ALASAN HAMAS MEMENANGKAN PERANG GAZA.

Laporan Perjalanan Ust. KH. Hilmi Aminudin (Ketua Majlis Syuro DPP PKS) dari Palestina.

HAMMAS MUJAHIDIN!!

HAMMAS MUJAHIDIN!!

Sadarkah antum bahwa berita yang kita dapatkan dalam siaran berita di televisi maupun lembaran koran seluruh dunia seputar perang Gaza rata-rata banyak sekali yang mengekspos penderitaan bangsa Palestina. Di sisi lain sering kali kita perhatikan ditampilkannya kabar bahwa seolah-olah Israel telah berhasil menang dalam peperangan yang mereka kobarkan di Gaza. Kita berhusnudzan, barangkali apa yang dilakukan media adalah cara mereka dalam memberi dukungan bagi rakyat Palestina. Semakin nampak penderitaan bangsa Palestina di hadapan dunia, maka otomatis akan semakin membangkitkan semangat pembelaan bagi rakyat Palestina.

Namun nampaknya jarang sekali kita dengar kabar yang menggembirakan atas bangsa Palestina selama perang 22 hari di Gaza. Tahukah antum bahwa ternyata banyak sekali Allah turunkan pertolongan- Nya bagi rakyat Palestina selama perang 22 hari itu. Apa yang akan saya ceritakan berikut tidak banyak diekspos oleh media. Entah kenapa, atau mungkin karena apa yang mereka dapatkan bukan berasal dari sumber utama para tentara pejuang kemerdekaan Palestina (Brigade Izzudin Al-qassam dan HAMAS).

Dalam salah satu acara malam penggalangan dana untuk Palestina, Ust. Hilmi Aminudin bercerita tentang pengalaman beliau ketika mengantarkan rombongan para penyalur bantuan dari rakyat Indonesia langsung ke pemerintah HAMAS di Palestina. Alhamdulillah saya beruntung dapat mendengarkan cerita beliau secara langsung, dan kemudian saya ceritakan kembali pada teman-teman semua.

Selama kunjungannya di Palestina, Ust. Hilmi disambut langsung oleh para petinggi HAMAS. Beliau disambut di perbatasan Raffah-Mesir. Beliau beserta rombongan tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh pemerintah Mesir dengan alasan keamanan. Oleh karena itu, para petinggi HAMAS tersebut yang akhirnya menghampiri perbatasan untuk melakukan dialog. Ust. Hilmi beserta rombongan pada waktu itu membawa dana segar hasil pengumpulan dana dalam demonstrasi- demonstrasi yang dilakukan bangsa Indonesia selama agresi Israel berlangsung.

Alhamdulillah, total dana yang diberikan adalah sebesar 2 juta US dollar.Seolah sambil sedikit bercanda, Ust. Hilmi mengatakan bahwa uang yang terkumpul tersebut merupakan infaknya ‘minal fukhoro wal masakin’ (infaknya orang-orang fakir dan miskin). Maksudnya tentu bukan merendahkan yang memberikan infak itu.

Melainkan memberi gambaran bahwa jika uang yang dikumpulkan dari hasil demontrasi jalanan saja bisa sampai terkumpul 2 juta dollar, maka apalagi jika sudah melibatkan para agnia dan pengusaha? InsyaAllah dijamin jumlahnya akan berlipat lebih besar lagi.

Dalam dialog yang berlangsung bersama para pemimpin HAMAS tersebut, Ust.Hilmi banyak mendapatkan cerita kondisi yang sebenarnya dialami oleh para tentara Al- qassam. Subhanallah….ternyata Allah telah banyak menurunkan pertolongan dan lindungan-Nya selama perang berlangsung. Sangat banyak hal yang secara akal tidak lah mungkin terjadi. Pertama, secara kesenjataan, sudah sangat jelas bahwa perbandingan kekuatan persenjataan antara HAMAS dan Israel sangatlah jauh berbeda. Dalam sistem pertahanan kesenjataan, Israel menempati urutan keempat di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan Inggris. Ini pun masih belum termasuk dengan bantuan militer yang diberikan Amerika Serikat untuk mendukung persenjataan selama perang Gaza.

Menurut salah satu sumber, disebutkan bahwa untuk perang Gaza, Amerika telah menyuplai persenjataan sebanyak lebih dari 60.000 ton. Bantuan itu dikirim dalam ratusan buah kontainer besar. Bantuan senjata ini dipercaya sebagai suplai senjata yang terbesar sepanjang sejarah persekongkolan Amerika-Israel. Maka coba bandingkanlah dengan HAMAS hanya mempersenjatai diri mereka dengan roket-roket berdaya jelajah menengah dengan daya rusak yang tidak terlalu besar.

Kedua, jika dilihat dari besarnya pasukan, HAMAS hanya memiliki sekitar 15.000 personil. Sedangkan Israel memiliki 130.000 tentara aktif dan lebih dari 400.000 tentara cadangan. Ketiga, dari segi medan pertempuran, Gaza adalah kota yang terisolir. Sekelilingnya dibatasi oleh tembok-tembok blokade sepanjang lebih dari 750 KM dengan tinggi 8 meter, dan di setiap 10 meternya telah siap tentara Israel di atas pos blokade yang siap menembak mati siapapun warga Palestina yang mencoba mendekati tembok blockade tersebut. Segala hal hampir membuat tidak masuk akal bagi pejuang Palestina untuk memenangkan pertempuran.

Beberapa hari ke belakang kita menyaksikan sama-sama berita yang menceritakan aksi perayaan kemenangan yang dilakukan warga Palestina baik yang di jalur Gaza maupun di tepi Barat. Bagi sebagian orang barangkali merasa heran, kemenangan macam apakah itu? Bukankah sudah lebih dari 1.200 orang menemui syahid, 5.000 lebih orang luka-luka, 13 masjid dibom, ribuan rumah hancur, jalan dan sarana publik hancur total. Apakah ini yang disebut dengan kemenangan? hal ini lah yang tidak kita ketahui kebenaran yang sesungguhnya.

Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat Palestina memenangkan pertempuran. Para petinggi HAMAS itu bercerita, sebenarnya serangan yang dilakukan Israel awalnya direncakan hanya dalam 3 hari saja. Pertama kali mereka menyerang melalui serangan udara pada tanggal 27 Desember 2008, seharusnya menurut pemikiran mereka, akan dapat menguasai sepenuhnya Gaza dalam waktu tiga hari saja (29 desember 2008). Mereka berencana hanya akan melakukan serangan udara selama 3 hari, tanpa serangan darat, lalu pada tanggal 30-31 Desember 2008 mereka akan melakukan persiapan perayaan kemenangan dan perayaan tahun baru di Gaza.

Dikabarkan juga pada akhir tahun 2008 tersebut, sebagian tamu undangan yang rencananya akan menghadiri perayaan kemenangan Israel atas Gaza sudah bersiap di perbatasan untuk selanjutnya dapat memasuki Gaza. Tapi ternyata apa yang mereka dapatkan sangat jauh dari apa yang mereka bayangkan. Justru perlawanan yang sangat sengit dari pejuang HAMAS lah yang mereka dapatkan.

Hal ini akhirnya memaksa zionis Israel untuk melakukan serangkaian serangan sporadis ke seluruh target. Pertempuran yang awalnya hanya diperkirakan akan dimenangkan Israel dalam waktu tiga hari, ternyata meleset sangat jauh dari target.

Setelah perang melewati 10 hari serangan, tentara Israel mulai kehilangan konsentrasi dan fokus serangan. Sehingga serangan yang awalnya ditargetkan untuk menghancurkan basis-basis perlawanan HAMAS, akhirnya mulai berubah menjadi target rakyat sipil. Tentara Israel mulai kehilangan arah sasaran.

Mereka tidak tahu lagi target mana yang harus mereka hancurkan. Dan ternyata, target-target bangunan yang Israel klaim di media merupakan basis HAMAS, pada kenyataannya itu tidak lain hanyalah bangunan yang kosong tidak berpenghuni, atau bahkan malah target fasilitas publik dan sipil. Jika kita perhatikan berita di media asing, Israel selalu berkilah bahwa target sipil yang mereka hancurkan itu karena HAMAS sering menjadikan tempat-tempat macam itu sebagai tempat perlindungan dan gudang persenjataan. Padahal yang sebenarnya itu dilakukan Israel tidak lain hanya karena sudah bingung dan tidak tahu lagi target serangan.

Kemudian salah satu pejabat HAMAS tersebut melanjutkan ceritanya kepada Ust. Hilmi. Beliau menambahkan, bahwa ternyata pihak Israel sebelumnya telah mempersiapkan pasukan elite mereka untuk berlatih sebelum serangan dilakukan. Jadi apa yang mereka lakukan itu tentunya bukan dilakukan dengan spontan, melainkan sudah melalui perencanaan yang matang. Para pasukan khusus itu dilatih di sebuah tempat yang kondisinya dibuat persis sama seperti keadaan di kota Gaza. Mulai dari bangunan, jalan-jalan, bahkan sampai gang-gang sempit, semuanya dibuat mirip seperti kota Gaza. Ini diharapkan ketika mereka melakukan serangan darat, maka sudah dapat mengetahui medan pertempuran dengan sebaik- baiknya. Tetapi ternyata apa yang mereka dapatkan setelah terjun langsung ke medan pertempuran yang sebenarnya? Ternyata apa yang mereka dapatkan sungguh berbeda menurut pandangan mereka. Target yang awalnya sudah mereka rencanakan dan dicurigai merupakan tempat persembunyian tentara pejuang Palestina ternyata tidak pernah mereka temukan. Ketika mereka masuk ke bangunan atau rumah yang awalnya mereka curigai sebagai markas, ternyata tidak lain hanyalah sebuah rumah biasa milik penduduk sipil.

Barangkali kita bertanya-bertanya dalam benak kita semua. Bagaimana mungkin HAMAS tetap bisa menggalang kekuatan. Padahal sekeliling kota Gaza sudah diblokade dengan tembok-tembok raksasa dan pos penjagaan di tiap perbatasan.

Dari mana mereka mendapatkan suplai untuk persenjataan mereka? Di luar dugaan, ternyata roket-roket yang dibuat HAMAS itu terbuat dari barang-barang bekas.

Rangka roketnya terbuat dari bekas tiang listrik, kabel-kabel sambungan detonatornya terbuat dari kabel yang ada di rumah-rumah warga, bahan bakar roketnya terbuat dari gula, dan hulu ledaknya terbuat dari kimia sederhana yang mereka racik sedemikian rupa. Selain itu, suplai bahan baku senjata juga mereka dapatkan melalui ratusan terowongan yang mereka buat yang melintasi perbatasan.

Israel mengklaim bahwa mereka telah berhasil menghancurkan banyak terowongan yang sering dimanfaatkan warga Gaza untuk transfer barang dari dan ke kota Gaza. Tetapi yang perlu kita ketahui adalah ternyata apa yang berhasil Israel hancurkan itu hanya 200 terowongan dari total terowongan yang berjumlah 800 buah. Jadi setidaknya masih ada 600 terowongan yang tersisa dan belum hancur.

Adapun terowongan yang sudah hancur tersebut, pihak HAMAS menyebutkan bahwa mereka akan selesai memperbaikinya kembali hanya dalam 3 bulan.

Secara fisik, mungkin HAMAS lah yang paling banyak menderita kerugian. Namun ini sama sekali bukanlah indikasi kekalahan HAMAS. Justru Israel lah yang kalah! Betapa tidak, HAMAS telah membuat perlawanan yang sangat sengit sehingga Israel melewati target lama pertempuran yang telah direncanakan, dan akhirnya mundur dari Gaza tanpa syarat apa pun. Ingat… tanpa syarat apapun!!! Justru pihak Israel lah yang pertama kali mengumumkan gencatan senjata sepihak, sementara pada saat itu HAMAS sama sekali menolak gencatan senjata dan terus memberi perlawanan. Bahkan menurut kabar, lima menit sebelum Israel mengumumkan gencatan senjata, HAMAS masih meluncurkan roketnya ke wilayah Israel. Secara tersirat, HAMAS seolah ingin memberikan ancaman pada Israel bahwa perlawanan mereka tidak pernah berhenti sedikit pun dan kondisi persenjataan mereka masih dalam kondisi prima. Perlu ditambahkan juga bahwa selama perang Gaza, HAMAS telah meluncurkan sekitar 900 roket, dan itu tidak lebih hanya 1 % dari total jumlah roket yang mereka miliki.

Lebih jauh lagi, salah satu pejabat HAMAS tersebut menyampaikan bahwa mereka sama sekali tidak membutuhkan kiriman pasukan mujahid dari negara mana pun.

Beliau mengatakan, “kami hanya kehilangan 48 orang mujahid selama perang berlangsung, dan masih punya belasan ribu pasukan yang lain.” Melalui Ust.

Hilmi, para pejuang HAMAS ingin mengucapkan rasa terimakasih dan rasa bangga yang sebesar-besarnya atas apa yang telah diupayakan rakyat Indonesia. HAMAS berharap bahwa kalaupun ada yang ingin memberikan bantuannya kepada Palestina, maka berikanlah bantuan itu dalam wujud bantuan kemanusiaan berupa makanan, minuman, obat-obatan, pakaian, atau uang tunai. Karena sesungguhnya itu yang lebih mereka butuhkan daripada mengirimkan bantuan pasukan jihad.

InsyaAllah.. . apa yang telah kita upayakan bersama ini untuk membantu rakyat Palestina bukanlah yang terakhir kali. Masih akan datang lagi bantuan-bantuan berikutnya. Pendistribusian bantuan yang dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus memang bukan tanpa alasan. Ini dikarenakan pemerintah Mesir yang berbatasan langsung dengan Gaza tidak mau untuk memberikan izin masuk Gaza jika dilakukan secara besar-besaran. Salah satu pihak pejabat Mesir mengatakan bahwa mereka tidak mau ambil risiko dengan pihak Israel. Sehingga hal ini membuat kita untuk secara bertahap dan sedikit-sedikit dalam menyalurkan bantuan ke Gaza.

Barangkali perlu juga menjadi catatan bagi kita, bahwa ternyata aksi-aksi yang kita lakukan selama ini ternyata adalah aksi terbesar di selurh dunia.

Di saat saudara-saudara kita di belahan dunia lain harus dikejar-kejar polisi dan dijaga ribuan aparat setiap melakukan aksi solidaritas, lain halnya dengan apa yang kita lakukan di Indonesia. Semangat pembelaan terhadap bangsa Palestina harus terus kita gelorakan di bumi manapun kita berada. Jangan pernah berhenti hingga yahudi laknatullah itu pergi dari bumi jajahan mereka, dan Palestina terbebaskan sepenuhnya dari cengkraman yahudi.

Allahu akbar!!!