Fitrah manusia adalah mencari kebenaran .

Allah ~Subhanahu wa ta’ala~ berfirman dalam Al_Quran Surat Al_’Araf [7]: 172.

172. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

A. Hukum Akal.

Dalam gambaran sederhana, kita lihat hukum akal :

  1. Wajib, menurut akal adalah sesuatu yang harus.

  2. Mustahil, menurut akal adalah sesuatu yang tidak harus.

  3. Jaiz, menurut akal adalah sesatu yang bisa harus atau tidak harus.

Bila kita kaitkan dengan kata “ada”, maka kita akan mendapatkan gambaran yang lebih konkrit lagi.

Setiap yang ada, pasti baru. Setap yang baru, pasti ada yang mendahuluinya. Setiap pendahulu, pasti tidak ada yang mendahuluinya. Karena bila pendahulu ada yang mendahuluinya lagi, maka sebenarnya dia bukan pendahulu, tapi baru. Oleh karena itu, sekali lagi, setiap pendahulu, pasti tidak akan ada yang mendahuluinya. Itulah yang wajib menurut akal. Itulah dia yang awal dan yang akhir. Itulah dia Tuhan.

Sebenarnya, bila kita mau memperhatikan pada diri kita sendiri, sudah cukup untuk membantah tentang pemikiran yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada.

B. Mencari Kebenaran dan Metodenya

Ketika kita melihat dan mengamati segala sesuatu di sekeliling kita, maka kita akan mendapati bahwa segala sesuatu itu begitu teratur dan seimbang. Ketika kita melihat manusia, maka kita akan menjumpainya sebagai makhluk dengan susunan yang begitu rumit, manusia tersusun dari berbagai organ dan milyaran sel, namun semuanya bisa berjalan seimbang, seiring dan saling melengkapi. Bayangkan apabila tangan dan kaki kita bentuknya tidak seperti sekarang ini, misalnya seperti tangan/ kaki kuda. Tentunya kita akan kesulitan untuk memasukkan makanan ke dalam mulut kita. Atau ketika kita mengamati rambut kita, mengapa rambut yang ada di kepala tumbuh lebih cepat daripada rambut yang ada di atas mata (alis) ataupun bulu mata ? Tentunya kita akan kesulitan dalam melihat, ketika rambut pada alis dan bulu mata pertumbuhannya secepat pada rambut kepala. Siapakah yang mengatur ini ? Atau ketika kita melihat matahari, mengapa harus terbit setiap pagi dan tenggelam setiap sore ? Mengapa harus ada siang dan malam ? Mengapa matahari berjalan begitu teratur ? Bahkan alam semestapun berjalan begitu teratur dan seimbang ? Apakah semua ini ada dengan sendirinya dan berjalan begitu saja tanpa ada yang mengatur, ataukah ada yang menciptakan dan mengaturnya ? Jika ada, siapakah yang menciptakan dan mengatur semua ini ? Tentunya masih banyak pertanyaan semacam ini yang terlintas dalam pikiran setiap manusia. Dan ini adalah hal yang sangat wajar, karena manusia memiliki kecenderungan untuk mencari kebenaran.

Karena kecenderungan manusia untuk mencari kebenaran itulah, maka kita perlu menentukan Prinsip Kebenaran. Ada 5 Prinsip Kebenaran yang akan kita gunakan untuk menentukan siapakah sebenarnya Tuhan kita dan agama apakah yang akan kita ikuti. 5 Prinsip Kebenaran itu adalah sebagai berikut :

  1. Sesuai dengan realita.

  2. Menyadari bahwa idenya tidak sempurna (lapang dada dalam menerima kebenaran dari orang lain).

  3. Tidak terpengaruh oleh ketenaran orang. Karena ide yang diberikan oleh orang terkenal belum tentu benar.

  4. Kritis terhadap ajaran-ajaran orang – orang terdahulu. Kita tidak boleh menelan mentah-mentah ajaran mereka.

  5. Kebenaran hakiki adalah yang berasal dari Tuhan itu sendiri.

Selain itu, kita juga harus menggunakan metode ilmiah dalam menentukan kebenaran, yaitu :

  1. Objektif

  2. Logis

  3. Realistis.

  4. Sistematis

Menurut Pendapat Plato, Tuhan Itu ada karena dipikirkan. Kalau tidak difikirkan Tuhan itu tidak akan ada. Lebih jelasnya filosuf Yunani itu mengatakan ”Aku berfikir tentang diriku, maka aku ada. Kalau aku tidak berfikir tentang diriku, maka aku tidak ada. Demikian juga halnya dengan Tuhan. Aku Berfikir tentang Tuhan, maka Tuhan itu ada. Tapi jika aku tidak berfikir tentang Tuhan maka Tuhan tidak ada”.

Sekali lalu pendapat Plato ini ada benarnya. Sebab bagaimana kita akan tahu Tuhan itu ada kalau kita tidak pernah berfikir tentang sesuatu, misalnya tentang kejadian langit dan bumi serta segenap isinya, Akhirnya kita berkesimpulan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika dilihat dari sisi lain, pendapat Plato ini bertentangan dengan aqidah Islam. Dalam aqidah Islam, adanya Tuhan bukan karena difikirkan. Tanpa difikirkanpun Tuhan itu tetap ada, bahkan wajib ada. Inilah yang disebut dengan istilah Allah wajibul wujud. Artinya Allah itu wajib ada.

Adakah ’sesuatu/ dzat’ yang menciptakan alam semesta dan mengaturnya? Imanuel Kant mengatakan bahwa ”Sesuatu itu ada karena bisa ditangkap oleh panca indra. (Silogisme)” Benarkah begitu ?? Apakah ketika kita membaca tulisan ini, kita yakin bahwa nyawa kita masih ada dalam tubuh kita ? Tentunya jawaban kita adalah ’ya’. Kita pasti yakin bahwa nyawa kita masih ada dalam tubuh kita. Tapi apakah nyawa/ruh kita bisa kita tangkap dengan panca indra kita ? Kita bisa memegangnya ? Menciumnya ? Mengecapnya ? Melihatnya ? Mendengarnya ? Tentunya tidak, tapi kita masih yakin bahwa nyawa/ruh kita masih ada dalam tubuh kita. Selain nyawa/ruh, juga Sejarah. Banyak orang mempelajari sejarah dan mempercayai bahwa sejarah itu ada. Misalnya saja tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia atau perjuangan Pangeran Diponegoro diJawa Tengah. Kita tidak pernah merasakannya dengan panca indra kita, tidak bisa memegangnya, mencium, mengecap, mendengar apalagi melihat. Tetapi kita percaya bahwa sejarah itu ada. Dengan begitu, tidak semua yang ada itu harus dapat ditangkap dengan panca indra. Ini berarti pendapat Imanuel Kant TIDAK BENAR.

Rene Descrates juga berpendapat bahwa sesuatu itu ada karena kita berfikir. Benarkah begitu ? Apakah ketika saat ini kita berfikir bahwa disamping kita akan ada manusia baru, lalu tiba-tiba telah ada manusia baru itu disamping kita ? Tentu saja TIDAK, berarti pendapat Rene Descraetes ini TIDAK BENAR. Padahal berfikir bukan untuk menciptakan, tetapi untuk mengubah dari tidak tahu menjadi tahu. Berfikir adalah menyamakan yang sama dan membedakan yang beda, proses TIDAK TAHU menjadi TAHU. (Kajian Konsep Ketuhanan. Ustadz Nuskhi, Masjid Kampus Nurul Ulum).

Tentunya segala sesuatu itu ada karena ada sebabnya, yaitu ada yang menyebabkan (Hukum sebab-akibat). Alam semesta ini ada karena ada yang mengadakan. Alam semesta adalah sesuatu yang jelas ada. Berarti alam disebabkan oleh sesuatu yang wajib ada. Menurut para ahli Fisika, bahwa alam semesta berawal dari suatu ledakan dahsyat yang disebut Big bang. Jadi, alam semesta seluruhnya adalah sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang tidak berawal, dan pasti ada yang mengadakan. Alam semesta dengan seluruh isinya seperti matahari, bulan, binatang, dan planet-planet lainnya termasuk bumi dengan segala isinya adalah segala sesuatu yang berjalan secara teratur. Sesuatu yang teratur tentu ada yang mengaturnya, mustahil semuanya itu teratur dengan sendirinya secara kebetulan. Lalu siapakah yang menciptakan alam semesta beserta isinya itu dan mengaturnya sedemikian rupa ?

Menurut logika, tentunya yang menciptakan dan mengatur semua itu adalah ’sesuatu’ di luar diri manusia yang memiliki kekuatan yang Maha Dahsyat. Manusia menyebut ’sesuatu/ dzat’ itu sebagai Tuhan. Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Dahsyat yang mengatur alam semesta. Dari uraian diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa Tuhan yang dibutuhkan itu harus memiliki sifat sebagai berikut :

  1. Absolut : Maha mutlak, Maha Kuasa, Maha Segalanya. Semua kelebihan ada pada_Nya.

  2. Unict : Satu-satunya.

  3. Distinct : Berbeda dengan yang lain (tidak ada yang menyamai).

Di dunia ini banyak yang dijadikan sebagai Tuhan oleh berbagai agama. Beda agama, berarti beda juga konsep Ke-Tuhanannya. Lalu, siapakah Tuhan yang sebenarnya berhak untuk kita ibadahi dan kita sembah ? Lalu agama apakah yang sebenarnya harus kita ikuti untuk sampai menuju Tuhan ?

Orang dikatakan beragama disebabkan karena adanya dua hal, yaitu :

  1. Meyakini adanya Tuhan.

  2. Taat kepada Tuhan.

Segala sesuatu itu bermula dari hal yang paling pokok, termasuk dalam hal memilih agama. Oleh karena itu, konsep yang paling mendasar dalam agama adalah konsep Ke-Tuhanannya. Oleh karena itu, dalam memilih Tuhan maka haruslah sesuai dengan sifat Absolut, Unict dan Distinct. Dan dalam memilih agama maka haruslah agama yang memiliki konsep ke-Tuhanan seperti di atas.

C. Perbandingan Agama

Untuk menenentukan siapa Tuhan dan apa Agama kita, maka perlu kita lihat konsep Ke-Tuhanannya. Berikut ini adalah perbandingan agama-agama mengenai Konsep Ke-Tuhanannya :

Perbandingan Konsep Ke-Tuhanan Agama-agama.

Agama

Tuhan/

Konsep Tuhan

Absolut

Distinct

Unick

Nasrani

Trinitas

Hindu

Trimurti

Budha

Sidharta Gauthama

Islam

Allah SWT

+

+

+

Dll.

X

Keterangan ::

– : Tidak sesuai dengan sifat Tuhan.

+ : Sesuai dengan sifat Tuhan

Trinitas : Tuhan anak, Tuhan Bapak, Roh Kudus.

Trimurti : Brahma (Tuhan pencipta), Wisnu (Tuhan Pengatur), Siwa (Tuhan Perusak).

Dari tabel perbandingan agama di atas, maka Tuhan yang memiliki sifat-sifat Tuhan Absolut, Distinct dan Unict adalah Allah SWT. Dan agama yang memiliki konsep Ke-Tuhanan yang paling sesuai dengan sifat-sifat Tuhan adalah agama Islam. Sehingga Tuhan yang pantas kita sembah hanyalah Allah SWT. Dan agama yang harus kita ikuti adalah agama Islam.

Karena sifat manusia yang lemah dan bersifat relatif, maka manusia tidak dapat menjangkau Tuhan sebagai Dzat yang mutlak. Oleh karena itu, manusia pada hakikatnya tidak mengenal siapa Tuhannya. Namun Tuhan berkenan mengenalkan diri-Nya kepada manusia melalui wahyu-Nya yang disampaikan kepada orang yang dipilih-Nya, yaitu para Nabi dan Rasul. Inilah perkenalan Tuhan kepada manusia yang tercantum dalam wahyu (yaitu Al-Qur’an) :

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (Q.S. Thaha [20] :14)

Perkenalan Tuhan yang memberi Asma (nama)–Nya sendiri sebagai Allah itu terbatas pada eksistensi-Nya, bukan substansi-Nya. Karena menyangkut substansi Allah, tidak mungkin manusia bisa menjangkau-Nya. Perkenalan Allah SWT juga tertuang dalam Q.S. Al-Ikhlas [112] ayat 1-4 :

Artinya : 1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (Q.S. Al-Ikhlas [112]: 1-4)

Dari uraian diatas, menggambarkan kepada kita bahwa Tuhan yang benar dan sesuai dengan akal manusia adalah Allah. Sekali lagi hanyalah Allah. Selain Allah adalah salah dan batal.

Karena Allah adalah Tuhan yang benar, maka sudah pasti seluruh sikap kesempurnaan berada pada_Nya. Jauh dari sifat curang dan tercela. Hanya saja, kebanyakan manusia lupa terhadap sifat ke Maha-an Allah itu. Sebagai contoh kita ambil sifat Allah “Al’alim” Maha mengetahui.

Dalam surat Al_Hadid ayat 4, Allah berfirman :

4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy[1453] Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya [1454]. dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”

[1453] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.

[1454] Yang dimaksud dengan yang naik kepada-Nya antara lain amal-amal dan do´a-do´a hamba..

Didalam surat Al Mujadalah, ayat 7 Allah berfirman :

7.” Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Dalam surat Al an’am, Ayat 59 Allah ~Subhanahu wata’ala~ berfirman :

59. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Dari tiga ayat yang kita kutipkan diatas, menunjukkan secara jelas kepada kita betapa Maha Melihatnya Allah, betapa Maha Malihatnya Allah. Terhadap sifat Allah itu, dan semua sifat Allah yang lainnya semua orang yang mengaku islam, sudah mengakuinya secara lisan dan keyakinan. Hanya yang masih dalam persoalan bagi manusia adalah sudahkah simanusia itu merasa selalu dilihat oleh Allah?? Sudahkah si manusa itu merasa seluruh perilakunya hidup dan kehidupannya diketahui oleh Allah?? Sudahkah si manusia itu merasa bahwa seluruh bisikannya didengar oleh Allah?? Sudahkah si manusia merasa bahwa ilmu yang ia miliki itu adalah pemberian Allah?? Sudahkah si manusia itu merasa bahwa kedudukan yang ia tempati itu adalah pemberian Allah…?? Sudahkah…??

Jika si manusia itu menjawab pertanyaan diatas dengan kata “BELUM”, maka perlu ditanya kembali dengan satu pertanyaan, Sudahkah si manusia itu mengenal dan mengakui ke Maha-an Allah dengan sebenarnya?? Tapi bila jawaban si manusia itu “SUDAH” maka berarti telah tumbuh dalam dirinya “Jiwa Tauhid” yang kokoh.

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. “(Q.S. Muhammad (47) : 19).

D. KONSEKUENSI.

Maka konsekuensi ketika kita sudah mengetahui konsep Ketuhanan ini. Tertuang dalam Al_Quran surat Al_Baqarah [2] : 165. dan Al_Quran surat At_Taubah [9] : 24. Allah~Subhanahu wa ta’ala~ berfirman :

165. “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

24. Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Kajian Ust. Ir. Muhammad Nuskhi ZK, Msi dan Drs. Bashrah Lubis dalam Bukunya.