Sebuah uraian dari Ust Sigit Pranowo, Lc Al-Hafidz (jazaahullahu khayran) di situs Eramuslim hari ini juga sangat relevan dengan kondisi (kader) dakwah khususnya di jama’ah ikhwan hari ini, dan kader dakwah di mana pun secara umum. Saya berikan pengantar ini sekedar secukupnya menambahkan dari apa yang saya pandang penting. Selamat membaca.

Assalam’alaikum wr. wb.


Bagaimana cara merenungkan kembali arti menjadi kader dakwah?


esa

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Saudara Esa yang dimuliakan Allah -Subhanahu wata’ala-

Jalan da’wah adalah jalan Rasulullah saw. Ia adalah jalan mulia yang menunjukkan umat ini kepada hidayah Allah swt. Ia adalah jalan yang bertujuan mengeluarkan hamba-hamba-Nya dari penyembahan kepada hamba menjadi penyembahan kepada Tuhan hamba.

Ia adalah jalan yang mempersatukan seluruh hamba-Nya yang beriman didalam satu ikatan ukhuwah imaniyah. Dan ia adalah satu-satunya jalan untuk merealisasikan undang-undang-Nya di bumi ini hingga islam dirasakan oleh semua makhluk sebagai rahmat Allah bagi mereka.

Firman Allah swt :

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ


Artinya :
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf : 108)

Ia adalah jalan yang tidak mungkin ditempuh dengan sendiri-sendiri betapa pun kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya. Ia adalah jalan yang mampu mengumpulkan orang-orang yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk Allah swt demi kejayaan agama-Nya.

Hati mereka tidaklah disatukan oleh ikatan-ikatan semu. Mereka tidaklah diikat oleh harta yang dimilikinya, gelar yang disandangnya, jabatan yang dipikulnya maupun kemasyhuran yang menghiasinya akan tetapi hati mereka bersatu karena kecintaannya kepada Allah dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi-Nya.

Mereka adalah orang-orang yang bertemu dan berpisah, bercinta dan membenci seseorang karena Allah. Mereka meyakini bahwa kekokohan dan soliditas bangunan kebersamaan (jama’ah) dilandasi oleh kesetiaan kepada manhaj Allah, kejujuran didalam merealisasikannya serta jihad dijalan-Nya, sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيَانٌ مَّرْصُوصٌ ﴿٤﴾

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaff : 2 – 4)

Da’wah yang mereka lakukan tidaklah ditaburi oleh bunga-bunga yang harum semerbak akan tetapi dengan semak dan duri karena adanya pertentangan yang jelas antara yang hak dan yang batil, antara nilai-nilai ilahi dan nilai-nilai setan.

Sayyid Qutb didalam menafsirkan ayat 108 surat Yusuf mengatakan bahwa makna “dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” adalah kemusyrikan yang nyata maupun yang tersembunyi. Inilah jalanku (Nabi, pen) dan orang-orang yang berkehendak mengikutiku. Dan barangsiapa yang tidak berkehendak maka aku akan tetap berjalan diatas jalanku yang lurus.

Para kader da’wah yang menyeru kepada Allah hendaklah memiliki keunikan. Mereka harus menyatakan bahwa mereka adalah umat yang satu, berpisah dari orang-orang yang tidak seakidah dengan aqidah mereka, tidak menapaki jalan mereka, tidak tunduk kepada pemimpin mereka dan mereka memiliki kekhasan dan tidak bercampur !

Tidaklah cukup para kader da’wah hanya menyeru kepada agama mereka (islam, pen) sementara mereka bersenang-senang didalam masyarakat jahiliyah. Dan da’wah yang seperti ini tidaklah ada nilainya sedikit pun! Sesungguhnya keharusan mereka sejak hari pertamanya adalah mengumumkan bahwa mereka adalah sesuatu yang lain yang bukan jahiliyah, mereka memiliki keunikan dengan perkumpulannya yang diikat oleh akidah yang khas dengan titel kepemimpinan islam.

Mereka haruslah membedakan diri mereka dari masyarakat jahiliyah serta membedakan pemimpin mereka dari pemimpin masyarakat jahiliyah juga!

Selanjutnya beliau mengatakan bahwa orang-orang yang mengira bahwa mereka akan mencapai tujuannya dengan cara berbaur didalam masyarakat jahiliyah, dengan nilai-nilai jahiliyah dan berbagai tipu daya yang melenakan melalui masyarakatnya dan dari situasi dan kondisi seperti itu muncul da’wah islam… maka sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui tabiat aqidah ini dan tidak mengetahui bagaimana seharusnya mereka mengetuk hati!.. Sesungguhnya para pendukung atheis sendiri telah menyingkap ciri-ciri, jati diri dan wajah mereka? Lalu mengapa para kader da’wah yang menyeru kepada islam tidak mengumumkan jati diri mereka yang khas? cara mereka yang khas? Dan jalan yang jelas-jelas berbeda dengan jalan jahiliyah? (Fii Zhilalil Qur’an juz IV hal 2034)

Dari apa yang dipaparkan Sayyid Qutb diatas tampak bahwa setiap kader berkewajiban mengawal dan mengarahkan da’wah ini untuk tetap berpegang teguh dengan keunikan yang dimilikinya, keunikan didalam tujuan, sarana serta prinsip yang digunakannya.

Artinya bahwa setiap kader da’wah harus betul-betul menjaga kesucian da’wah ini dari berbagai kepentingan rendah duniawi demi mendapatkan keredhoan Allah swt di akherat. Hal inilah yang ditegaskan oleh Imam Al Banna dalam risalah “Da’wah Kami”.

Beliau mengatakan,”Kami menginginkan bersama ini agar kaum kami—seluruh kaum muslimin adalah kaum kami—bahwa da’wah kami adalah da’wah yang bersih dan suci. Ia adalah da’wah yang tinggi didalam kesuciannya hingga melampaui berbagai ambisi pribadi, menghinakan kepentingan materialistis, meninggalkan dibelakangnya berbagai hawa nafsu. Ia adalah da’wah yang melangkah ke depan di jalan yang telah digariskan oleh Yang Maha Benar dan Maha Tinggi untuk para dai yang menyeru kejalan-Nya :

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ


Artinya :
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf : 108)

Maka kami tidaklah pernah meminta sesuatu pun dari manusia, tidak menuntut harta mereka, tidak meminta balasan mereka, popularitas mereka dan tidak juga menginginkan imbalan maupun ucapan terima kasih. Sesungguhnya balasan kami dalam hal ini hanyalah dari Yang telah menciptakan kami. (Majmu’atur Rosail hal 17)

Untuk itu setiap kader da’wah haruslah menempatkan wala’ (loyalitas) nya pertama kali kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman yang senantiasa ruku’, sujud dan tunduk dengan segala aturan Allah swt. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti kebenaran bukan mengikuti orang-orang yang mengatakan kebenaran. Karena kebenaran adalah sesuatu yang abadi, tetap dan tak berubah-ubah sementara orang-orang yang mengatakan kebenaran ada kemungkinan mengalami perubahan dari nilai-nilai kebenaran yang pernah dikatakan. Karena itulah Allah swt menyinggung orang-orang yang seperti ini didalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ


Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash Shaff : 2)

Wallahu A’lam