Di saat kaum libelar, sekular, komunis, dan sosialis habis-habisan memburukkan syariah dan berusaha mendekontruksi kemuliaan dan keagungannya, sebagian orang malah berdebat apakah konsitusi Mesir kufur bawwah atau halal mubah?! Dalam hal ini kita menyaksikan model berpikir dan bersikapnya HTI dan takfiriyyun dalam memyikapi masalah-masalah ijtihadi secara ghuluw dan ishrar dengan kerancuan pemikiran mereka.

Sebelumnya sebagian orang memandang bid’ahnya berorganisasi (‘amal jamaa’iy), kafirnya orang yang masuk dalam parlemen, dan tiadanya udzur dengan kebodohan dalam masalah-masalah tauhid dst.

Silahkan cermati penjelasan Syeikh DR. Muhammad Yusri Ibrahim ~Hafizhahullah~ berikut. Semoga bermanfaat.

12Setidaknya hal yang mesti dilakukan bagi para da’I, thullab ilmi dan pemuda-pemuda adalah bersama-sama menghadapi orang-orang liberal, sekuler, kafir rafidhah demi agama Islam itu sendiri, daripada melakukan perdebatan internal tentang konsitusi Mesir, apakah kufur bawwah atau halal mubah?

Kerancuan berpikir dalam masalah fikih sekitar konstitusi ini mengingatkan saya tentang kerancuan-kerancuan lain semisalnya, yaitu memandang bid’ahnya berorganisasi (‘amal jamaa’iy), kafirnya orang yang masuk dalam parlemen, dan tiadanya udzur tentang kebodohan dalam masalah-masalah tauhid dan lai-lain.
Benang merah yang menyatukan antara masalah-masalah tsb adalah:

Pertama, dangkalnya analisa keilmuan (sath-hiyyatu at tanaawul al ‘ilmiy). Kedua, menghabiskan potensi pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Ketiga, menabrak adab-adab khilaf. Keempat, menganggap pasti dan final masalah-masalah yang bersifat ijtihad yang mana fatwa-fatwa itu bisa berubah sesuai waktu, tempat dan kondisi. Dan sungguh mengherankan kita mengulang kesalahan-kesalahan kita yang lalu itu secara terus-menerus.”

Sesudah sebagian orang kehilangan kemampuan syari’ahnya untuk mendapatkan hukum asal berdemonstrasi dan kehilangan kesadarannya disebabkan realita yang tumpang tindih, maka mereka sekarang mengambil sikap dengan menolak undang-undang yang dinilai tidak syar’i, mereka bersikeras mengambil langkah yang sama, dimana langkah tsb telah menghilangkan kesatuan kalimah dan kesatuan barisan, walhasil, munculnya barisan lain, dan tahukah kalian apa itu barisan lain.

Di saat gabungan kelompok-kelompok Islam telah mencurahkan segala kemampuannya dalam perumusan konstitusi yang dinamis-sebagian kelompok Islam ada yang mencelanya-tiba-tiba muncullah reaksi sangat keras dari kalangan sekuler terhadap pencapaian ini!! ketahuilah, apa jadinya bila konstitusi itu disusun murni Islami, apa gerangan akibatnya ?

“Wahai orang-orang yang mulia, orang-orang yang berakal serta para ulama yang menolak konstitusi yang telah dibuat oleh kelompok-kelompok Islam, apa kita tidak bisa mentadabburi kisah seseorang yang melobangi sebuah perahu agar perahu yang ada lobangnya itu tidak dirampas oleh raja yang zalim, dengan begitu kita menemukan jalan yang sesuai syari’at untuk menjaga kemaslahatan umat dan menjauhkan dari akibat yang buruk??”

Apa kita tidak tahu bahwa ada jarak yang sangat jauh antara kita dengan undang-undang politik yang islami?! Dan sungguh ada celah waktu yang dapat mendekatkan dua masa, dan sungguh kita harus menutup celah waktu itu sehingga kita bisa menyambungkan masa sekarang dengan masa lalu kita agar kita dapat bertolak menuju masa depan kita, dan sungguh untuk mencapai itu ada banyak rintangan, ada banyak terminal perpindahan, dan itu tidak akan mungkin bisa diwujudkan dalam sekali gerak, tidak cukup hanya dengan satu goresan pena atau satu keputusan pemimpin. Akan tetapi hal itu terwujud dengan adanya perubahan dalam masyarakat, meskipun hal itu lambat namun dengan ijin Allah pastilah bisa.

Yang terpenting bagi kita adalah jangan sampai kehilangan kesabaran, kekuatan dalam bersabar, kesiapsiagaan, tetap husnudzan kepada qiyadah kita dan masyayikh kita. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keadilan dan ilmu.

Diterjemahkan oleh: Ustadzuna. Ahmad Fairuz

Bekasi, 23 Muharram 1434 H | Pukul: 16:20 WIB