Ust. Arif Awaluddin,SH.MHum, Dr.Hidayat Nurwahid.MA, Ibnu Salimi,SPt.

Ust. Arif Awaluddin,SH.MHum, Dr.Hidayat Nurwahid.MA, Ibnu Salimi,SPt.

Oleh : Ust. Arif Awaludin, SH. MHum

(Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Tengah)

Alkisah, ada seorang bernama Abu Nawas. Ia dikenal cerdas, bersahaja dan ahli hikmah. Suatu pagi yang cerah, Abu Nawas terlihat berputar-putar mengelilingi rumahnya. Ia berjalan, berhati-hati seraya membungkukkan badan dan matanya tajam menyorot setiap sudut di depan, belakang dan samping rumahnya. Serius, fokus dan cermat.

Tingkahnya ini membuat para tetangga bertanya-tanya, apa gerangan yang Abu Nawas cari? Setelah sekian lama diperhatikan, rasa penasaran para tetangga pun memuncak. Dengan nada heran mereka bertanya, ”Hai Abu Nawas, apa yang sedang kau cari? Sepanjang hari kami melihatmu berputar-putar mengelilingi rumah. Benda apa yang hilang ?”.

”Aku sedang mencari sepasang tongkatku,” jawab Abu Nawas. ”Bukankah tongkatmu biasa disimpan di dalam rumah, kenapa mencari di luar rumah?” tanya sang tetangga keheranan. ”Di dalam rumah gelap, sedangkan di luar rumah terang. Jadi aku mencarinya di sini,” jawab Abu Nawas santai.

Ayyuhal ikhwah, aktivitas dakwah memang membutuhkan kerja yang serius, fokus dan lurus. Serius artinya penuh dengan kesungguhan (jiddiyatul ’amal). Fokus artinya terarah pada sasaran dan tujuan (ahdaf). Lurus artinya mengikuti garis strategi yang dicanangkan dan tahapan-tahapannya (istiqomatul manhaj).

Lalu apa relevansinya kisah ini dengan kerja-kerja dakwah? Apa yang dilakukan oleh Abu Nawas adalah otokritik bagi aktivis dakwah. Karena seringkali kerja dakwah dilakukan di tempat-tempat yang ”terang”. Sementara sasaran dakwah berada dan berkumpul di tempat-tempat yang ”gelap”. Mereka tinggal dan berada di ruang-ruang publik yang jauh dari nuansa ”agamis”. Seperti pasar, birokrasi, perusahaan, organisasi sosial, perkumpulan, kelompok hobi, profesional, pabrik, sawah, kebun, bahkan warung kopi. Pekerjaan yang dilakukan pun jauh dari nuansa ”ukhrowi”. Tapi di situlah mereka berada.

Apabila dakwah masih terus dilakukan di ruang-ruang publik yang ”agamis” atau ”elitis”, maka dakwah pun akan berjalan lama untuk mencapai tujuannya yang mulia. Menentukan fokus dalam dakwah menjadi hal yang penting bagi aktivis dakwah. Ketajaman dalam membidik fokus dakwah, baik akurasinya maupun cara meraihnya adalah sebuah tuntutan yang tidak bisa ditawar lagi. Dakwah yang dilakukan bertahun-tahun seharusnya mampu melahirkan figur-figur kader yang titis dalam menentukan fokus.

Setiap masa selalu melahirkan kader-kader dakwah yang memahami kebutuhan dakwah saat itu. Fokus dakwah pun akan berjalan seiring dengan kebutuhan dakwahnya. Oleh karena itu di era pemenangan dakwah ini dibutuhkan jumlah pendukung dakwah yang berlipat ganda. Fokus dakwah pun harus berkembang mengikuti kebutuhan dakwah.