitas kita dibandingkan ulama perintis Islam di nusantara (jangan dibandingkan kita dengan Nabi dan Sahabat, kejauhan analoginya) mungkin kita perlu rencana pembinaan 1000 tahun atau 1500 tahun. Ini realistis melihat kualitas kita, luasnya medan, banyaknya musuh, tidak adanya persatuan, dan beragamnya tantangan. Kecuali Allah memberi rahmat, itu lain perkara, itu sih wes ewes langsung jadi. Tapi bila melihat realitas faktual, saya kira rencana 1000 sampai 2000 tahun cukup logis. Membina masyarakat itu, juga di dalamnya membina para pemimpin dan penguasanya. wallahu a’lam