The Protection of  Whistleblower as Justice Collaborato

International Workshop on The Protection of Whistleblower as Justice Collaborator, Arya Duta Jakarta 19-20 Juli 2011. Pengalaman yang disampaikan pembicara dari Amerika, Australia, Italia, Belanda dan Jepang benar-benar disimak dengan baik oleh Perwakilan Polda, Pengadilan Tinggi, Kejati Se-Indonesia, Satgas Anti Mafia Hukum dan LPSK.

***

Workshop ini membahas tentang perlindungan terhadap saksi yang mau bekerjasama untuk membongkar kasus besar, seperti Susno Duaji. Workshop ini diakhiri dengan penandatangan MoU oleh Kapolri, Kejagung, MA dan LPSK.

***

Whistleblower secara harfiyah memiliki arti “peniup peluit”, dalam konteks ini, dia menjadi orang yang membuka semua kasus yang dia ketahui, istilah ini sempat marak ketika kasus Susno Duaji (mantan Kabareskim Polri). Pengungkap Informasi rahasia. Tapi definisi subtantifnya, whistle blower memiliki arti orang yang mengungkap suatu kasus dimana dia terlibat didalamnya.

***

Contoh lain adalah kasus mafia pajak ‘gayus tambunan’, ia merasa dirinya adalah whistleblower, dia berperan untuk mengungkap kasus pajak. Dan karenanya, dia meminta di perlakukan sebagai whistle blower, bukan tersangka.

***

Whistleblower adalah seseorang yang menimbulkan kekhawatiran tentang dugaan kesalahan yang terjadi dalam suatu instansi atau pemerintah atau badan pemerintah atau perusahaan swasta atau organisasi atau lembaga yang diharapkan, oleh masyarakat luas, harus beroperasi dalam batas-batas hukum.

***

Dugaan pelanggaran dapat diklasifikasikan dalam banyak cara, misalnya, sebuah pelanggaran terhadap hukum , aturan, peraturan dan/ atau ancaman langsung terhadap kepentingan publik , seperti penipuan , kesehatan / pelanggaran keamanan, dan korupsi .

***

Whistleblower dapat membuat tuduhan secara internal (misalnya, untuk orang lain dalam organisasi dituduh) atau eksternal (untuk regulator, penegak hukum, kepada media atau kepada kelompok-kelompok terkait dengan isu-isu).

***

Saat ini, mulai ada pembahasan terkait perlindungan terhadap “pencuri kecil” karena bersedia membongkar “pencurian besar”. Memang benar, bagaimana kita dapat memberantas korupsi jika “Pencuri kecil diperlakukan sama dengan “Pencuri Besar”, padahal pencuri kecil ini telah berani berkorban untuk membongkar pencurian yang besar.

Semoga MoU tersebut tidak hanya sekedar seremoni belaka..!!

Purwokerto, 25 Juli 2011. Pukul: 21:30-22:17 Waktu Indonesia Beriman (Insya Allah)

Fadli Rahman Hamasah

 Inspirasi: Dr. Arif Awaludin, S.H, M.H & Irfan Reza Kurnianto, S.IP (Kajian Stratejik Ketahanan Nasional Univ. Indonesia)