OLEH : AGUS SUPRIYADI

Ini masalah lama, sebagian kader PKS tidak bisa membedakan mana masalah individual mana masalah publik. Padahal nash dan contoh dari para salafush shalih memperlihatkan adanya perbedaan perlakuan antara kedua domain itu.

Saya ambil contoh, kalau seorang akh (misalnya) minum tuak (ingat ini hanya misal) di dalam rumahnya, dan saya tahu itu, maka saya tidak boleh mengumbar itu ke muka umum, kecuali memang ada kebutuhan yang dibenarkan oleh syar’i. Seperti misalnya beliau mengkhitbah keluarga saya, atau diminta oleh hakim.

***

Silahkan baca Riyadhus Shalihin, Bab: Ghibah Yang Diperbolehkan. Saya rasa untuk hal ini dalil-dalilnya sudah sangat jelas, tidak perlu saya paparkan lagi di sini.

Tapi kalau ada pemimpin (ini juga misal) menyuruh jundi-jundinya untuk mengelus-elus mobil orang, dan membayangkan kemewahan, maka itu sudah salah banget, dan harus diberi tahu kepada siapapun yang sebelumnya pernah membaca taujih beliau bahwa itu salah. Karena taujih beliau sudah nyebar ke mana-mana, maka tentu saja pemberitahuan juga harus menjangkau seluas mungkin. Kalau hanya didatangi ke orang ybs, lalu kita nasehati, lantas bagaimana dengan ribuan atau mungkin jutaan orang yang sudah terpapar pemikiran salah itu?

Tentu ketika kita kritik ini harus dengan sandaran syar’i, bukan karena like and dislike. Jelas di dalam Quran tercantum:

“Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka” (QS Al Hijr:88).

***

Kita jelaskan juga pemahaman salaf-nya. Misalnya dari tafsir Imam Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa ayat ini melarang seseorang mengidamkan apa yang dimiliki oleh sahabatnya. Jadi jelas banget taujih pemimpin yang menyuruh jundinya untuk membayangkan harta orang itu adalah salah, dan sungguh binasa kita kalau tidak mengingatkan ini.

Itu semua harus kita jelaskan secara ilmiyah dan terbuka, sehingga bisa dibaca oleh siapa saja, karena kita tidak tahu lagi sudah berapa juta orang yang terpapar pemikiran yang salah itu. Bisakah ini disebut membuka aib pemimpin? Ghibah yang dilarang?

Kalau kita perhatikan praktik pada generasi terbaik umat ini, keadaannya juga demikian. Mari kita perhatikan dua contoh hadits dan atsar shahih ini.

Dalam hadits Arba’innya, Imam Nawawi menukil sebuah hadits dari shahih Muslim, sbb:

Thariq bin Shihab radhiyallahu ‘anhu berkata: Adalah Marwan yang memulai praktek menyampaikan khutbah sebelum shalat Id. Seorang laki-laki berdiri dan berkata: “shalat (Id) harus mendahului khutbah.” Marwan menjawab: “Yang demikian itu telah ditinggalkan.” Atas hal ini, Abu Said berkata: “orang ini sudah melaksanakan kewajibannya.” Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran (hal yang keji, buruk), maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau masih tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.

***

Bukankah nasehat itu juga menunjukkan kesalahan saudaranya (seorang umaro – khalifah Marwan) di depan orang lain? Beranikah kita menuduh sahabat-sahabat Nabi menyebarkan aib? Apa yang terjadi kalau para sahabat ketika itu diam saja, karena mau tabayyun dulu ke khalifah Marwan, bisa-bisa hingga hari ini sebagian dari kita melakukan bid’ah dholalah, berkhutbah sebelum shalat ied. Na’udzubillah.

Contoh lain dari pengingkaran terbuka pada masa salafush shalih. Suatu ketika khalifah Harun Al Rasyid datang ke Madinah, ia merasa sungkan menaiki mimbar Nabi dengan pakaian resmi kerajaannya yang khas, maka Qadhi Abu al Bakhtari secara spontan menyebutkan suatu hadits bahwa Nabi pernah memakai pakaian tersebut. Pada saat itu di tengah-tengah mereka hadir Yahya bin Ma’in, lalu ia mempermalukan Qadhi tersebut di depan khalayak ramai dengan mengatakan bahwa perkataan itu adalah dusta. (Fitnah Kubro, Prof Muhammad Amhazun, Tarjamah Dr Daud Rasyid)

Bukankah itu juga menunjukkan kesalahan saudaranya (seorang qadhi) di depan orang lain? Beranikah kita menuduh Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah membuka aib orang? Kalau saja imam Yahya bin Ma’in bersikap seperti oknum kader yang katanya mau tabayyun dulu kepada sang qadhi, agar perbuatan salah sang qadhi tidak tersebar, dan menasehati sang qadhi diam-diam, maka mungkin bertambah pula satu hadits palsu yang jadi bagian dari agama kita hari ini.

Ada riwayat-riwayat lain yang juga senada dengan hal ini. Intinya, kalau kesalahan itu terbuka, dilakukan orang itu secara terbuka, maka juga harus dikritik secara terbuka pula. Ini berbeda perlakuannya dengan kesalahan individual, di mana berlakulah aturan-aturan tabayyun, tidak menyebar kabar, menutupi aib saudara, dst.

Tentu saja itu tetap dalam kerangka saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (QS Al Ashr: 3) dan dalam kasih sayang (Al Balad: 17).

Kita tidak boleh mencari-cari dan mengintip-ngintip kesalahan orang, meskipun dalihnya nasehat. Dalam Ihya Ulumuddin jilid 3, tentang kaidah hisbah, Imam Al Ghazali rahimahullah menjelaskan: Hendaklah kemungkaran tersebut zahir (jelas) kepada ahli hisbah tanpa perlu melakukan pengintipan. Barang siapa yang menutup sesuatu kemaksiatan di dalam rumahnya, dan mengunci pintunya maka tidak boleh untuk kita mengintipnya.

***

Maka ketahuilah bahwa barang siapa yang mengunci pintu rumah dan bersembunyi di balik dindingnya, maka tidak boleh seseorang masuk tanpa izin daripadanya hanya karena ingin mengetahui perbuatan maksiat. Kecuali jika ia nyata sehingga diketahui oleh siapapun yang berada di luar rumah tersebut.

Syaikh Al Qaradhawi hafizhahullah juga menyebut perkara yang sama dalam Min Fiqh ad-Daulah fil-Islam: Kemungkaran itu mesti nyata dan dilihat. Adapun jika pelakunya melakukannya secara sembunyi dari pandangan mata manusia dan menutup pintu rumahnya, maka tidak seorang pun boleh mengintipnya atau merekamnya secara diam-diam dengan menggunakan alat elektronik atau kamera video atau menyerbu rumahnya untuk memastikan kemungkarannya. Inilah yang ditunjukkan pada lafaz hadits (tentang Marwan di atas): “Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya”.

Berkata Imam Mujahid rahimahullah: Ambillah apa yang nyata, dan tinggalkan apa yang Allah tutup.

Sebagian kader PKS saya lihat tidak bisa membedakan ini. Sehingga kalau ada pernyataan publik petinggi PKS di ranah publik yang sumir dan kemudian terkonfirmasi itu shahih (misalnya dimuat di website PKS), maka alih-alih melihat itu dengan sandaran nash, mereka memperlakukannya layaknya itu kesalahan individual yang layak ditutupi aibnya, harus ditabayyuni langsung, dst. Nanti kalau sudah jadi ‘umaro Indonesia (Presiden RI), bagaimana pula caranya rakyat tabayyun langsung itu?

***

Kalau kita melihat kemungkaran, tapi kita tidak mengingkarinya sesuai kemampuan kita tanpa adanya mudharat yang sangat besar yang membahayakan umat Islam, maka takutlah kita akan terjebak kepada kebinasaan seperti halnya Bani Israil, yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Quran,

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al Maa’idah: 78-79)

Terkadang muncul pula argumen, bahwa kewajiban kita hanya taat, sementara qiyadah itu akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah. Salah besar kalau mengira bahwa kita tidak mempertanggungjawabkan ketaatan (tanpa kefahaman) itu kepada Allah.

***

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya manusia apabila mereka telah melihat kemungkaran, namun mereka tidak berusaha mengubahnya, maka hampir Allah akan menjatuhkan hukuman-Nya kepada mereka semua—yang melakukan kemungkaran dan yang melihatnya namun tidak berusaha merubahnya”. (HR Ibnu Majah)

Sungguh yang saya lihat mereka lakukan adalah berdebat untuk membela kelompok dan pemimpinnya. Sekuat apapun hujjah, seshahih apapun dalil, sejelas apapun fiqih salaf-nya, mereka tetap akan memberikan ‘perlawanan’ kalau yang dikritik itu adalah pemimpin mereka, meskipun itu hal yang sifatnya amat terbuka.

***

“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa”. (QS An-Nisaa’: 107)

“Orang yang paling dibenci Allah ialah pembantah yang mencari-cari alasan untuk memenangkan pendapatnya.” (HR Muslim)

Ada pula yang menyatakan bahwa kritik di blog atau facebook ini tidak bisa diterima, karena epistemologinya bermasalah. Entah mengerti atau tidak orang itu terhadap istilah epistemologi (ilmu tentang ilmu). Posisi saya di sini bukanlah bagian dari rantai isnad sebuah berita. Sebagian (amat) besar dari berita yang ada di sini adalah berita yang sudah terbuka, bahkan bersumber dari sumber pertama (seperti website PKS). Ketika saya kritik, sandaran kritik saya jelas, saya sebut nashnya. Lalu muncul bantahan “Oh, itu dari fulan yang tidak dikenal, bisa saja ada orang kafir lalu mensyarah hadits shahih seenak perutnya, apa lalu kita terima?”. Itu salah satu bantahan yang pernah saya baca. Tapi kalau syarah atau tafsir atau fiqh atas sebuah nash (entah Quran atau sunnah) itu saya ambil dari kitab-kitab ulama yang muktabar, masa tidak diterima juga? Mudah-mudahan mereka tidak selancang itu dalam bersikap terhadap thurat warisan para ulama umat ini.

***

Dasar kritik jelas, nash yang saya gunakan jelas, dengan pemahaman dari salafushshalih sebagai generasi terbaik, saya ambil dari kitab-kitab ulama muktabar, bukan hanya kira-kira saja. Itu sebetulnya sudah sangat cukup untuk orang yang memang mencari ilmu dan kebenaran, bukan untuk berdebat. Saya bukan orang yang senang berdebat-debat kusir, kalau saya mempertahankan pendapat saya di blog itu, semata karena saya meyakini apapun yang saya yakini saat itu berdasarkan kebenaran dari Quran dan sunnah, untuk menolong agama Allah. Apalagi kalau yang mendebat saya cuma memakai logikanya semata, atau perhitungan-perhitungan politik. Kalau yang mendebat itu bisa memaparkan dalil yang lebih shahih, pemahaman yang lebih benar, maka saya tidak segan untuk merujuk kepada pendapat itu.

Mudah-mudahan saya terhindar dari menjadi pembantah yang mencari-cari alasan untuk memenangkan pendapatnya. Wallahu a’lam.

*) Inspirasi : Samil dan Dodi Suhendra (Ahsanta Jazakumullah Khoiron Katsiiron)