bacalah alquran dan 'amalkan :)Qaidah fiqhiyyah yang paling banyak digunakan oleh aktifis dakwah dalam menjustifikasi kemunkarannya adalah “Al-MASYAQQATU TAJLIBUT TAISIIR” (Kesulitan itu mendatangkan kemudahan). Itu adalah satu dari lima besar qaidah fiqhiyyah yang dibawahnya bercabang ratusan qaidah. Atas dasar qaidah-qaidah tersebut fiqh dibangun dan semua hukum berhubungan dengannya (Lihat Al-Asybaah Wan Nazhaair oleh Asy-Syuthiy, hal 8).

Yang dimaksud dengan qaidah tersebut adalah bahwa kesulitan (masyaqqah) yang diakui oleh syariah (mu’tabarah) merupakan sebab yang syar’i untuk yang mendatangkan kemudahan (taisir) dalam bentuk keringanan (takhfif) dan kemudahan (tashil) hukum.

Kesulitan (masyaqqah) dan keringanan dalam agama bukan ditentukan oleh akal dan hawa nafsu. Syariah telah membuat dhawabith (patokan-patokan) sehingga orang tidak bisa seenaknya menetapkan kondisi sulit dan kemudhan-kemudahan serta keringanan-keringanannya.

Kemudian, keringanan dan kemudahan dalam hukum-hukum syariah ada beberapa bentuk:

Pertama, kemudahan dengan mengugurkan kewajiban, seperti digugurkannya kewajiban shalat jumat bagi musafir dan wanita; digugurkannya kewajiban hajji bagi orang yang tidak mampu; digugurkannya kewajiban jihad bagi orang-orang yang punya udzur diantaranya orang buta dan pincang.

Kedua, kemudahan dengan dikuranginya jumlah kewajiban, seperti dibolehkannya mengqashar shalat ketika safar.

Ketiga, kemudahan dengan menganti kewajiban dengan kewajiban yang lain dan lebih ringan, seperti menganti mandi dan wudhu dengan tayammum bagi orang yang sakit, orang yang tidak mendapatkan air, dan orang yang sedikit persediaan airnya; juga menganti berdiri dengan duduk dalam shalat bagi orang yang tidak mampu berdiri; dan juga menganti puasa dengan makanan bagi wanita yang menyusui dan orang-orang lanjut usia.

Keempat, kemudahan dengan mendahulukan atau mengakhirkan, seperti dibolehkannya menjama’ taqdim atau ta`khir bagi musafir; juga menunda melaksanakan kewajiban dari waktunya bagi orang yang tidak bisa melaksanakan pada waktu sebagaimana pada orang yang sakit di bulan ramadhan.

Kelima, kemudahan dengan menganti bentuk ibadah yang wajib, seperti kondisi dalam shalat khauf (Lihat semua bentuk itu dalam Al-Asybaah Wan Nazhaair oleh Asy-Suyuthiy, hal 82).

Adapun keringanan berkampanye dengan dangdutan, ngerock, dan ngepop itu adalah hukum talfiq yang tidak pernah seorang ahli fiqh pun pernah memfatwakannya. Ya yang memfatwakannya dalah orang-orang yang bodoh mengenai syariah. Sehingga sesat dan menyesatkan. Wallahu a’lam bisshowab [Oleh: Ust. Ibnu Luthfie Attamany]

Fadli Rahman Hamasah \d[^o^]b/