PURWOKERTO- Kedatangan Bupati Banyumas Drs. H. Mardjoko MM, dalam seminar nasional Manajemen bertema Sinergi Antara Perguruan Tinggi, Korporasi dan Pemerintah dalam membangun UKM yang Kompetitif di Gedung Rudhiro Fakultas Ekonomi Unsoed, kemarin (6/12), disambut unjuk rasa puluhan Mahasiswa.


Sekitar 20 mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Purwokerto menuntut Mardjoko untuk merealisasikan anggaran pendidikan 20 persen dalam RAPBD 2009.


Dalam aksi tersebut, para demonstran rela menunggu 3 jam lebih, agar bisa bertemu Mardjoko. Mereka melakukan orasi-orasi politik, sembari menunggu Mardjoko, yang saat itu menjadi pembicara dalam acara seminar tersebut. Mereka juga menggelar sepanduk-sepanduk yang berisi kecaman kepada bupati, yang tidak mengakomodir anggaran pendidikan sebanyak 20%. Poster-poster dengan nada kecaman serupa pun digelar oleh mahasiswa didepan gedung Rudhiro.


Aksi yang dimulai pukul 10.00 tersebut, sempat diwarnai ketegangan antara Mardjoko dengan ketua umum KAMMI Purwokerto Luthon Al-Faridhu.


Debat antara keduanya yang sempat memanas itu, berlangsung sekitar 15 menit. Mardjoko yang merasa dipojokkan oleh para demonstran, karena dianggap tidak mengakomodir anggaran pendidikan sesuai amanat undang-undang, sempat terlihat emosional. Nada bicaranya sempat meninggi, ketika terus diberondong pernyataan dari para demonstran.


Tak mau terus dipojokkan oleh para demonstran, Mardjoko sampai menunjukkan setumpuk kertas, yang berisi total anggaran pendidikan, dan dibacakan langsung didepan para demonstran. Namun,secara umum aksi tersebut berlangsung tertib, karena tidak ada insiden apa pun sepanjang demo berlangsung.


Jika rekan-rekan tidak setuju dengan anggaran pendidikan yang ada di RAPBD 2009, silahkan digagalkan saja. Silahkan sampaikan itu, kepada rekan-rekan diDPRD, untuk ditolak. Dan kami siap menggunakan APBD 2008 kembali,” ujarnya dengan nada tinggi.


Mardjoko tetap bersikukuh anggaran pendidikan yang ada di RAPBD 2009 sudah mengakomodir 20 persen dari total anggaran yang ada di RAPBD 2009. “Jumlahnya 43,30 persen dari total RAPBD 2009. Jadi jika rekan-rekan mahasiswa menganggap belum terakomodir dengan baik, itu dilihat dari aspek yang mana?” tegasnya sembari bertanya.


Luthon yang mewakili demonstran, juga bersikukuh anggaran yang ada di RAPBD 2009 itu, hanya delapan persen. Karena total anggaran pendidikan yang dipaparkan oleh Mardjoko, termasuk gaji guru yang jumlahnya cukup besar.


Kami minta kepada bupati untuk bisa mensikapi hal ini. Karena didaerah lain, bisa melaksanakan anggaran 20 persen, yang tidak termasuk gaji guru,” katanya.


Setelah sempat berdebat sekitar 15 menit, akhirnya kedua belah pihak, sepakat melanjutkan debat tersebut dalam public hearing KUA dan PASS, yang akan digelar pekan depan. “Silahkan sampaikan keberatan rekan-rekan dalam public hearing, saya tunggu di DPRD,” tegasnya.


Luthon dan para demonstran pun tak mau kalah, mereka mengaku akan menggelar aksi serupa dalam public hearing yang akan digelar pekan depan. Setelah itu, aksi demonstrasi KAMMI berakhir dengan damai, sekitar pukul 14.00. Aksi tersebut diakhiri dengan jabat tangan antara Mardjoko dan para demonstran.


Sementara itu dalam pernyataan sikapnya, KAMMI menganggap Kabupaten Banyumas tidak memiliki komitmen untuk memprioritaskan sektor pendidikan sebagai aspek penunjang utama pembangunan. Selain itu mereka juga menuntut pemerintah Kabupaten Banyumas, untuk memprioritaskan pembangunan pendidikan dengan mengalokasikan anggaran riil 20 persen APBD untuk pendidikan. (Purwokerto, 6 Desember 2008).