'Yakinlah BAHWA Kemenangan Itu Pasti'

“Mati itu kepastian. Tapi sebelum mati, hidupku harus diisi dengan operasi istisyhad (maraih syahid). Aku harus menggoncangkan pilar-pilar kekuasaan Zionis Israel yang menjajah tanah air kami, yang mengotori tempat suci Islam. Aku harus membalas semua darah yang tertumpah dari anak-anak, kaum wanita dan para orang tua kami. Buruklah hidupku jika aku bertemu Allah di atas kasur, berpaling lari dari tembakan penjajah zionis atau takut menghindar dari serangan rudal mereka…” (Jaisy Istisyhadiyyin Filisthiniyyin fi Thariqihim ilaika Ya Sharon, Pasukan Pemburu Syahid Palestina Dalam Perjalanan Menuju Engkau Wahai Saron, Dokumen Izzudin Al Qassam)

Ikhwah fillah, sungguh mulia generasi muda Palestina yang tidak mau melewatkan secuil waktunya dengan hal yang sia-sia. Simak, bagaimana Izzudin Al Qassam menacari kader-kader militan. Inginkah kita termasuk barisan itu? Bisa saja, asal hati kita senantiasa tertaut di Masjid. Menjadi ahli ibadah, selalu berjamaah di awal waktu dan tidak tertinggal jamaah Subuh di Masjid. Ya, mereka-mereka yang siap mati dalam operasi syahid, adalah mereka yang kuat fondasi ruhani dan spiritualnya. Mereka yakin dengan apa yang dianjurkan Allah dalam firmannya “Wa yattakhidzu minkum syuhada” (Dan Allah memilih dari kalian yang akan menjadi syuhada)…”

Semua yang terjadi di dunia Islam saat ini, patut disoroti oleh umat Islam, apalagi seorang murobbi dan mas’ul organisasi Islam. Selama ini selalu saja banyak dari elemen dakwah yang berkeluh kesah kekurangan SDM. Sudah sepantasnya kita menengok keberhasilan-keberhasilan kaderisasi di berbagai penjuru dunia Islam. Yang cocok kita olah dan kita terapkan di lini masing-masing. Palestina adalah ladangnya syuhada, mereka mempersembahkan syuhada setiap hari. Dan sampai sekarang terus berlanjut. Optimis!

Karakter da’i yang militan tidak terlepas dari seorang murobbi. Tidak mungkin seorang Fathi Farhat, Faris Audah, M Natsir dan tokoh lainnya mampu seperti itu hanya dengan buku. Tentu interaksi dengan lingkungan sangat besar dan membekas dalam jiwanya. Murobbi Produktif Seorang murobbi harus memberdayakan semua potensi yang ada dalam dirinya untuk mencetak generasi-generasi Muslim yang tangguh dan siap berkorban demi agamanya. Jalan kaderisasi harus dijalankan seiring dengan proses berjalannya waktu, terus-menerus dan selalu melangkah kedepan. Berikut hal-hal yang harus kita perhatikan oleh seorang murobbi:

Pertama, menjadi da’i siap tempur (siap bekal dan berkarakter ideal)

“Dan jika mereka akan berangkat, maka mereka mengadakan persiapan untuk keberangkatan itu …” (At Taubah: 46)

Dalam tujuan mengorbitkan satelit dan astronot ke angkasa, NASA begitu getolnya melakukan berbagai persiapan. Bahkan sampai bertahun-tahun. Hal yang besar sampai kecil pun tidak terlewatkan. Ribuan kalangan dilibatkan, mulai dari profesor, ilmuwan, teknisi dan berbagai pihak yang bekerja dalam sistem tersebut. Bagaimana dengan seorang da’i? Jalan yang ditempuh seorang da’i adalah jalan yang thulu’ut thartiq (panjang jalannya), katsiratul ‘aqabat (banyak timpaannya), dan qillaturrijal (sedikit pendukungnya). Lantas apa yang kita siapkan? Apalagi tujuan kita jauh ke depan yaitu akherat. Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani mengupasnya dalam 9 Pilar Keberhasilan da’I di Medan Dakwah. Yaitu : (1) Ilmu yang bermanfaat, (2) Al Hikmah, (3) Al Hilmu, (4) Al Annatu dan At-Tatsabbutu, (5) Ar-rifqu dan Al-layyinu, (6) Sabar, (7) Ikhlas dan Jujur, (8) Qudawah Hasanah, (9) Akhlak yang baik.

Kedua, visioner (berwawasan kedepan)

Dakwah harus dibangun dengan pondasi yang kokoh. Jangan sampai pernak-perniknya indah tetapi dalamnya rapuh. Seorang murobbi juga harus berpandangan jauh ke depan dalam hal pengoptimalan amanah mutarobbinya. Sebagaimana orientasi dakwah ke depan yaitu dakwah sya’biyah (menjadi aktivis remaja masjid, LSM Islami, da’i, aktivis kampus, mewarnai dan mengendalikan perusahaan, birokrasi dll). Murobbi harus bisa menyerap perkembangan baru dakwah dan mempersiapkan segala sesuatunya di masa yang akan datang. Tujuan besar dakwah sudah ditetapkan, terkadang situasi politik dan hal lain menyebabkan peluang dakwah terbuka lebih lebar dan lebih cepat terealisasi. Untuk itu kita harus benar-benar bisa memanfaatkannya atau justru sebaliknya. Kepekaan terhadap masalah ini sangat perlu. Sumber informasi harus mengalir dari hulu sampai hilir dan sistem evaluasi juga berjalan dari dua arah.

Ketiga, Optimal dengan Amanahnya

Sering keinginan tinggi, tidak didukung oleh kemampuan yang ada. Bukan karena murobbi tersebut lemah, tetapi kemampuan seseorang memang ada batasnya. Dan diri kita sendirilah yang mampu mengukur kemampuan masing-masing. Jangan sampai kita “serakah” akan pahala, dengan menerima semua amanah, tetapi realisasi semuanya setengah-setengah. Padahal banyak teman lain (aktivis) yang sebetulnya berpotensi hanya saja kurang diberi kesempatan. Jangan menambah mutarobbi, bila belum yakin betul dengan binaannya yang sudah ada. Standar umum dua sampai tiga kelompok binaan kita perkuat dulu. Tengok kanan kiri kita! Bukankah lebih 50% kader kita tidak punya binaan? Bukankah tidak sedikit mas’ul-mas’ul dakwah yang tidak membina?

Aspek-aspek lain juga harus diperhatikan. Murobbi produktif adalah murobbi yang mampu menjalankan amanahnya di berbagai bidang. Hal ini menjadi nilai lebih di mata mutarobbinya. Prestasi akademik, aktif di berbagai organisasi masyarakat, aktivis lingkungan, punya ma’syah dan hal lainnya. Katakan dengan bangga bahwa saya senang menjadi da’i dan selalu ingin memperembahkan yang terbaik bagi agama ini.

Keempat, mampu melahirkan kader unggul

“Dan hendaklah mereka takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Annisa: 9). Seorang guru yang terbaik adalah dia yang mampu membuat sang murid lebih unggul darinya.

Maka proses kebangkitan Islam akan semakin dekat dan segera terwujud. Apa yang kita tanam saat ini, itulah yang akan kita panen di kemudian hari. Berpikirlah terus ke depan, karena waktu pun terus berjalan dan tak kan kembali. Itulah beberapa karakter seorang murobbi produktif. Sudahkah kita? ■ hnf