Sungguh teramat menggebu hati dan jiwa kita, manakala sandang pemuda islam sebagai agent of change baru bertengger dan terasa membekas pada dada kita. Apa yang dinamakan ‘Hamasah’ begitu mengelora dalam aliran darah kita, teringat tangisan pertama kita karena telah menemukan hidayah ini. Atribut diripun kian berganti, semakin riuh suara disekeliling kita yang berucap “kamu semakin berubah ya sekarang…”. Atau bahkan sambutan hangat dari wajah-wajah teduh yang dengan tulus telah membimbing kita…”Selamat dan istiqamah ya..!”. Kitapun tersenyum kuat, bersama debaran semangat untuk menjadi lebih baik dan istiqamah! Kata-kata yang mungkin masih baru ditelinga kita saat itu.

============================================================================

Mengenang atau mengingat masa lalu. Salah satu kiat ampuh untuk kita mengevaluasi diri, mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Dalam strategi perang pun, mengulas balik sejarah adalah salah satu cara mencapai kemenangan. Tapi yang menjadi masalah ialah, ketika kita menemukan kawasan ’abu-abu’ antara masa lalu lebih baik dari sekarang dan sekarang lebih baik dari masa lalu. Sering kali kita bangga dengan semakin besarnya para pendukung dan simpatisan da’wah, juga kebanggaan kepada kader da’wah yang diakui eksistensinya dikampus ini. Namun diiringi dengan adanya keluhan ”Ana ingat dulu tuh ya. Jangankan bercanda ikhwan- akhwat sampe kadang ada yang tepuk-tepukkan segala atau ledek-ledekkan, ngobrol aja seperlunya” atau ”Ana rindu ketika SMU dulu, ruhiyah lebih ketara. Padahal waktu itu masih kalah pengalaman dari sekarang..”

============================================================================

Ada yang salah dengan da’wah kita sekarang? Tidak. Da’wah sampai kapanpun tetap begitu adanya, murni diturunkan kepada Rasulullah saw. Mungkin ketika kita merasa seperti zombie (berjalan tanpa ruh), merasa telah teramat banyak berkorban dalam berda’wah namun tak menemukan apa-apa selain kelelahan dan pengikisan nuansa ruhiyah. Pastilah karena adanya ’sesuatu’ yang kita lupakan. Ketika mungkin saja kita begitu mudahnya menaggalkan atribut yang dulu pernah kita terapkan. Dengan leghowonya kita menaggalkan ghadhul bashor, menyepelekan ikhtilath, terburu-buru ba’da sholat sampai tak sempat tilawah karena terlalu banyak amanah. Atau mungkin dengan nyamannya kita berinteraksi antar lawan jenis layaknya orang yang tidak pernah tahu syar’iat, merasa diri cukup dengan hijab hati. Melupakan hak-hak ukhuwah kepada saudara-saudara kita dengan selayaknya (ikhwan-ikhwan, akhwat-akhwat tentu). Bahkan mungkin beberapa dari kita, tanpa sadar rela dipegang (ditepuk-tepuk) ketika bercanda dengan teman-teman yang bukan mahram. Jatuh telak idealisme itu! Dan masih banyak dosa lainnya. Kalau iya, mari sama-sama kita beristighfar…

============================================================================

Apa yang kita harap dari da’wah ini? Tentu tak ada, selain keridhoan-Nya. Mengajak orang lain untuk bisa bersama-sama dalam kafiilah ini menyongsong-Nya. Tak ada yang bisa memberikan hidayah selain Allah swt. Kita memang perlu merenung lagi, karena jikalau diri kita merasa benar dan menyalahkan lingkungan atau bahkan senior-senior ikhwah kita sekarang, ingatlah perkataan Khalifah Ali r.a kepada rakyatnya. Yang merasa dahulu lebih baik dari sekarang ” Karena jaman dahulu orang-orang yang mereka pimpin seperti aku. Sedang sekarang, orang-orang yang aku pimpin seperti kalian!” Mungkinkah kita seperti rakyat Ali tsb?

============================================================================

Tak ada yang benar dari sikap saling menyalahkan, tentu kita tak mau sebagai sebagai generasi yang membuat pendahulu-pendahulu ikhwah geleng-geleng kepala, karena kemanjaan dan kelemahan kita dalam menjaga Asholah ini, atau dicap sebagai generasi yang militansinya menurun. Dan ketika da’wah menuntut komitmen yang lebih besar, ternyata kita menjadi generasi yang tergantikan, Naudzubillah…

============================================================================

Jikalau hamasah itu masih bergejolak dalam sukma kita, maka pekikkan takbir bukanlah sebatas lisan untuk penyemangat tanpa makna. Yakinlah bahwa sesungguhnya Allah maha besar dan kita yakin segalanya kecil ditangan-Nya. Bersyukur kita karena hingga detik ini Allah masih mempercayakan hidayah ini untuk senantiasa kita pelihara. Mengajak kita untuk terus merasakan percikkan cinta seperti diawal kita mengenal-Nya, dan paling tidak sekedar menyisahkan benci pada kemungkaran. Bukankah itu selemah-lemah iman?

============================================================================

Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan dosa atau mendzolimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah SWT, lalu mereka memohon ampunan atas segala dosanya. Dan siapa lagi yang akan mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak terus menerus melakukan kmaksiatan itu sambil mereka mengetahu”. (Ali Imran :135)

Wallahua’lam bi showab.

============================================================================

Oleh : Agus Supriyadi, c.S.Si, Lc

Setiap kita adalah miniatur bangunan da’wah. Itulah proyek Peradaban”

============================================================================

Foot note : agent of change (generasi pembawa perubahan yang lebih baik), Hamasah (semangat), Istiqamah (konsisten), Ikhwan (saudara laki2), Akhwat (saudara perempuan), leghowo (lapang dada), ghadhul bashor (menjaga pandangan), Ikhtilath (berdua2an dengan lawan jenis yang bukan mahrom), tilawah (membaca alquran), Asholah (kemurnian/keaslian).