Tulisan ini hanya sebuah refleksi yang ingin saya torehkan dalam secarik kertas. Sobat, tadi malam saya menghabiskan sebagian kecil waktu saya didepan tivi untuk menyimak debat kandidat presiden AS, Obama dan McCain. Saya memetik satu pelajaran tentang politik. Ya, politik yang acapkali kita mengenalnya sebagai kekuasaan dinegeri ini. Tapi disana, dalam debat kandidat persiden AS itu saya tidak melihatnya dalam perspektif itu, bukan sekedar persaingan memperebutkan kekuasaan tetapi sebuah kompetisi dalam memperjuangkan nilai, pandangan atau jalan hidup.

Bagi saya Obama telah mempersiapkan dirinya untuk memimpin AS jauh sebelum perdebatan itu dimulai, Obama telah memulainya dahulu, mungkin semenjak ia masih remaja.

Sobat, perlu kalian tahu bahwa pada usia 24 tahun, jauh sebelum Obama membayangkan untuk berada dalam kongres AS, Obama telah mengabdikan dirinya untuk membangun sebuah komunitas. Obama rela meninggalkan pekerjaannya di Business International Corporation (perusahaan yang menyediakan informasi bisnis internasional) di keramaian kota New York untuk pindah ke Chicago yang jauh lebih sepi. Di Chicago Obama menjadi pengurus sebuah ormas bernama Chicago’s Roseland community dan the Altgeld Gardens public housing development. Disana Obama mengurusi berbagai tetek-bengek permasalahan masyarakat; dari masalah kebersihan lingkungan hingga rehabilitasi remaja yang kecanduan narkoba.

Begitulah Obama, dia berbeda dengan para politisi muda dinegeri kita yang muncul kepermukaan lewat layar tivi. Obama juga tidak memulai kiprah politiknya dengan serangkaian kata-kata manis di iklan-iklan tivi. Bukan juga seperti bintang yang muncul tiba-tiba, apalagi penjahat HAM yang dikala pemilu serta-merta menjadi bersih dan muncul layaknya pahlawan.

Sobat, hanya secuil yang kita tahu tentang Obama, tetapi kisah Obama cukup menyadarkan kita tentang aksioma sebuah perjuangan. Bahwa seorang pemimpin tidaklah tercipta tiba-tiba. Ia adalah ukiran zaman pada sebatang kayu yang kuat, teguh dan berkarakter. Seorang pemimpin masadepan adalah Ia yang memulai kerjanya dari sana, dari dalam hatinya yang memang mencintai perubahan dan perbaikan. Kerja-kerja sosial yang tulus tanpa pretensi, “tanpa udang dibalik batu”. Tanpa tendensi. Seseorang yang bekerja tidak atas dasar perintah semata, atau pun bergantung pada petunjuk patronnya.

Jadi untuk menjadi pemimpin maka bekal pertama adalah kecintaan kita akan apa yang akan kita pimpin, dengan itulah kita akan berusaha sepenuhnya menjaga, merawat dan membimbingnya agar senantiasa berada pada jalur yang benar. Pemimpin juga harus memiliki mimpi. Mimpi yang akan menuntun dia dalam mengarahkan kepemimpinannya. Mimpinyalah yang kelak memimpin orang-orang disekitarnya untuk berada dibawah arahannya.

Dan satu hal yang perlu kalian ingat bahwa setiap kita layak untuk memimpin. Karena memimpin adalah sebuah pilihan, karenanyalah memimpin tidak selalu dikaitkan dengan sebuah jabatan. Jabatan atau kekuasaan hanyalah sarana untuk mewujudkan gagasan dan mimpi kita. Sebelum mencalonkan diri menjadi Capres AS, Obama telah menulis dua buah buku, artinya sebelum ia sibuk dengan strategi pemenangan, Obama telah menyusun gagasan dan mimpinya tentang Amerika masadepan. Itu adalah hal yang baik karena jikapun tidak jadi presiden ia telah memberikan sumbangsih gagasan untuk Amerika. Coba bandingkan dengan para pemimpin muda kita yang bermunculan di layar2 tivi layaknya superhero yang ingin menyelamatkan negeri dirundung bahaya, padahal jika ditanya akan dibawa kemana negeri ini mereka kebingungan menjawabnya.

Maka jangan sampai kita hanya sibuk menyiapkan pemenangan saja, tapi juga siapkan gagasan apa yang akan kita perjuangkan setelah memimpin. Bukan sekedar program kerja, tetapi cakrawala berpikir yang akan mewadahi kerja-kerja kita di masadepan. Bukan hanya untuk masa kita, tetapi juga generasi pasca kita.

Dan sobat, ruang kepahlawanan itu terbentang dihadapan kita. Pernahkah kalian mendengar tentang Al-Gore, dia telah melakukan presentasi ribuan kali tentang bahaya Global Warming. Al-Gore adalah calon presiden partai Demokrat AS yang kalah atas Bush pada pemilu 2000 silam. Tetapi kekalahannya tidak menjadikan Al surut memperjuangkan gagasannya. Coba perhatikan kini Al-Gore adalah ilmuwan sekaligus politisi yang diperhitungkan dalam masalah Global Warming, sebagaimana undangan khusus baginya dalam International conference for Climate Change di Bali.
_diE_