Nahnu Du’at Qabla Kulli Syai’in

(Kita adalah penyeru sebelum menjadi apapun)

-Syaikh Umar Tilmisani. Mursyid ‘Aam ke-3 IM-

Kontinuitas Dakwah

Dakwah tak terikat pada waktu, ruang, dan tempat. Kapanpun, di manapun, dan dalam keadaan apapun kondisi kita, tugas dakwah selalu akan menyertai. Maka, waktu 24 jam yang tersisa untuk aktivitas harian harus kita gunakan untuk dakwah, apapun bentuknya.

Perkataan Hassan Al-Banna di atas dapat menjadi cerminan, bahwa pada hakikatnya, seorang muslim adalah pendakwah. Ketika seseorang menuntut ilmu dan memiliki pengetahuan, saat itu pula ia memiliki kewajiban untuk menyebarluaskan ilmu yang dimilikinya tersebut. Ketika seseorang sadar bahwa ia telah memiliki bekal untuk mengamalkan sunnah, saat itu pula ia berkewajiban menyeru orang lain kepada Islam.

Perjuangan Islam telah berlangsung sejak 14 abad yang lalu, dan sejak itu pula perjuangan dakwah dimulai. Kita mesti ingat, wahyu kedua yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah adalah Al-Qur’an Surah Al-Muddatsir: 1-5 yang memerintahkan kepada Rasulullah untuk keluar dari selimutnya, menyeru para penduduk Mekkah yang saat itu tengah berada pada titik puncak dekadensi akidah. Sejak saat itulah peluit dakwah Islam ditiupkan, menuntut semua elemen yang tergabung dalam barisan perjuangan dakwah untuk memberikan kontribusi.

Pun sampai saat ini, perjuangan dakwah masih terus berlangsung. Sejarah telah membuktikan, semangat dakwah telah berhasil meruntuhkan istana-istana Persia yang megah di Khurasan. Ghirah dakwah telah membuka pintu gerbang Konstantinopel dari orang-orang Romawi. Dakwah telah membuka berbagai kunci yang memungkinkan Islam untuk menyebar ke segenap penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Perjuangan dakwah, disadari atau tidak, telah meneguhkan eksistensi keislaman kita sehingga identitas muslim melekat pada diri kita.

Akan tetapi, dakwah ini masih belum usai. Masih banyak yang harus diperbaiki pada lingkungan kita, ketika kita berbicara dalam konteks Indonesia. Tugas dakwah masih lebih banyak dari waktu yang tersedia. Oleh karena itu, dakwah harus dilakukan secara kontinyu oleh masing-masing individu dengan konsekuensi logis yang mungkin ditimbulkan olehnya.

Itulah sebabnya, kekuasaan bukan tujuan ketika kita berbicara mengenai dakwah siyasi. Kekuasaan hanya satu dari sekian banyak media untuk melakukan dakwah, bukan tujuan dari dakwah. Ibnu Khaldun menyatakan dalam Muqaddimah-nya, bahwa kepuasan ketika mendapatkan kekuasaan adalah salah satu indikator keruntuhan sebuah daulah (Ralliby, 1963: 242). Sikap berpuas diri, menganggap bahwa kekuasaan adalah orientasi dakwah akan berbahaya jika tidak diikuti oleh evaluasi diri dan sikap saling mengingatkan antar-aktivis dakwah.

————————————————————————————————-

Dakwah Kampus: Berpikir Besar!

Begitu pula dalam konteks dakwah kampus. Semangat dakwah harus tetap dikobarkan setiap saat, karena dakwah tidak mengenal kata “berhenti”. Seluruh lini dakwah: siyasi, ilmi, dan da’awi, harus tetap berjalan dalam keadaan apapun. Dakwah yang begitu berat –dengan kader yang sedikit atau resistensi yang kuat—harus dihadapi dengan keteguhan dan determinasi aktivisnya. Begitu pula sebaliknya, keberhasilan kader-kader dakwah dalam merebut pelbagai posisi strategis di kampus bukan menjadi alasan mandeg-nya dakwah.

Berpikir besar, itulah kuncinya. Mengacu pada David J. Schwartz, kita harus melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam aktivitas dakwah. Seorang aktivis dakwah harus melihat peluang yang ada dan merumuskan peluang tersebut menjadi sebuah keberhasilan. Jika menurut Schwartz visualisasi akan menambah nilai pada kemungkinan dan peluang tersebut, seorang aktivis dakwah patut merumuskan strategi dakwahnya sesuai kondisi yang menyertainya.

Hal lain yang disebutkan oleh Schwartz adalah berpikir kreatif. Jika kita kaitkan dengan konteks dakwah kampus UGM yang terbagi atas empat rumpun, maka dakwah juga harus disesuaikan dengan karakteristik keempat rumpun tersebut. Rumpun FAKES berkarakter professional, SOSHUM berjiwa politis, BGST bertindak teknis, dan AGRO lebih populis. Karakteristik yang berbeda tersebut kemudian membawa para aktivis dakwah kepada sebuah perumusan strategi yang tepat untuk dijadikan ujung tombak dalam beraktivitas. Hal ini yang membuat seorang aktivis harus mengenal lahan dakwahnya sendiri (ta’rif al-maydan).

Tak ada yang dapat dan berhak mengklaim bahwa ukuran keberhasilan dakwah adalah ukuran-ukuran kuantitatif atau ukuran-ukuran yang kasat mata. Keberhasilan dakwah kampus adalah jika dakwah ini telah diridhai oleh Allah. Dengan demikian, hanya pertolongan dan hidayah Allah-lah yang akan menolong kita menghadapi konsekuensi-konsekuensi dakwah tersebut. Jika ghirah dakwah melemah ketika bangunan dakwah kampus telah berkembang dengan pesat, maka tunggulah: Bangunan itu akan segera runtuh.

Oleh karena itu, ketika berbicara mengenai dakwah kampus, mari berbicara dalam konteks “kita”. Ini amal jama’i, harus dilakukan secara kolektif. Kemenangan berbagai lini dakwah hanya bisa tercapai jika semua elemen dakwah terkonsolidasi dalam satu barisan: Kritis dan strategis. Maka, keberpihakan seseorang dalam jama’ah serta ketaatan dengan hasil syuro menjadi sangat penting demi eksistensi dakwah.

Kelurusan niat juga penting dalam agenda-agenda dakwah. Sungguh menarik jika kita menyimak pesan Ustadz Rahmat Abdullah dalam film “Sang Murabbi” yang ditampilkan dalam trailer-nya. Jangan sampai nanti orang-orang tarbiyah dibenci karena orientasi kekuasaan. Tetaplah istiqomah dengan akar dakwah dan tarbiyahnya, akar di mana ia dibentuk”. Ungkapan Ustadz Rahmat tersebut dapat dimaknai sebagai adanya indikasi kefuturan jika aktivis dakwah telah menggeser orientasi dakwahnya. Ini juga bagian dari proses berpikir besar tersebut.

Di sini kita kemudian memahami, bahwa kekuasaan atau kepentingan sesaat yang dapat diukur secara materialistik bukan tujuan dakwah kampus. Tujuan dakwah, jika kita lakukan dengan proses berpikir besar, jauh lebih luas daripada itu: Ridha Allah. Sebuah proses berpikir yang kritis, strategis, serta dengan orientasi yang jelas takkan memutuskan aktivitas dakwah ini hanya karena sebuah tujuan jangka-pendek telah terpenuhi.

Artinya, lembaga dakwah kampus hanyalah salah satu dari media untuk berkontribusi dalam dakwah, bukan media untuk mengejar kepentingan sesaat. Membangun masyarakat akademis yang Islami di kampus hanya salah satu bagian dari perjuangan yang mesti dijalankan secara jama’I dengan satu kata kunci: Berpikir Besar! Tujuan dakwah ini sebenarnya lebih luas dan lebih besar dari pada hanya sekedar kemenangan sesaat. Kemenangan besarlah yang kita nanti, dan itu harus dimulai dari sebuah proses besar pula.

Mudah-mudahan kontribusi kita dalam dakwah kampus dapat dimulai dengan sebuah niat baik yang kita transformasikan menjadi sebuah nilai dan hasil yang baik Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal itu terletak pada niat dan sesungguhnya tiap-tiap orang akan menerima sesuai dengan apa yang telah ia niatkan. Barangsiapa berhijrah untuk dunia maka ia akan mendapatkannya, barangsiapa berhijrah untuk menikah maka ia pun akan mendapatkannya. Dan hijrah itu tergantung pada apa yang telah ia niatkan.

Tugas-tugas dakwah menanti kita di depan. Mari berpikir besar dan mengemban amanah dakwah ini dengan kontribusi maksimal hingga titik pengorbanan terakhir. Bukankah tugas yang dibebankan pada kita jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia (Hasan Al-Banna)?

Jika ana pernah mendapati sebuah judul, “imanuhum fie proyekihim”. Apakah nanti lembaga dakwah kita juga akan sama? Semisal, “KAMMIuhum fie proyekihim” atau “UKKIuhum fie proyekihim”. Teringat seorang asatidz dan teman ikhwan ana selalu membicarakan tentang proyek. Entah kemana proyek itu akan berjalan, entah kemana Orientasi proyek yang dilakukannya itu, entah kemana kesibukan menggrap proyek itu, untuk siapa proyek itu, dan apa landasan niat itu semua?

Wallahu a’lam bish shawwab