Oleh : Agus Supriyadi

Alangkah bijaknya bila kita berbaik sangka kepada mereka yang bersuara keras itu. Mereka-mereka yang merespon lebih itu, hanya kecewa atas orang-orang yang mereka anggap alim (berilmu), ternyata berbuat salah. Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa kekecewaan itu berbanding lurus dengan harapan. Jadi, kekecewaan yang tinggi itu didasari oleh sebuah harapan (baca: cinta) yang tinggi pula pada PKS. Saya teramat yakin dan percaya, bahwa kader-kader PKS itu bisa dan sangat mampu untuk berbaik sangka kepada saudaranya

Kader PKS itu memang didoktrin untuk berbaik sangka selalu, mereka hanya percaya dengan ta’limat resmi (berita resmi yang disebar secara topdown dari pimpinan, persis militer)

Ini akan baik-baik saja sejatinya, tapi akan menjadi masalah, karena petinggi-petinggi mereka main “receh” dan “menjual” kesetiaan kader dan konstituen. Lalu hidup bermewah-mewahan, seolah-olah kondisi hari ini sudah seperti jaman sahabat yang seluruh rakyatnya telah menjadi muzzaki

Sadar atau tidak, akrobatik politik petinggi PKS malah dimaknai sebagai suatu yang heroik dan luar biasa sebagai bagian dari taktik dan strategi yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang khusus saja, ibarat manuver Nabi Khidir as yang mana Nabi Musa as pun tidak bisa mencerna jalan logikanya. Tapi sayangnya, Nabi Khidir hanya seorang pengembara, tidak punya rumah dengan alamat yang jelas apalagi istana megah dengan segala aksesorisnya

Saudaraku, ini bukan soal kaya atau miskin, bukan soal mendapat ‘jatah kursi’ atau tidak, bukan soal punya rumah megah dan mobil mewah atau tidak, bukan pula karena kecewa dan sakit hati tanpa alasan yang syar’i

Tetapi ini tentang bagaimana menjaga prinsip dakwah kita. Tentang bagaimana kita dapat menjaga asholah da’wah (kemurnian da’wah), agar tetap lurus pada track-nya. Tidak menelikung tajam, tidak bias dan tidak pula tersamarkan. Ini tentang bagaimana kita dapat menjaga keistiqomahan pada tujuan tarbiyah dan cita-cita awal dakwah kita. Bukan cita-cita mengejar kekuasaan dan mengukur kemenangan dakwah dengan perolehan jumlah kursi

Saudaraku, sering saya jumpai banyak kader berkata: “Kami adalah jamaah manusia. Bukan jama’ah malaikat”. Maka saya sampaikan kepada antum; “Ya..! Benar sekali saudaraku, kita ini memang jamaah manusia yang tentu saja sangat berpotensi melakukan kesalahan. Namun saya ingin bertanya kepada antum, “Siapakah yang dapat mengetahui-memahami bahwa potensi kesalahan itu terjadi-dilakukan oleh para qiyadah? Apakah antum mengetahui ya akhi? Apakah murobbi antum mengetahui? Bukankah selama ini kader hanya bersikap taat 100%? menganggap semuanya baik-baik saja tanpa cela?” Semoga saja antum tidak menganggap bahwa qiyadah antum adalah malaikat, meskipun tetap meyakini bahwa mereka tetaplah seorang manusia. Fa’ tabiruu yaa ulil abshoor

Sebelum digantung mati, Sayyid Quthb ditanya oleh seorang algojo yang akan mengeksekusinya. “Bersyahadatlah karena kau akan digantung”. Sayyid Quthb hanya terdiam. Algojo itupun kembali memerintah, dan Sayyid Quthb masih diam. Sampai pada pertanyaan ketiga, Sayyid Quthb balik bertanya. “Kau tahu kenapa aku dihukum mati?”. Algojo itu bergeming. Dan Sayyid Quthb melanjutkan, “Karena aku sudah bersyahadat tidak hanya dengan lisan, tapi dengan seluruh jiwa dan ragaku”. Dan pada detik itu dengkul algojo itu bergetar

Jika hari ini ‘kader kecewa’ dan ‘barisan sakit hati’ menjadi istilah baru yang disematkan kepada saudara sesama muslim. Maka saya kembali bertanya kepada antum ya akhi, Tahukah engkau kenapa kami kecewa dan sakit hati? Apakah antum ingin seperti seorang Algojo yang mengeksekusi mati Ustadz Sayyid Qutbh tanpa memahami kenapa ia digantung?? Wallahu musta’an

Jika ada hamba Allah yang ingin menjaga asholah dakwah (kemurnian dakwah) dan menjaga manhajnya, serta merindukan tegaknya syari’at dibumi miliki Allah ini lalu dikatakan sebagai “kader kecewa” dan “barisan sakit hati”. Maka dengan tegas saya katakan kepada antum, inilah kami!! Lalu siapakah antum??

Saudaraku, sudah cukup lama umat ini berada diluar “Kotak Islam”-nya. Sudah sepantasnyalah kita mengembalikan diri kita dan keluarga kedalam “Kotak Islam” yang didasari ilmu (Alquran, Sunnah dan Shiroh Sahabat). Yang meyakini bahwa Islam adalah rumah aslinya

Kita teringat ungkapan sebuah syair; “Bapakku adalah islam, dan tidak ada bapakku yang lain, kendati orang-orang bangga dengan kabilah Tamim dan Hasyim”

Syaikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah –Allahu Yarham- mengingatkan kepada kita, “..Jangan sampai nanti orang-orang tarbiyah dibenci gara-gara orientasi kekuasaan. Dia tidak boleh berbangga dengan bangunannya, lalu tertidur-tidur tidak pernah mengurus urusan hariannya. Tetap ia harus kembali pada akar masalahnya, akar tarbiyahnya, mahabit, tempat kancah dia dibangun..”

Yaa muqallibal quluub, tsabbit qolbi ‘ala diinik, Allahumma musharrifal quluub, sharrif quluubana ‘ala thaa’atik

Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu, Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu Amiin Ya Allah, Ya Rabbal ‘aalamin..

Ahsanta, syukron jazakumullah khoiron katsiiron kepada semua ikhwah yang tidak bosan menginspirasi dan memberi semangat kepada saya. Uhibbukum fillah

Bekasi, 20 September 2011, 19:08 Waktu Indonesia Beriman

Mari menatap masa depan dakwah yang lebih baik..