Tiada kata stop untuk dakwah..!!!

Berhentinya gerakan dakwah berarti memberikan kesempatan kemaksiatan, kejahatan, dan kezaliman merajalela. Saat dakwah berlangsung saja, kemaksiatan dan kejahatan semakin “berkualitas”. Apa jadinya jika dakwah berhenti sama sekali???

Allah ~Subhanahu wata’ala~ menghendaki dakwah terus bergulir dengan memberikan gambaran kepada kita tentang dakwah kontinyu yang dijalankan Nabi Nuh ~’Alaihisalam~. Beliau melakukan berbagai cara, dan pendekatan – terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi- untuk menyampaikan hidayah Allah kepada umatnya. Firman-Nya saat menggambarkan dakwah Nabi Nuh itu,“Nuh berkata, wahai Rabbku sesungguhnya aku telah menyeru siang dan malam. Namun seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke muka-mukanya) dan mereka tetap mengingkari dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam.” (Nuh [71]: 5-9).

Rasulullah ~Sholallahu‘alaihi wasalam~pun diperintahkan Allah swt. untuk berdakwah secara kontinyu. “Wahai Rasul sampaikan apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika engkau tidak melakukannya maka sesungguhnya engkau tidaklah menyampaikan risalah-Nya.” Sedangkan keniscayaan kontinuitas dakwah ditegaskan dalam firman-Nya dalam ayat 108 surah Yusuf, “Katakanlah, inilah jalanku. Aku menyeru ke jalan Allah …”. Ad’uu (aku menyeru) dalam ayat itu adalah fi’il mudhari’ (bentuk kata kerja yang menunjukkan makna sedang dan akan terus berlangsung). Allah ~Subhanahu wata’ala~ telah menjamin, dakwah tidak akan pernah terhenti. Sabda Rasulullah saw., “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran. Tidak membuat mereka merasa rendah orang yang menghinakan dan menentang mereka, hingga datang kemenangan Allah kepada mereka.” Namun, Dia tidak menjamin pelaku dakwah akan bertahan di medan dakwah hingga menemui Robbnya.

Berbagai kendala, penyakit, dan godaan kerap menimpa da’i. Hal tersebut berpotensi menyebabkan da’i letih (futur) , bahkan –yang lebih bahaya- terseret ke luar gelanggang dakwah (insilakh). Urusan perjalanan dakwah memang berada di tangan Allah. Namun, kontinuitas keterlibatan dalam dakwah adalah urusan da’i itu sendiri. Untuk itu setiap da’i wajib mempertahankan diri agar tidak mengalami futur, apalagi insilakh. Hal yang perlu ditanamkan dalam dada para dai untuk mencegah futur dan insilakh adalah:

Pertama, ikhlas (al-ikhlas). Banyak ayat dalam Quran memerintahkan kita untuk selalu ikhlas dalam beraktivitas, termasuk aktivitas dakwah (QS. 98:5/33:52/6:162-163, dll.). Dengan keikhlasan,seseorang akan merasakan nikmatnya “beban” dakwah (matai’bud-da’wah), betapapun beratnya. Sebaliknya, beban yang sama akan dirasakan sebagai penderitaan dan siksaan oleh orang yang tidak ikhlas. Allah swt. Melukiskan kondisi tersebut dalam firman-Nya, “Dan di antara manusia ada orang yang berkata, kami beriman kepada Allah. Tapi apabila disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap ujian (yang ditimpakan oleh) manusia sebagai azab Allah (QS. 29:10) Ayat ini menggambarkan manusia yang takut mengalami penganiayaan karena ia beriman, seperti takutnya kepada azab Allah. Oleh karena itu ia meninggalkan keimanan disebabkan ketidakikhlasannya.

Kedua, sabar (ash-shabr). Sabar menurut para ulama adalah kemampuan menahan diri dan bertahan dalam hal-hal yang tidak menyenangkan. Begitu pentingnya kesabaran, sehingga dilustrasikan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya, “Sabar adalah cahaya.” Cahaya berfungsi sebagai penerang. Orang yang menapaki jalan dakwah yang membutuhkan cahaya. Oleh karena itu Allah swt. memerintahkan kita membina dan memupuk kesabaran ini. Salah satu cara yang dianjurkan-Nya untuk memupuk kesabaran adalah menjalin kebersamaan (ma’iyyah) dengan orang saleh atau orang yang bertekad menjadi saleh. Kebersamaan itu bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk. Antara lain kebersamaan dalan mengkaji Islam dan saling menasehati. Firman-Nya, “Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keredhaannya.” (QS. 18:28)

Ketiga, tujuan yang jelas (wudhuhul-ghayah). Tujuan yang jelas dalam berdakwah membantu kita melangkah dengan pasti tanpa kegamangan dan keraguan. Tidak mudah terpancing dan terjebak isu sesaat. Tidak gampang terperangah dan tertipu dengan fenomena kasat mata. Dengan itu pula, da’i akan berani bertahan karena menyadari bahwa ia berada di jalan yang memiliki tujuan besar dan mulia.

Allah swt. memerintahkan kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Dakwah termasuk dalam kebaikan itu. Namun sebelum mulai berlomba Allah memerintahkan kita menegaskan dan meluruskan orientasi dan tujuan lebih dulu, agar bisa bertahan sampai Allah mengumpulkan kita.
“Dan setiap orang mempunyai arah (orientasi) yang ia mengarah (menuju) kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kalian,” demikian firman-Nya dalam Al-Baqarah 148.

Keempat, menyadari tanggung jawab (al-istisy’aru bil-mas-uliyyah). Manusia akan sesat tanpa petunjuk Allah. Tugas da’i adalah mengajak manusia untuk sama-sama menyelamatkan diri dari kesesatan itu. Betapa besarnya tanggung jawab da’i untuk menjembatani petunjuk Allah itu. Rasulullah menggambarkan besarnya pahala yang Allah janjikan. Rasulullah saw. bersabda, “Allah memberi petunjuk seseorang karena (usaha)-mu (pahalanya) adalah lebih baik dari dunia dengan segala isinya.”

Rasulullah saw, imam para da’i, merasa tersayat-sayat hatinya melihat manusia yang tidak mau beriman. Allah swt. menerangkan, “Boleh jadi kamu (Rasulullah) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (QS. 26:3)

Dan kelima, peka terhadap segala tipu daya musuh (al-wa’yu bi makril-a’daa). Satu hal yang tidak boleh luput dari kesadaran para da’i adalah bahwa musuh-musuh Islam secara kontinyu melakukan upaya, terobosan, dan tipu daya untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Manuver mereka itu berjalan kontinyu, terencana, sistematis dan sistemik. Firman Allah, “Dan kamu (Rasul) akan senantiasa melihat pengkhianatan dari mereka (orang-orang Yahudi) kecuali sedikit saja dari mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. 5:13) Dalam ayat lain Allah menggambarkan bahwa musuh-musuh Islam melakukan makar untuk menyesatkan manusia. Nonstop 24 jam!!
“Berkatalah orang-orang yang tertindas kepada orang-orang (kafir) yang menyombongkan diri, ‘Bahkan (yang kamu lakukan adalah) makar di waktu malam dan siang. Yaitu dengan cara menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.”
(QS. 34:33)

Amatlah penting kelima sikap mental itu bersemayam dalam jiwa setiap da’i. Adalah hal yang amat melukai hati, saat orang-orang musyrik dan kafir secara kontinyu melakukan gempuran dan penghancuran kepada umat Islam. Sedangkan umat Islam asyik memelihara kontinuitas pertikaian, kedengkian dan permusuhan pada sesama. Bukan kontinyu dalam dakwah yang penuh kasih sayang, kebijakan dan husnuzhan terhadap sesama Muslim.

(Tate Qomaruddin, Sydney 6 Ramadhan 1420)