Syaikhul PKS, Anis Matta berkata:

“Sering-seringlah datang ke tempat-tempat mewah, jalan-jalan saja untuk memperbaiki selera.”

“Hiduplah dengan hidup gaya orang kaya. Orang kaya itu optimis.”

Muraqib Am ditanya oleh kader. Kadernya protes, “Ustadz Hilmi anggota dewannya sudah mulai pada borju semuanya”. Di jawab oleh Ustadz Hilmi, “Mereka tidak borju Cuma menyesuaikan penampilan dengan lingkungan pergaulannya”.

“Nah itulah ide tentang strategic partnership. Bagaimana meperbesar aset dengan mangakumulasi aset orang digabung jadi satu. Konsep itu adalah konsep pendayagunaan. Ini bukanlah konsep suatu antitesa yang harus kita pertentangkan dengan konsep muamarah, konspirasi yang selalu kita pelajari dalam ghazwul fikri. Sebab dulu kita menganggap televisi sebagai ghazwul fikri tetapi sekarang menjadi shahib pemilik ghazwul fikri, yang setiap hari menyebarkan ghazwul fikri itu. Yang bangun gedung kita dia pula. Setiap hari kita bikin doktrin ghazwul fikri dan yang kasih gedung kita dia.”

“Ada ikhwah masuk tadinya anggota dewan, gak punya mobil, sekarang punya mobil 2,3,5 dan seterusnya, orang2 yang ikut nyumbang itukan lihat begitu, ah, kau sudah sejahtera sekarang.”

“Makanya saya menyebutkan waktu di cibubur, bahwa cita-cita kita itu ada tiga : satu politik, yang kedua dakwah yang ketiga peradaban.”

Untaian kata di atas shahih dari Bpk Anis Matta, dan tentu saja dianggap sebagai bagian dari “manhaj dakwah” oleh sebagian kader PKS. Biasanya dengan argumen “Memangnya orang Islam tidak boleh kaya?”, “Memangnya orang Islam tidak boleh optimis?”

 Oh, tentu saja sangat boleh, karena banyak sekali aturan syari’ah yang hanya bisa dijalankan kalau kita punya uang. Tapi ikut-ikutan kelakuan jahiliyah untuk berselera mewah? Ikut-ikutan bergaya orang kaya padahal kakus pun tidak punya? Lalu beralasan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulan? Well, teladan kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para amirul mukminin yang empat radhiyallahu ‘anhum, khalifah “kelima” Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, dan banyak orang sholeh lainnya, mereka tidak jalan-jalan ke tempat mewah untuk memperbaiki selera, mereka tidak hidup dengan gaya orang kaya, tidak sering makan enak (apalagi kalau di negeri mereka banyak orang lapar), tidak menyesuaikan penampilan dan tidak bersintesa dengan orang fajir atau penyebar ghazwul fikri. Mereka tidak melakukan itu, dan tidak pula mengajarkan itu kepada umat mereka. Apalagi mendadak kaya setelah menjabat sampai punya mobil 2, 3, dan 5, itu lebih-lebih tidak pernah diajarkan lagi oleh panutan-panutan kita itu.

Sayangnya, sejelas2 itu “bermasalahnya” ajaran beliau ini, diterima bulat-bulat oleh sebagian kalangan kader. Dianggaplah itu sebagai pandangan Islam tentang harta, na’udzubillah. Padahal gagasan-gagasan itu diusung di dalam sebuah frame jama’ah minal muslimin, jama’ah ikhwan di Indonesia. Sehingga kemudian muncul pandangan miring sebagian kalangan tentang manhaj dakwah ini. Padahal tidak demikian para asatidz perintis dakwah ini mengajarkan.

Mereka sudah menjelaskan bahwa jalan dakwah itu memang tidak mulus, bukan di atas karpet merah bertabur mawar di hotel-hotel mewah. Mursyid ‘Amm kelima jama’ah ikhwan ‘alami Syaikh Mushthafa Masyhur rahimahullah menjelaskan, “Bahwa jalan dakwah tidak ditaburi bunga-bunga harum, tetapi merupakan jalan sukar dan panjang. Sebab antara yang haq dan batil ada pertentangan nyata. Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera, tanpa putus asa dan putus harapan”. (buku Fiqh Dakwah, bab “Penjelasan Umum Sekitar Jalan Dakwah”)

Dakwah juga harus dilakukan dengan keikhlasan, tanpa embel-embel upah atau ketenaran atau mobil 2, 3 dan 5. Ketika keikhlasan mulai “terganggu”, biasanya mulai muncul berbagai penyimpangan dalam dakwah. Syaikh Mushthafa Masyhur rahimahullah menjelaskan, “Demikian penting keikhlasan dalam berdakwah sehingga Imam Hasan Al Banna rahimahullah menjadikannya salah satu bagian dari arkanul bai’ah. Menurut beliau, pengertian ikhlas ialah menunjukkan semua ucapan, amal dan jihadnya hanya kepada Allah semata. Karena mencari ridha dan kebaikan pahalaNya tanpa mengharapkan keuntungan, popularitas, kehormatan dan reputasi. Dengan keikhlasan ini seseorang akan menjadi pengawal fikrah dan aqidah, bukan menjadi pengawal kepentingan dan keuntungan.” (Fiqh Dakwah, bab “Bentuk-Bentuk Penyimpangan Dakwah”)

Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah berkata, “Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta benda atau imbalan yang lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih. Hal yang kami harapkan hanyalah pahala dari Allah, Dzat yang telah menciptakan kami.” (buku Risalah Pergerakan, bab “Dakwah Kami”)

Syaikh Sayyid Quthb rahimahullah dalam Az Zhilal berkata, “Mereka haruslah membedakan diri mereka dari masyarakat jahiliyah serta membedakan pemimpin mereka dari pemimpin masyarakat jahiliyah juga! Orang-orang yang mengira bahwa mereka akan mencapai tujuannya dengan cara berbaur didalam masyarakat jahiliyah, dengan nilai-nilai jahiliyah dan berbagai tipu daya yang melenakan melalui masyarakatnya dan dari situasi dan kondisi seperti itu muncul da’wah islam..maka sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui tabiat aqidah ini dan tidak mengetahui bagaimana seharusnya mereka mengetuk hati!”

Syaikh Yusuf al-Qaradhawi hafidzahullah dalam Fiqih Prioritas menjelaskan, “Bahwa di antara ukuran yang patut dipedomani untuk menjelaskan mana yang lebih patut dan utama untuk dipelihara, dan mana yang didahulukan terhadap yang lainnya adalah perhatian terhadap urusan yang menjadi perhatian Al Quran”. Apa urusan yang menjadi perhatian Quran? Apakah politik? No. Peradaban? No. Yang paling penting di dalam Quran itu adalah aqidah tauhid. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz Dzaariyaat: 56)

Jadi kalau bukan untuk beribadah kepada Allah, kita ini tidak akan ada di dunia ini, dan para nabi dan rasul pun tidak akan diutus kecuali untuk urusan ini.

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al Anbiyaa’: 25)

Sementara Bpk Anis Matta menjelaskan cita-citanya: politik, dakwah (setelah politik) dan peradaban. Padahal Mursyid ‘Amm ketiga Ikhwanul Muslimin, Syaikh Umar al-Tilmisani rahimahullah pernah menulis, “Tetapi sangat disayangkan di saat aku menulis tulisan ini pada tahun delapan puluhan, bahwa kegiatan generasi muda yang terjun dalam medan Islam, nyaris terbatas pada bidang politik saja. Seakan-akan mereka tidak mau kembali dakwah kepada agama Allah kecuali dari arah politik.” (buku Limadza A’damuuni).

Kalau saya berkerenyit membaca pemikiran Bpk Anis Matta itu, bukan karena apa-apa, tapi karena itu jauh sekali dari apa yang saya fahami dari para perintis dakwah ini di dunia. Atau pemikiran Bpk Anis Matta ini sangat visioner, menembus batas, melebihi para masyaikh yang saya sebut di atas? Tentu keterlaluan kalau ada yang berpikiran begitu. Pemikiran Bpk Anis Matta itu bukan hal baru, sudah lama dicetuskan, lalu sudah disebar pula ke berbagai penjuru tanah air, entah melalui taujih secara langsung atau melalui tulisan/transkripsi taujih beliau, tanpa pernah ada ralat atau revisi atau nasakh atas ajaran-ajarannya itu.

Lalu bagaimana sikap para kader dakwah menghadapi ini? Saran saya, terutama kepada diri saya sendiri, perbanyaklah menuntut ilmu agar kita faham tentang ajaran agama kita yang mulia ini. Jangan tertipu oleh ajaran “Bukan Ahli Yang Kita Butuhkan, Tapi Relawan”, sebagai sandaran agar kita “mempercayakan” saja soal syar’i kepada para qiyadah dan kita tinggal beramal. Tidak demikian, kita tetap harus faham, agar kita bisa memfilter apapun yang datang kepada kita dengan ilmu, dengan sandaran Quran dan sunnah. Karena sesungguhnya Allah meninggikan orang-orang yang berilmu.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Al Mujaadilah: 11)

Agar kita juga “mengetahui”, membedakan antara yang haq, syubhat dan bathil secara tegas, tidak talbiz sesuai dengan sandaran Quran dan sunnah.

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az Zumar: 9)

Agar kita juga tahu kepada siapa kita ber-wala dan kepada siapa kita ber-baro.

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya (ber-wala), maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (Al Maa’idah: 56)

“Mereka itulah golongan (hizb) Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (Al Mujaadilah: 22)

Jangan pula lupa bahwa dalam arkanul bai’ah, yang pertama itu adalah ‘al-fahmu’. Sementara ‘amal’ itu nomor 3, ‘taat’ itu nomor 6 dan tsiqoh itu nomor 10 (faham, ikhlas, amal, jihad, tadlhiyah, taat, tsabat, tajarrud, ukhuwah dan tsiqoh). Urutan itu bukan sembarangan, tapi disusun dengan sebuah pemahaman yang mendalam akan prioritas dalam agama ini, begitu yang dijelaskan oleh Syaikh Qaradhawi (Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam, bab “Mengapa Hasan Al Banna Mendahulukan Rukun Al-Fahm?”).

Jadi jangan tertipu dengan jargon “yang penting kita ikhlas beramal, kita taat kepada qiyadah dan tsiqoh saja kepada mereka, insya Allah barokah”. Padahal yang nomor satu itu adalah al-fahmu atau faham, bukan amal apalagi tsiqoh. Bagaimana bisa barokah beramal tanpa faham? Padahal qudwah kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menjelaskan:

Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuknya kebaikan, niscaya difahamkanNya ia (orang itu) tentang agama (HR Bukhari/Muslim)

Keutamaan orang berilmu terhadap ahlul ibadah bagaikan keutamaanku terhadap orang yang paling rendah dari kalian (HR Tirmidzi, hasan shahih gharib).

Jadi pintu kebaikan yang utama itu datang dari faham, bukan dari taat kepada qiyadah. Karena untuk taat pun kita dituntut berilmu. Buktinya sbb:

Seorang muslim harus mendengar dan mematuhi perintah pemimpinnya terlepas dia setuju atau tidak, selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah, jika bertentangan maka dia tidak harus mendengarkan atau mematuhinya. (HR Bukhari)

Bagaimana cara bisa membedakan apakah perintah itu bertentangan dengan perintah Allah atau tidak? Satu-satunya jalan dengan ilmu. Mengapa di awal saya mengutip pemikiran Bpk Anis Matta, lalu kemudian saya mengakhiri pengantar ini dengan pembahasan ilmu? Karena saya lihat bahwa pemikiran-pemikiran nyeleneh itu diterima oleh sebagian kalangan sebagai “pemikiran Islam”, dan meskipun itu bukan hasil syuro tetap saja itu disebar dalam taujih-taujih dan tidak ada revisi sama sekali. Artinya, itu memang bagian dari tarbiyah atau pembinaan di jama’ah ikhwan Indonesia saat ini. Sehingga saya melihat satu-satunya jalan untuk melawan pemikiran itu adalah dengan mengajak saudara-saudara saya (terutama saya sendiri) agar kita membentengi diri dengan ilmu. Ini satu makna menjadi kader dakwah bagi saya, kader dakwah secara umum bukan hanya khusus untuk kalangan tertentu. Apalagi buat mereka yang sudah melewati tarbiyah bertahun-tahun.

Sehingga kita bisa tahu apakah pemikiran itu nyeleneh menurut standar Quran dan sunnah dan pemahaman ulama rabbaniyah atau tidak, bahkan juga agar para pembaca juga bisa memahami (entah menolak atau menerima) tulisan saya dengan pemahaman yang sama. Bukan karena like and dislike. Repotnya kadang sudah jelas-jelas nash yang ditampilkan, takhrijnya shahih, pemahaman terhadap nash diambil dari referensi kitab-kitab ulama muktabar warrabbaniyah, tertolak karena pemikiran-pemikiran politik atau peradaban atau bahkan filsafat. Padahal seberapa sih kemampuan otak kita dibandingkan dengan petunjuk Allah? Kita membenci dan mencintai sesuatu itu karena Allah. Kita menolak dan menerima sesuatu itu juga karena petunjuk Allah. Sama sekali bukan karena sentimen atau kedengkian terhadap siapapun, a’udzubillah min zalik.

Kadang dianggap bahwa saya sedang berusaha memisahkan dakwah dan politik, seperti slogan ‘Islam Yes, Partai Islam No’. Padahal saya hanya berusaha mendudukkan masalah secara benar menurut apa yang saya fahami dari agama ini.

Silahkan berdakwah dalam bidang politik, tapi tetap ingat prioritas dakwah nomor satu, tetap ingat rambu-rambu syari’ah, dan tetap ingat bahwa ini adalah jama’ah minal muslimin, yang tidak talbiz (confuse) dalam segala hal (seharusnya begitu). Jadi mau apapun, entah itu koalisi, aliansi, atau segala bentuk musyarokah apapun, sandaran paling utama adalah Quran dan sunnah, bukan pemikiran politik peradaban dan segala tetek bengek ‘isme’. Kadang saya sampai betul-betul heran, mereka itu muslim atau bukan? Mohon maaf kalau saya sampai berpikir begitu.

Sebab kalau muslim, akan membenarkan apapun yang datangnya dari Quran dan sunnah, kalaupun pemahaman belum sampai, mereka minimal akan menerima pemahaman dari ulama-ulama rabbaniyah. Tapi nyatanya, mau sejelas apapun penyimpangan, lalu di-counter dan dijelaskan dengan merujuk kepada nash, mau seshahih apapun nash-nya, sejelas apapun referensi ulama yang diambil, tetap saja tertolak oleh sebagian kalangan kader dengan argumen ala pemikiran politik dan peradaban. Ini musibah, na’udzubillah.