Bismillahirrohmanirrohim…
***
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah ~Subhanahu wata’ala~, penolong tentaranya dan yang memuliakan agamanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah dan qudwah kita, pemimpin perang kita, murobbi kita, Nabi Muhammad bin Abdullah ~Sholallahu ‘alaihi wassalam~, beserta keluarga, para sahabat, mujahidin dan orang-orang yang senantisa istiqomah mengamalkan sunnahnya hingga yaumil akhir nanti, Amiin
***
Taujih Rabbani : “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan -yang menyesatkan-, maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (al-Qur’an: 43: 36-37)
***
Taujih Syaikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah, Allahuyarham, “..Saya ingatkan ketika awal, masa muasasi dimulai. Ingat!! Qolallahu qola rasul. Kembali pada asholah. Komitmennya itu harus dibangun diatas dasar kepada keaslian. Jangan otak cerdas, kognitif, maju dengan panah-panah tetapi kosong hatinya, sombong terjadi, kebanggaan, bahkan snob. Enggak bangga lagi dengan islam, nggak bangga lagi dengan produk tarbiyah. Tetapi bangganya dengan sana sana sana. Termasuk menjadi-jadi tambah dungu, mentaklid cara-cara orang lain, padahal belum tentu benar..”
***
Perlu antum fahami saudaraku, belum ada di Indonesia ini partai berbasis kaderisasi yang kuat sesolid PKS, yang lain masih mengandalkan figure idolatry pada tokohnya. Demokrat itu bukan siapa-siapa tanpa SBY, partai Golkar tidak akan pernah berkibar tanpa akbar tanjung atau abu rizal bakrie, PDI-P tidak akan langgeng tanpa megawati, PAN hanya akan redup tanpa figure amin rais, sedangkan PKB hanya akan seperti anak ayam kehilangan induknya -disorientasi partai- tanpa almarhum abdulrahman wahid -gus dur-. Saya yakin suatu saat nanti partai tersebut akan rapuh dan kehilangan masa pendukungnya. Kecuali muncul nama tokoh –figure- baru yang ”bisa dijual” untuk mendongkrak suara dan menjaring masa
***
Perlu antum fahami saudaraku, PKS yang dahulu bernama PK (Partai Keadilan) adalah salah satu partai yang semula sangat saya harapkan menjadi directur of change, menjadi leader dan motor penggerak bagi perubahan di negeri yang sangat kelam ini. Partai yang berasal dari jamaah dakwah dengan berbasiskan kaderisasi yang kuat mengakar. Simpati dan harapan besar itu muncul manakala ada salah seorang anggota dewannya yang memarkir sepeda motor diruang parkir senayan yang mirip showroom mobil mewah
***
Subhanallah, betapa sederhana dan bersahajanya anggota dewan kita saat itu. Dahulu saat masih bernamaPK (Partai Keadilan) tajam lisan anggota dewan kita menyuarakan alhaq. Kita benar-benar memiliki taring untuk mengatakan tidak pada al-bathil. Saat itu saya begitu bangga dan benar-benar merasakan betapa izzah -kemuliaan- kita sebagai seorang muslim begitu tinggi. Bangga rasanya diri ini menjadi kader partai. Walaupun saat itu anggota dewan kita hanya berjumlah tujuh orang. Sedikit memang, tetapi menggigit, sedikit tetapi berkualitas, sedikit tetapi bisa menyeret salah seorang koruptor kelas kakap masuk kedalam penjara. Dan saat ini, saya tidak mendapati itu dilakukan oleh anggota dewan -elite- PKS
***
Kebanggaan saya semakin kuat menghujam manakala melihat militansi kadernya yang luar biasa. Mencitrakan diri sebagai ’partai dakwah’ dengan jargon bersih, peduli dan profesional menambahkan aroma keharuman dalam perjuangan. Tapi apa lacur saudaraku, seiring perjalanan waktu dan tuntutan jaman semuanya pudar. Semuanya berubah dengan cepat hari demi hari, fase demi fase. PKS sudah tidak yakin lagi dengan jati dirinya yang dulu. PKS mulai malu memakai nama islam dan mulai risih jika disebut sebagai partai dakwah. Hingga detik ini, saya teramat yakin jargon dan idiom lama itu masih melekat dan tersimpan baik didalam hati tulus setiap kadernya. Tapi kini hal itu hanya menjadi bumbu ’penyedap rasa’ saja saudaraku. Kenyataannya, semuanya jauh panggang dari api
***
Perlu antum fahami saudaraku, saya akan menyampaikan sedikit saja contoh perubahan yang terjadi dalam tubuh jamaah yang kita cintai ini. Hanya sedikit saudaraku, ’tidak banyak’. Tidak pula memaparkannya dari berbagai aspek dan sudut pandang, hanya sedikit saja.
-
Dahulu materi-materi al-wala wal-barro, ghozwul fikr, madza ya’ni intima lil islam, tarbiyah jihadiyah, tarbiyah ruhiyah, tarbiyah dzatiyah begitu marak dikaji disetiap lingkaran -halaqoh- dan menghujam pada diri kader aktivis tarbiyah saat itu. Kini semuanya sudah berubah total, materi-materi itu mungkin dianggap sudah usang dan dianggap mengganggu agenda politik partai
-
Dahulu perangkat tarbiyah untuk menjaga ruhiyah berupa mabit dan qiyamulail begitu ramai dihadiri oleh para kader. Kini tidur diatas kasur empuk menjadi pilihan utama para ikhwan karena lebih nyaman daripada mabit yang dingin dan banyak nyamuk
-
Dahulu kebersahajaan begitu nampak terasa, teduh mata ini melihat dan bertemu sesama ikhwah dengan pandangan ruhul jamaah. Sekarang berubah menjadi nampak begitu angkuh dan terlihat sangat cerdas saling mengintrik sabun colek antar kader
-
Dahulu qiyadah kita begitu qonaah dan tawadhu. Entah mengapa sekarang terlihat berubah. Menjadi begitu sakti, sangar dan ’didewakan’ dengan segala macam ide besar dan cita-cita politik yang menembus langit
-
Kesederhanaan bertukar menjadi kehidupan mewah, padahal saya paham betul dahulu masih pada miskin. Sudah petentang-petenteng seperti bos. Mulai sering tidak hadir jika diundang mengisi dauroh di kampus dan pengajian dipelosok desa karena ’sibuk’. Tak lagi suka ceramah dimasjid-masjid, karena tidak memberikan ’benefit’
-
Ukhuwah berganti menjadi sikat dan sikut, berlomba-lomba mencari order ceramah, permusuhan dan rebutan kursi caleg. ”..saya sudah habis 300 juta lebih..”
-
Pertemuan tersekat jenjang kader, amanah dan lini dakwah; ”gue syiasi, gue dakwi, gue ilmy!”. Senyuman selintas dan pelukan dengan tepukan basa basi
-
Keikhlasan berganti dengan rasa pamrih, rasa khawatir jika terlihat tidak aktif ber’amal dipartai atau wajihahnya. Tilawah qur’an karena merasa tidak enak dengan kader sejawat, hadir syuro karena perasaan tidak enak dengan mas’ul, bukan karena bagian dari prinsip dakwah. Takut dikatakan tidak amanah
-
Pro pada penderitaan rakyat kini berganti berlomba-lomba mencari proyek. Demi menjaga komitmen koalisi permanen dua periode dengan SBY,mempeti eskan banyak kasus besar demi menjaga eksistensi presiden agar terbebas dari pamakzulan, sedangkan suara rakyat yang menjerit seakan tidak terdengar. ”Ooh tidak benar akhi.. kami tetap memperjuangkan walaupun harus berhadapan dengan negara..”. Maaf, saya sudah tidak percaya! Basi!
-
Menjadikan SBY sebagai “midholah” (payung pelindung), dengan mengatakan, “Bapak Presiden SBY, bagi kami kebersamaan dalam koalisi ini bukan sekedar agenda program politik kami, tetapi itu merupakan aqidah kami, iman kami”. Subhanallah, luar biasa muroqib ’amm, ketua Majelis Syuro PKS ini, ’menjual’ aqidah dan iman demi koalisi. Dengan kitab tafsir apa agar saya bisa memahami maksud perkataannya?
-
Dan tidak aneh jika terkadang mengikuti selera rakyat. Rakyat suka yang ‘dilarang’ agama, harus diikuti selera mereka. Rakyat suka berjoget. Rakyat harus dipuaskan. Asal semua mendukung dan memilihnya. Nasyid sudah tidak laku lagi saat kampanye, lebih memilih band terkenal agar menarik minat hati orang ammah. Tidak berfikir panjang untuk mengeluarkan dana ratusan juta, yang penting rakyat terpuaskan dan entah dimana nilai manfaatnya. Kader pun memilih tsiqoh (percaya) sambil berkata, ”itu sudah disyurokan oleh orang-orang sholeh di PKS”
-
Aurat wanita seakan menjadi maklum saat artis terkenal bernyanyi dan bergoyang diatas panggung kampanye. Disaksikan ribuan pasang mata kader. Mereka tidak malu, tidak pula merasa risih. Para ummahat dan akhwat-pun seolah tidak merasa bahwa izzahnyadi injak, bahkan suami tercinta ikut melihat mendampingi. Ketika salah seorang al-akh yang hanif bertanya kepada Dewan Syari’ah melalui sms, ”’Afwan akhi, maksudnya kampanye PKS itu apa ya? Hukumnya apa yang begitu itu?”. Make your mouth shut, silent please! Bungkam!
-
Oligarki politik serta diinasty kekuasaan menggantikan perasaan tanggung jawab dihadapan Allah ~’Azza wa jalla~
-
Dahulu qiyadah kita begitu bersahaja dan menjadi tempat menumpahkan curahan hati. Sekarang berganti menjadi tampak begitu sangar dan penuh arogansi. ”Lo gak nurut sama gue, mending keluar aje, gabung sama partai laen atau bikin jama’ah baru!”, atau “Ente kesenayan lagi, gue irup darah anak bini lu!”. Saya membatin dalam hati, seperti itukah jamaah ini mengajarkan seorang qiyadah?
-
Kadernya sudah merasa pintar dan cerdas-cerdas, pandai beretorika, pandai mengeluarkan argumen, pandai mengeluarkan pendapat, pandai merekayasa, pandai bermain intrikan dan pandai berorasi. Sudah tidak berselera lagi untuk hadir bermajelis ilmu dalam tatsqif dan kajian mendengarkan nasehat ust dan taujih robbani
-
Liqo sudah sangat jauh dari semangat taqorub ilallah, ruhul jihad dan ittibaur rasul. Kini berganti membicarakan politik, rekayasa pemenangan ’dakwah’, curhat qodhoya, bahkan habis dengan diskusi ngalor-ngidul, candaan sia-sia. Selesai larut malam tanpa ada semangat baru yang membekas. Datang telat menjadi hal yang biasa dan sangat maklum. Tidak ada iqob, baik sekali sang murobbi. Tidak ada catatan materi dibuku, karena mutarobbi ’sudah hafal’ materi diluar kepala. Tidak pernah ada setoran hafalan alquran lagi, karena sang kader selalu mengatakan ”aduh, afwan ya akh, ane belom hafal, gimana ya, mm, hehehe”. Pulang liqo larut malam, kecapean, berat untuk qiyamulail, sholat shubuh kesiangan. Teruus begitu, tidak pernah berubah
-
Demo menolak intervensi asing terhadap negeri-negeri muslim, dimanfaatkan dalam mengolah isu untuk menakut-nakuti cikeas agar tidak direshufle. Sekarang semuanya hanya untuk kepentingan politik. Tidak bersungguh-sungguh berniat membela hak umat islam
-
Untuk memperlihatkan kepada publik bahwa PKS ini masih solid dan banyak pendukungnya, akhirnya show of force pada milad 13 PKS di Senayan. Dikerahkanlah orang-orang dari luar Jakarta, seperti: Banten, Karawang, Bogor dan Lain-lain. Tujuan politisnya juga jelas, untuk mempromosikan cagub-cawagub DKI Jakarta. Ketika salah seorang simpatisan ditanya, ”Apa motivasi ibu datang ke acara milad ini?”.”Aah enggak.. kite lagi jalan-jalan aje mas, maen aja ke Jakarta ngeliat monas begitu..”
-
Dahulu kita sangat bangga jika bisa demo besar-besaran mengepung kedubes AS di Jakarta menentang kebijkan standard ganda mereka terhadap negeri-negeri muslim, terutama di Palestina, Irak, dan Afganistan, tapi sekarang rute demo PKS sudah dirubah permanen. Pindah dari Monas, Patung Kuda dan akhirnya HI atau sebaliknya. Kedubes AS sudah tidak akan pernah menjadi target demo PKS lagi. Dan teriakan, ”Amerika Amerika.. Terorist Terorist..”. Jaminan mutu, sudah tidak akan terdengar lagi
-
Kini PKS sudah kehilangan sibghoh dakwahnya. Qiyadahnya lebih memilih melalui jalur taklimat qoror untuk mencuci otak kadernya, mereka sudah tidak berselera dengan tabayun dan diskusi para asatidz. Qorornya pun jelas: ”Jika antum masih mengkritisi PKS, silahkan antum keluar saja. Gabung dengan partai atau jamaah lain atau buat jamaah baru, lalu kita berfastabikul khoirot”. Masya Allah..
***
Begitu indah sebuah untaian penuh hikmah dari hamba Allah yang sholeh. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Jadikakanlah qudwah itu orang yang sudah mati, karena orang yang hidup, tidak pernah aman dari fitnah”
***
Perlu antum fahami saudaraku, demikianlah tadi keistimewaan PK (sekarang PKS) dibanding dengan partai lain. Saya juga sudah memberikan sedikit catatan ringan tentang beberapa perubahan yang terjadi selama ini. PKS masih bisa menjadi agent of change asal mau memperbaiki diri, PKS bisa meraih kemenangan jika mau bersabar dalam mentarbiyah umat, PKS tetap menjadi simpati rakyatnya jika tetap menjaga citra positif sebagai partai yang bersih dan peduli dengan memperjuangkan nilai-nilai moral, dan PKS pun akan senantiasa menjadi harapan bagi kadernya jika tetap menjaga kemurnian dakwah –asholah-, khittah perjuangan dan kesucian dakwahnya. PKS tidak boleh istijal (terburu-buru) dalam meraih kemenangan dakwahnya. Walaupun mihwar dakwah begitu cepat, tribulasi dakwah begitu luar biasa dan tuntutan dakwah begitu besar. Ingatlah saudaraku, kita ini hendak berdakwah dan mentarbiyah umat. Membina dan mendidik masyarakat adalah misi utama para nabi dan rasul, misi utama dalam jamaah kita
***
Betapa banyak hikmah yang bisa kita petik dari para pendahulu kita yang sholeh. Ada Nabi yang memasuki pintu syurga dengan begitu banyak pengikut, adapula yang masuk syurga hanya dengan sedikit pengikut, bahkan ada yang masuk syurga sendirian tanpa satupun pengikut. Apakah mereka gagal? Tentu saja tidak saudaraku
***
Perlu antum fahami saudaraku, tidak boleh alat (washilah-partai) menjadi tujuan dakwah, tidak boleh kursi kekuasaan menjadi ukuran kemenangan dakwah dengan mengabaikan aspek tarbiyah islamiyah dikampus dan masyarakat. Bukankah dakwah Rasulullah itu bermula dari pembinaan pribadi, keluarga dan masyarakat? Bukankah Imam Hasan Albanna dalam marotibul ’amalnya mengatakan hal yang serupa?
***
Dalam hal ini syaikh tarbiyah KH. Rahmat Abdullah –Allahuyarham- mengingatkan kepada kita, “..Jangan sampai nanti orang-orang tarbiyah dibenci gara-gara orientasi kekuasaan. Dia tidak boleh berbangga dengan bangunannya, lalu tertidur-tidur tidak pernah mengurus urusan hariannya. Tetap ia harus kembali pada akar masalahnya, akar tarbiyahnya, mahabit, tempat kancah dia dibangun..”
***
Dalam buku risalah da’watuna fii thaurin jadiid. Imam syahid Hasan al-Banna mengatakan; “Bisa saya katakan bahwa yang pertama kali kita siapkan adalah kebangkitan ruhani, hidupnya hati, serta kesadaran penuh yang ada dalam jiwa dan perasaan. Kami menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat, tangguh, hati-hati yang segar serta memiliki semangat yang berkobar, perasaan dan ghirah yang selalu bergelora, ruh-ruh yang bersemangat, selalu optimis, merindukan nilai-nilai yang luhur, tujuan mulia serta mau bekerja keras untuk mengapainya”. Subhanallah, sungguh indah taujih guru-guru kita
***
Perlu antum fahami saudaraku, dengan didasari rasa keprihatinan yang mendalam pada gerakan dakwah yang saya cintai ini, sesungguhnya saya memberikan perhatian yang besar atas sepak terjang qiyadah dan kader dakwahnya (jama’ah). Saya melihat jamaah ini sedikit demi sedikit mulai keluar dari prinsip awal pendiriannya. Mulai tergoda dengan hal-hal yang bersifat nisbi dan keduniaan, mulai terlena memasuki dimensi kebendaan. PKSmulai berani melakukan manuver politik yang luar biasa menelikung tajam. Dan celakanya, tidak banyak disadari oleh kader didalamnya. Entah karena memang tidak memahami perkembangan jamaah atau karena tidak mau tau, alias cuek. Semuanya dianggap berjalan dengan baik, lurus, tanpa cela
***
Perlu antum fahami saudaraku, masih ingatkah antum sebuah teori yang mengatakan bahwa kekecewaan itu berbanding lurus dengan harapan. Jadi, kekecewaan yang tinggi itu didasari oleh sebuah harapan -baca: cinta- yang tinggi pula pada PKS. Saya teramat percaya, bahwa kader-kader PKS itu bisa dan sangat mampu untuk berbaik sangka
***
Saudaraku, saat ini saya melihat banyak kader tidak interest dengan kondisi jama’ahnya. Bahkan ada kader yang sama sekali tidak mengenal qiyadahnya. Saya jadi bingung sendiri, lalu atas dasar apa para kader itu bisa tsiqoh bergabung dengan partai? Pemahaman menggunakan prinsip “al-hizbu huwal jama’ah, wal jama’ah hiyal hizb” (partai adalah jama’ah, dan jama’ah adalah partai) sebatas kalimat semata tanpa ada kontsruksi pemahaman yang dibangun dengan baik. Bahkan istilah partai dan jamaah-pun kini menjadi sangat rancu. Yang diketahui kader saat ini adalah, mereka harus beramal sebanyak-banyaknya karena bekerja untuk Indonesia adalah Ibadah. Biarlah kebijakan politik, urusan syari’ah dan aqidah diserahkan kepada qiyadah dan majelis syuro, kita cukup tsiqoh dan tho’at saja pada qiyadah
***
Alasannya sangat menarik dan berhujjah, ‘karena tidak ada jamaah tanpa ketaatan, seburuk apapun kondisi dan fitnah yang melanda, kita wajib taat kepada qiyadah’ (demikian salah satu petikan isi sms dari salah seorang ust di BPK DPP PKS). Jika kebijakan politik yang dibuat tidak melabrak nidzom ‘am dan nidzom asasi jamaah, setiap anggota syuro mengikuti proses musyawarah dengan benar dan tertib, maka hal ini tidaklah mengapa bagi saya untuk tho’at dan tsiqoh.Sekali lagi saudaraku, saya tidak melihat hal itu dilakukan oleh PKS
***
Perlu antum fahami saudaraku, perilaku dan sikap membebek itu bukanlah karakter seorang kader tarbiyah, sebagai seorang kader yang menjunjung tinggi nilai pendidikan yang dibangun atas landasan ilmu dan pemahaman, bukan taklid semata. Imam syahid Hasan Al- Banna mengingatkan kepada kita tentang makna tsiqoh, -at-tsiqoh, imti’nan fil qolbi-. Tsiqoh itu menghadirkan rasa ketenangan didalam hati, dengan ilmu dan pemahan yang benar. Dalam buku majmuatur rosail –risalah pergerakan-, Imam syahid melarang anggotanya untuk bersandar pada figure pimpinan atau tokoh, allahuyarham
***
Dalam buku majmuatur rosailbab risalah Hal nahnu qaumun ‘amaliyun Imam Syahid Hasan Albanna mengatakan; “..Kader adalah rahasia kehidupan dan kebangkitan. Sejarah umat adalah sejarah para kader militan dan memiliki kekuatan jiwa dan kehendak. Sesungguhnya kuat lemahnya suatu umat diukur dari sejauh mana umat tersebut dalam menghasilkan kader-kader yang memiliki sifat ksatria..”. Cobalah renungkan sejenak saudaraku, jika hari ini kita mengaku sebagai kader dakwah, model seperti apakah antum ini?
***
Perlu antum fahami saudaraku, sebenarnya, keresahaan saya terhadap jamaah sudah dirasakan sejak lama. Sejak hingar-bingar politik praktis pada sebelum dan sesudah pemilu 2009 lalu. Dari mulai komunikasi politik elite qiyadah, iklan kampanye partai dimedia, keputusan pemilihan calon presiden, pengkhianatan pada baiat cikopo, parade salaman, sampai pada perang antar caleg, hingga kisruh soal penetapan ketua DPD Kab.Bekasi. Jujur saja saudaraku,semuanya saya simpan rapat-rapat didalam hati dan saat itu saya masih berusaha bersabar dengan mengedepankan husnudzon tingkat tinggi, mencoba berbaik sangka bahwa semua itu merupakan rangkaian strategi politik menuju mihwar daulah (menuju tampuk kekuasaan). Sabar!
***
Qodarullah saudaraku, pada akhirnya, semua teka-teki tentang kepemimpinan, sasaran, arah, kebijakan, langkah masa depan yang akan dituju PKS, semuanya menjadi ‘clear’. Semuanya sudah terekpresikan dalam Munas II di hotel mewah the Ritz Carlton. PKS tidak lagi menjadi partai dakwah, yang memiliki jargon kebanggaan ‘bersih, peduli, dan profesional’,sekarang telah bermetamorfosis menjadi partai ‘terbuka’, yang diorientasikan bagi semua golongan. Dengan jargon baru,‘Bekerja untuk Indonesia’. Setelah sebelumnya, wacana menjadi partai terbuka sudah digulirkan pada pelaksanaanMunas II PKS di Bali tahun 2008 lalu, namun wacana ‘partai terbuka’ sempat gagal karena sebagian anggota majelis syuro keberatan dengan ‘ide besar’ ini. Qiyadahnya semakin ambisus saja, sehingga pada Munas selanjutnya di Ritz Carlton, ide ‘partai terbuka’ pun akhirnya hanya tinggal ‘ketok palu’. Berjalan dengan lancar, dan tidak ada ‘dissent’ (perbedaan), setuju secara aklamasi. Semua sepakat, PKS tidak menampik ada rencana perubahan pada AD/ART partai terkait dengan pengakomodasian kalangan non-muslim untuk menjadi pengurus dan pimpinan PKS disetiap level struktural partai
***
Perlu antum fahami saudaraku, itu baru PKS saja, ternyata ada hal lain yang begitu menyita perhatian saya, menambah daftar runyamnya suasana dan beban pikiran bagi saya selain permasalahan PKS, yaitu permasalahan dakwah kampus yang hingga saat ini belum menunjukkan perubahan yang lebih baik. Saya perhatikan hampir sebagian besar tandzim dakwah kampus bermasalah, pergerakan mahasiswa kini menarik diri kedalam, tidak ada yang berani bersuara lantang lagi mengkritisi pemerintah. Entah karena perwakilan kita ‘diatas’ sana menjadi mitra baik, bermusyarokah, berkoalisi dengan partai pemenang pemilu. Tentu antum sudah memahami itu semua
***
Yahya bin Mu’adz berkata,“Sebesar apa kesibukanmu terhadap Allah, sebesar itu pula kesibukan makhluk terhadap dirimu”
***
Perlu antum fahami saudaraku, sebesar apa keseriusan kita dalam mendekati dan mencari ridho Allah ~’Azza wa jalla~, sebesar itu pula respon masyarakat terhadap dakwah kita. Jika kita bersikap santai dan dingin dalam perjuangan ini, maka begitu pulalah sikap masyarakat terhadap seruan kita. Jika iman lemah, hati keras, maka kita melihat usaha kita kurang memberi manfaat meski kita banyak bergerak –bekerja-. Kesulitan kita dalam mengkader sangat terasa sekali dikampus ini, seakan-akan keberkahan dakwah itu pergi meninggalkan kita. Kesulitan dalam mengkader adalah bukti dari orientasi dakwah kita ada yang salah, serampangan dalam mengeksekusi program, asal dalam menaikan marhalah muda karena alasan kebutuhan ‘mendesak’ dan ‘kepepet’, ditambah dengan thullabi yang tidak tahu diri melihat ‘amunisi’. Saya melihat fokus kita tidak lagi mentarbiyah orang untuk mengenal islam dengan lebih baik dan mengantarkannya pada hidayah Allah, akan tetapi sibuk mengurusi perekrutan partai dan mengambil porsi besar pada agenda politik kampus
***
Mursyid ‘Amm ke-3 Ikhwanul Muslimin, syaikh Umar al-Tilmisani -rahimahullah- ketika beliau melihat keterjerumusan para pemuda di bidang politik dan kurang perhatian pada sisi-sisi Islam yang lain, menulis dalam buku Limadza A’damuuni: Tetapi sangat disayangkan di saat aku menulis tulisan ini pada tahun delapan puluhan, bahwa kegiatan generasi muda yang terjun dalam medan Islam, nyaris terbatas pada bidang politik saja. Seakan-akan mereka tidak mau kembali dakwah kepada agama Allah kecuali dari arah politik
***
Sesungguhnya dakwah kepada kekuasaan adalah perkara yang penting. Tapi apakah dakwah kepada kekuasaan ini akan menjadikan kita lalai dengan dasar agama Islam? Tentu jawabannya: Tidak.
***
‘Likulli marhalatin ahdafuha, likulli marhalatin rijaluha’. Setiap sejarah memiliki tantangannya sendiri, dan setiap sejarah memiliki rijal (pemimpinnya) masing-masing
***
Perlu antum fahami saudaraku, setiap orang memiliki fasenya sendiri dalam mengalami titik ledakan karena kejenuhan. Saat ini saya mengalami akumulasi dari banyaknya informasi masalah yang menumpuk. Kesabaran saya seolah tidak terbendung lagi saat mengetahui salah seorang anggota dewan bernama Arifinto melakukan hal sia-sia yang mengakibatkan ‘tsunami dakwah’, membawa ratusan fitnah menerjang kader grassroot dan masyarakat. Mau tidak mau, kepercayaan publik terhadap PKS sebagai partai yang bersih dan menjunjung tinggi nilai moral, kini sedikit demi sedikit mulai luntur. Saya pun baru memahami, ternyata semua itu hanyalah sebagian kecil masalah dari tumpukan gunung es yang suatu saat akan mencair dan runtuh. Sungguh semuanya akan menjadi “beban sejarah” yang terlampau berat dan amat sulit terlupakan saudaraku. Kita harus membayarnya dengan cost waktu dan social yang tidak sedikit. Terlepas itu sebuah ‘kecelakaan’ atau bukan, kader tetap harus membayar mahal atas semua yang terjadi. Kader pun dituntut untuk menjelaskan kepada masyarakat dengan jujur. Bukan qiyadah saudaraku, tapi kader dibawah. Allahu Akbar!!
***
Perlu antum fahami saudaraku, dari titik inilah, saya mulai memberanikan diri mengkritisi PKS melalui tulisan. Alasan saya memposting tulisan-tulisan tentang sikap elite difacebook karena saya sudah teramat ’mual’ dengan dunia politik dan sikap elite partai. Saya mengakui tulisan pertama yang saya posting bernada keras dan amat tendensius, ini karena saya sudah sangat marah. Sehingga tulisan saya soal kasus arifinto mendapat tanggapan yang keras pula dari ikhwah sesama kader, bagi saya ini sesuatu hal yang wajar. Ada aksi, ada reaksi.
***
Perlu antum fahami saudaraku, akhirnya yang terjadi adalah sikap antipati yang berlebihan terhadap saya. Kader tidak mencermati isi tulisan yang saya buat, melainkan terfokus kepada penulisnya –saya sendiri-. Bagi mereka, saya telah membuka aib orang lain. Padahal yang membuat saya sangat marah bukan soal beliau melihat gambar atau nonton ’film perjuangan’ ditablet-nya, tetapi statmen beliau dimedia yang menyatakan diri berfikir ulang untuk mundur dari keanggotaan DPR. Saya berpendapat bahwa beliau sangat tidak pantas mengatakan hal seperti itu karena secara tidak langsung publik pun dapat menilainya. Dari sini pula saya mulai disoroti oleh kader, banyak kader yang mulai membela anggota dewan tersebut dengan memberikan takwilnya masing-masing, tidak sedikit yang sentimen terhadap saya dan memberikan vonis serta julukan yang ”sangat hebat”
***
Perlu antum fahami saudaraku, banyak data dan informasi yang masuk ke saya. Baik melalui diskusi, forum sms, website, kiriman e-mail atau sms langsung dari beberapa asatidz. Selain itu saya juga searching di internet untuk sekedar melihat informasi seputar hiruk pikuk politik Indonesia.
***
Perlu antum fahami saudaraku, jika kita mencermati ilmu periwayatan hadist, maka bisa saya katakan bahwa pembentukan informasi berita yang disampaikan oleh media itu bernilai lemah –dhoif-karena terputus sumbernya
***
Walaupun kemungkinan besar rekayasa media sangat dominan terjadi, perlu kita fahami bahwa tidak setiap informasi yang disampaikan adalah salah –bathil-. Saya akui bahwa hari ini media masa menjadi penguasa yang sesungguhnya. Medialah yang membuat isu, mengarahkan persepsi, mengatur ritme sosial politik bangsa, memanage konflik hingga ’tawar-menawar politik’
***
Perlu antum fahami saudaraku, jika kita cermati, sebenenarnya tidak ada yang rugi dari pemeberitaan media masa, karena semuanya sudah diatur dalam undang-undang ITE. Sekalipun pemberitaan itu fitnah dan dusta. PKS bisa dengan sangat mudah secara langsung mengklarifikasi dan memberikan hak jawabnya. Melakukan klarifikasi media masa tidak menyita banyak waktu, toh ada humas yang siap memberikan pernyataan sikap. Jika ternyata media masa itu berbohong dan melakukan fitnah. Bersyukurlah PKS karena bisa memberikan somasi, menuntut, bahkan memperkarakan media masa yang telah membuat fitnah tersebut. PKS juga akan mendapatkan ’benefit’ tambahan bagi jamaah karena menerima uang denda. Tidak ada hal rugi dari sebuah media, yang ada justru PKS malah membiarkan informasi salah dan fitnah itu dibaca oleh jutaan pasang mata karena tidak pernah diklarifikasi sama sekali, ada unsur pembiaran. Dan anehnya, kadernya diperintahkan agar tidak percaya pada media masa
***
Perlu antum fahami saudaraku, apapun namanya, media akan terus menyampaikan informasi dan pemberitaannya, kecuali telah mendapatkan intervensi pelarangan terbit, ancaman dan suap politik untuk menutupi sebuah kedzaliman. inilah media. so, its fine!
***
Sedikit curhat, beberapa bulan belakangan ini saya merasa sangat sedih sekali. Semenjak kajian saya diboikot dan saya dibilang macem-macem oleh kader. Dibilang tukang buka aib orang, tukang fitnah, tukang ghibah, barisan sakit hati, kader yang kecewa dengan PKS, dibilang kurang kerjaan, dibilang melemahkan jamaah, bahkan ada ikhwah yang menyarankan agar saya membuat jamaah aib dan ghibah saja, Dan yang paling membuat saya sakit hati adalah kuliah saya dibawa-bawa. -astaghfirullahal adhim-
***
Semenjak kejadian itulah saya merasa sangat terpukul, sakit hati, dan sedih yang berkepanjangan. Sampai-sampai saya tidak kuliah selama dua bulan lebih dan mengurung diri dikosan. Saya merasa sangat kehilangan, saya merasa sangat bodoh memahami makna ghibah, semangat saya serasa terbang keluar dari jasad seperti asap, saya seperti tidak memiliki izzah –kehormatan- dan muru’ah -citra diri- pun seakan-akan hancur. Jujur saja, sepanjang hidup saya, baru kali ini merasakan keadaan yang sangat terpuruk, depresi berat dan futur yang berkepanjangan. Faghfirli ya rabbi…
***
Inilah saya saudaraku, saya begitu lemah, keimanan dan keikhlasan saya mudah terganggu, saya hanya tukang contek alquran, hadist dan perkataan ulama, saya bukan ahli tafsir, saya bukan ahli hadist, hafalan quran saya pun buruk. Saudaraku, saya tidak sekuat, seistiqomah dan sesabar kader yang lain, saya tidak secerdas qiyadah saya distruktur partai, saya tidak pandai menafsirkan logika-logika para qiyadah, saya tidak ingin larut dengan hal-hal yang tidak pasti dari permasalahan politik yang bias dan abnormal, saya hanya ingin kehidupan saya tenang dan bahagia mengikuti aturan islam, saya hanya bisa melihat, merasakan dan meraba-raba apa yang terjadi, saya tidak mau mempersulit diri dengan hal yang ‘ghoib’. Yang saya bisa hanyalah bertaqwa kepada Allah sebisa dan semampu saya. Saya bersyukur karena masih dapat menangis, semoga ini pertanda hati saya tidak mati. Saya bersyukur karena Allah masih mengkaruniakan keimanan walaupun sedikit
***
Kepada ikhwah yang merasa mendapatkan ilmu dan manfaat dari tulisan ini, saya katakan bahwa kalau itu memang ilmu yang benar, maka itu datangnya semata dari Allah Ta’ala. Kalau salah, maka itu datang dari kelemahan saya. Semoga Allah mengampuni saya dan kita semua
***
Kepada ikhwah -dan pengurus PKS- yang merasa jengkel dengan tulisan-tulisan saya, setulusnya saya mohon maaf. Tidak ada sedikitpun niat saya kecuali untuk menjaga jama’ah tetap berada pada rel dakwah
***
Permohonan maaf yang mendalam terhatur kepada keluarga tercinta, para murobbi tercinta yang sempat membina saya -ust hasyim kurdi, ust marhadi, ust nur yasin, ust luthon alfaridhu dan ust hermawan prasojo- antum semua adalah guru saya, kepada teman liqo dan kampus, kepada ikhwah di struktural dpd banyumas, sahabat perjuangan, dengan setulus hati saya memohon maaf kepada antum/na atas semua salah, cacat dan khilaf selama ini. Maafkan saya karena telah banyak menyita fikiran antum, saya telah banyak merepotkan antum
***
Kepada ikhwah yang selama ini sudah mengenal saya secara langsung, maka hubungan ukhuwah kita tidak akan putus kecuali Allah menghendaki demikian. Hak-hak sesama muslim tetap terjaga. Kepada ikhwah yang belum mengenal dan bertemu saya secara langsung, mudah-mudahan suatu saat Allah mempertemukan kita
***
Kepada para asatidz, ikhwah dan forum sms yang selama ini sudah mendukung, menjaga dan menasehati saya, mengkritisi saya kalau saya keliru, semoga Allah Ta’ala membalas antum semua dengan kebaikan
***
Kepada semua ikhwah, saya menyadari bahwa ujian terberat dalam berjamaah muncul dari dalam jamaah itu sendiri, anggaplah apa yang terjadi dalam jamaah ini adalah sebuah ujian bagi sebuah gerakan dakwah. Sebuah ujian yang sudah ratusan mungkin ribuan kali ditimpakan kepada sebuah kaum, ada yang selamat tapi lebih banyak yang gugur, karena ujian dalam bentuk kenikmatan duniawi memang lebih berat daripada ujian berupa kesulitan
***
Syaikhut tarbiyah K.H Rahmat Abdullah, allahuyarham. Telah mengingatkan kepada kita akan hancurnya nilai-nilai luhur seiring kerasnya hati karena kian jauh dari Allah ~’Azza wa jalla~. Telah disampaikan oleh beliau dalam pilar asasiyat. Tarbawi edisi 83/ 29 April 2004:
—
“Ketika anak-anak bangsa tak lagi mampu memahami sindir sampir, petatah petitih atau kias metafor, maka itu pertanda kiamat bangsa itu sudah diambang pintu. Tentu saja tidak dimaksud dengan kiamat itu, kehancuran fisik, melainkan kiamat nilai-nilai mulia yang selama ini mereka hayati. Mereka telah hidup dalam dimensi-dimensi kebendaan yang pekat, dominan dan refleks”.
***
Segala puji bagi Allah, rabb semesta alam. Kini saya pun menyadari bahwa kesalahan terbesar dalam hidup saya, ternyata selama ini saya sangat mencurahkan harapan yang sangat besar kepada PKS, saya melupakan Allah sebagai tempat meminta segala sesuatu (Allahusshomad) QS. 112:2 dan tempat menyandarkan harapan. Saya pun menyadari betul bahwa saya begitu lemah, keikhlasan saya mudah terganggu dan penyakit hati mulai menyebar dengan cepat saat saya marah dan emosi
***
Ibnu Taimiyah didalam Majmu Fatawanya jilid 1 menuliskan, “Berharaplah pada Allah ditengah-tengah manusia dan jangan berharap kepada manusia dijalan Allah. Takutlah kepada Allah ditengah-tengah manusia dan janganlah takut kepada manusia dijalan Allah”
***
Alhamdulillah dengan hati yang yakin, mantap dan ringan, dengan menyebut asma Allah ~’Azza wa jalla~ saya menyatakan keluar dari struktural PKS. Tidak lagi menjadi kader partai, dan sama sekali tidak ada rasa kebanggaan. Secara perlahan dan sedikit demi sedikit saya mulai melepaskan PKS dari hati dan pikiran saya dan alhamdulillah saya merasa lebih ringan. Semoga kehidupan saya selanjutnya lebih barokah, lebih fokus pada kuliah dan masa depan saya, bisa lebih tenang dalam berdakwah, lebih sabar dalam membina masyarakat, serta dapat lebih adil dan bijaksana dalam berukhuwah dengan saudara saya baik di tarbiyah ataupun jamaah dan harokah lain atas landasan islam dan ukhuwah islamiyah. Insya Allah.
***
Taushiyah terakhir saya sebagai penutup tulisan ini, “Betapa banyak orang bersama kami, tapi sesungguhnya mereka itu hakikatnya tidaklah bersama kami. Namun sebaliknya, betapa banyak orang yang tidak bersama kami, tetapi sesungguhnya mereka bersama kami -karena berjalan pada visi misi, prinsip dan manhaj dakwah yang lurus-“. Demikianlah kaidah dalam dakwah mengatakan. Saudaraku, sunnah dalam dakwah ada yang tetap dan berubah. Begitu pula dengan PKS, begitupula dengan saya
***
Wallahu ‘a lam bisshowab..
Purwokerto, 1 Sya’ban 1432 H. 3 Juli 2011. 14:35 WIB
***
-Kembali pada asholah dakwah..!!-
Agus Supriyadi
***
Catatan : Qodarullah tanpa disangka, ternyata tanggal 3 Juli bertepatan dengan hari lahirnya syaikh tarbiyah –almarhum- K.H Rahmat Abdullah –allahuyarham-. Semoga disuatu masa nanti, akan lahir kembali murobbi seperti beliau, murobbiyah seperti –almarhumah- Hj. Yoyoh Yusroh -allahuyarham-. Saudaraku, ternyata Allah Ta’ala begitu mencinta mereka. Semoga Allah memasukkan beliau kedalam syurga firdaus, insya Allah. Amiin
***
Email : agus.igaz@gmail.com
Blog 1 : http://mujahidallah.wordpress.com
Blog 2 : http://embundawah.wordpress.com
Blog 3 : http://tarbiyahbukanpks.wordpress.com
4 Juli 2011 at 20:43
emh.. bingung mau komen apa…
4 Juli 2011 at 23:02
Uhibukum fillah akh evan..
4 Juli 2011 at 23:09
Dahsyat! inilah syaja’ah (keberanian) untuk mengungkapkan kebenaran! ALLAHU AKBAR!
5 Juli 2011 at 05:48
Kalau ente kecewa..sampaikan pada struktur diatas antum. Atau Ente bikin partai baru aja sono..apakah akan lebih baik dari PKS? ane yakin 100% tidak akan lebih baik. Budayakan tabayyun..
5 Juli 2011 at 09:21
ijin copas buat mutarobi saya yah.jzk
5 Juli 2011 at 21:53
amal : udah disampaikan
cheng ho : dilangit masih ada awan kagak?
pembela kebenaran : saya ini lemah,jadi cuma pandai curhat. harap maklum
6 Juli 2011 at 05:55
Smg mnjadi titik awal pencerahan bahwa CUKUPLAH SUDAH umat ini terpecah dan saling mnjelekkan bahkan memfitnah (sesuatu yg lazim masa saya kuliah dulu). Telah nyata kebencian kaum kafir dan telah nyata kerusakan yg amat besar ini dikarenakan kemaksiyatan kita akibat melalaikan aturan-Nya, dan tentunya akibat melenceng-nya kita dari ke-istiqomah-an. Na’udzubillaah!!
6 Juli 2011 at 06:03
hari ini tepat 06 juli tanggal kelahiran ane, bisa jadi ini menjadi kado muhasabah yang mendalam untuk lebih memahami dari rentetan panjang banyak hal yang belum ane fahami..wallahu’alamm… innamal ‘amalu binniat
6 Juli 2011 at 06:21
dua priode saya dukung PKS. sekarang maaf sama dengan admin blog ini good bye PKS dan mending golput wae
6 Juli 2011 at 06:32
i knew
6 Juli 2011 at 07:42
Bismillahirrahmanirrahim
seorang pendakwah yg ikhlash, tidak terpengaruh dgn kondisi baik lingkungan, maupun kerabat dekatnya, apalagi teman2nya…
Sebagai suatu sunnatullah, bhw dlm barisan dakwah, keimanan dan ketaqwaan amatlah beragam. itu bukan hny di jaman pks, tetapi di zaman pr Nabi SAW (ingat dg peristiwa Uhud), maupun sahabat. Krn itu, Muhammad al Fathih, mencari pasukan yg TIDAK PERNAH LUPA QL, TDK PERNAH LUPA SHAUM senin dan kamis….
Masalahnya; bgmn seleksi itu bisa dilakukan? makanya tarbiyah, dan lamanya tarbiyah itu menjd salah satu seleksinya. yg jarang hadir, tent tdk lbh baik dr yg sering hadir dst…
Persoalan lain, bgmn menyeleksi profesionalisme? dg seabrek kader dr SMP s/d doktor, mana yg MAMPU mengemban amanah dakwah, baik di parlemen maupun di pemerintahan…. Dan seleksi spt itu BUTUH WAKTU, TIDAK ADA YG SIM SALABIM. Bukankah pr sahabat jg GROGI ketika diminta perang pd pertama kalinya (perang Badar). Semakin tinggi keimanannya, tentunya smkn cepat penyesuaiannya…krn itu, SENGAJA, kader2 yg dinilai terbaik itu menempati pos2 itu, dan DIEVALUASI siapa yg mampu siapa yg tidak? Bukankah sdh banyak yg di PAW kan? Itu artinya pks SERIUS dlm menghadirkan kader2 yg memang benar2 LAYAK. Klo masalah mereka menjd kaya dst, kan mereka memang mendpt gaji yg tidak biasa. Selama itu sesuai dg aturan, knp kita tdk ridho? minimal turut senang ada kader yg sdh layak hidup ^^. Klo kemudian dlm proses pembelajaran, mereka banyak mengalami kekalahan, namanya jg dunia baru, belum paham benar ruang lingkupnya…. dan menurut saya sih, itulah HARGA yg harus dibayar selama menjalani PEMBELAJARAN.Alhamdulillah, setelah 12 thn terlibat dlm kegiatan legislasi maupun eksekutif, kader2 PKS mulai menunjukkan identitasnya (mdh2an anda jg bisa merasakan perubahan ini).
Terkait dg JARGON bersih, peduli, dan profesional. Mungkin akan semakin kelihatan seandainya anda mengikuti perjalanan mereka di eksekutif. Bukankah mereka mampu membuat kebijakan2 unt mencegah praktek korupsi? Bukankah mereka mampu mengatasi bencana alam di Sumbar dg proyek 1000 rumah sederhana? bukankah mereka jg SELALU terjun ke lokasi2 bencana? Pun seandainya ada mereka2 yg ditangkap, cobalah lbh menelusuri, apakah itu murni kejahatan, atau jebakan..
dalam tema Islam adalah rahmatan lil `alamin, saya kira, memang sdh SEHARUSNYA bg PKS unt menjalin komunikasi dg berbagai suku, agama, maupun budaya. apakah kita akan ikuti langkah harakah sebelah, yg terkesan eksklusif, tdk berinteraksi dg berbagai orang, sementara mengusung khilafah adalah solusi?????
klo dlm kacamata saya, pks masih sesuai dg asholah dakwah. CUMA, memang harus berubah wajah. Dan bukankah itulah ciri2 HIDUP. apakah anda akan suka, seandainya anak anda, meski sdh berumur 20 thn, tpi masih spt bayi dlm segala hal???? krn itu, saya akan tetap bersama dakwah dan mengikuti perkembangan mereka, turut mengawal pertumbuhannya dll.
salam ukhuwah.
6 Juli 2011 at 08:00
Jujur belum semua kubaca nih curhat… karna materinya berat apalagi menyangkut bangsa ini, tapi arahnya mungkin saya tahu. mudah2an apa yang antum tulis adalah kebenaran adanya. adanya baiknya kita renungkan firman Allah; fal yaqul khoiron auliyasmut, jika belum/tidak punya kekuatan untuk mengubah keadaaan berdoalah agar kuat menghadapi semuanya dan berdoalah agar diberi kekuatan oleh Allah untuk mampu mengadakan perubahan. jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Amiiin…
6 Juli 2011 at 08:27
jujur belum saya baca semua nie curhat..tapi arahnya mungkin saya tahu..sedikit renungan firman allah; fal yaqul khoiron auliyasmut, berdoalah agar kuat menghadapi semuanya dan berdoalah agar diberi kekuatan untuk mampu mengubah keadaan atau mendesign PKS mjd spt ikhwanul muslimin misalnya, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. jika Allah berkehendak Kun fayakun… tetap semangat dan jangan pernah mundur satu langkahpun…
6 Juli 2011 at 11:58
jgn bosan ingatkan yg salah.. Bs jd,adanya antum adalah perantara Allah utk jamaah tsb.
Utk mrka yg mengata2i barisan sakit hati,dll, ane yakin antum faham akh.. mrka blm seutuhnya memahami ukhuwah..
Lapangkan dada seluas2nya.. Smga Allah membalas kebaikan antum..
ane insyaAllah terus brtahan.. Membenahi yg salah.
6 Juli 2011 at 15:15
lemah tapi belagak kuat ya om …
7 Juli 2011 at 08:06
subhanallah akh,..
sy tau perasaan njenengn,..
barakallahu fiikum,…
sy juga merasakan hal yg sama,..
7 Juli 2011 at 12:01
Nice post……………………
8 Juli 2011 at 20:38
bagi saya, manhaj tarbiyah ini sudah sempurna. saya tidak mempermasalahkan soal dakwah parlemen, saya pun mendukung dakwah parlemen. soal gaji elite dan kekayaan. saya pun tidak peduli. bagi saya yang harus peduli adalah mereka-mereka itu (para elite). silahkan antum baca buku ‘tarikh alkhulafa imam asy shuyuthi’..
memang benar, banyak kacamata untuk menilai PKS. saya akui itu. mungkin ada yang sama-sama mengunakan kacamata politik seperti para elite di parlemen..
saya mah sederhana saja ikhwah! silahkan antum rapihkan itu kajian, tatsqif dan liqo pekanan, saya melihat sangat “belepotan”..
kuantitas ok, kualitas nol..
emangnya antum ini mau dakwah dengan apa kepada umat? ‘afwan
8 Juli 2011 at 20:42
to all ikhwah yang sudah mampir, ana ucapkan jazakumullahu khoiron katsiiron. tetap berdakwah..
10 Juli 2011 at 14:46
Sabar mas Agus..saya juga senasib…saya sakit hati sama PKS karena udah ditipu.. katanya dakwah ilaLlah..eh malah dakwah demi kekuasaan menghalalkan cara2 yg haram (tentu mereka akan menyanggah perkataan sy ini dg berbagai pembenaran yg jaauh dari dalil Qur’an dan Sunnah!-kebanyakan mereka mengandalkan ra’yi/akal karena mereka bodoh dalam hal agama))..sy jg sudah berlepas diri dari PKS. SAtu yg jadi fokus sy di curhatan antum yaitu ini: Dahulu qiyadah kita begitu bersahaja dan menjadi tempat menumpahkan curahan hati. Sekarang berganti menjadi tampak begitu sangar dan penuh arogansi. ”Lo gak nurut sama gue, mending keluar aje, gabung sama partai laen atau bikin jama’ah baru!”, atau “Ente kesenayan lagi, gue irup darah anak bini lu!”.
Apa bener itu keluar dari mulut org ‘kerajaan langit’ ?? Saya sangat marah jika itu benar.siapa dia? boleh saya tahu? Sungguh bangsat benar dia ngaku2 aktivis dakwah!
10 Juli 2011 at 20:24
subhanalloh walhamdulillah…hanya Yang Maha Mengetahui dan Maha Benar yang memang tahu yang sebenar-benarnya. Anggap saja saya adalah orang yang awam…dan memang begitu keadaannya sih. Tapi insya Allah apa yang akan sy sampaikan ini benar2 dari hati yang tulus dan tidak ada tendensi apapun kecuali untuk mencari ridhoNya. Yang pertama, kepada pihak PKS yang merasa sama sekali tidak bisa menerima tulisan tadi…sy sangat yakin bagi para PKS-ers yang masih loyal pada dakwah justru akan lebih termotivasi dalam keistiqomahan dakwah dan benar2 akan mengevaluasi apa yang telah dikerjakannya….jadi jadikan semua fakta2 menurut penulis tadi dijadikan pemecut untuk introspeksi dan memperbaiki guna menuju lebih baik. Adapun bagi penulis dan pihak2 yang justru senang dengan adanya penyebutan kekurangan suatu jamaah … sy sangat setuju dan mendukung atas kritisnya, adapun satu hal yang kurang sy setujui yakni tulisan tersebut seakan-akan men-general kan bahwa warga suatu jamaah baik yang kader ataupun simpatisan telah melakukan kesalahan2 yang disebut tadi….andaikan saja penggunaan katanya adalah bbrp oknum telah berbuat salah, sy rasa lebih bijaksana. Faktanya memang tidak smua terjadi demikian bukan. Kasihan sekali jika sekian juta warga PKS dihakimi demikan …..Padahal banyak juga khan yang subhanalloh menjadi inspirasi dlam gerak para pandakwah…. semoga dapat dimengerti…..
11 Juli 2011 at 06:27
bagi para pendukung keluarnya muslimah ke jalan-jalan untuk bermonstrasi :
http://farisna.wordpress.com/2011/07/02/seandainya-para-muslimah-yang-berdemo-itu-tau/
semoga bermanfaat
11 Juli 2011 at 14:38
#abu shofi: antum lebih faham sepertinya..
#endra: kelemahan saya untuk menjangkau seluruh nusantara, dan ini sangat tidak mungkin. tentunya saya akui bisa jadi memang tidak semuanya seperti itu. silahkan antum/na murojaah sendiri saja melalui Thullabi atau DPD masing-masing..
#farisna: soal demo, pernah ana bahas..
28 Juli 2011 at 05:19
Teruntuk akhi @Matmiqy
Afwan akh, tidak ada yang ingin meninggalkan dakwah ini, tidak ada seorangpun karena dakwah adalah kewajiban setiap muslim
Ketika seseorang memutuskan untuk pergi dari suatu jamaah bukan berarti geraknya akan berhenti disitu, tapi dia akan bergerak di ranah lain tentu untuk membangkitkan nilai dakwah.
Yang disayangkan adalah kepergian (sebut saja generasi sakit hati) ini bukan karena keinginannya pergi dari jamaah dakwah, tapi karena “diusir” baik secara halus maupun kasar dan terang2an. (kebetulan ane denger sendiri dari orangnya (pengelola dakwah kampus)). Sungguh disayangkan. Mereka melepas kami yang (peduli) ini dengan dalih tersebut di catatan akhina Agus diatas. Hanya karena berselisih faham, kami dilempar dari jamaah. Ane rasa itu bukan sikap dan sifat seorang muslim, entah wangsit dari mana hingga sikapnya seperti itu?
Ane jujur saja, sudah melepas ini sejak 2007 silam, ane tidak lepas dari liqoat, tapi ane lepas dari segala aktifitas berbau kepartaian. Alhasil, entah kenapa saat ini terjadi regulasi di kampus, ane tak sedikitpun dipanggil untuk pergantian murabbi baru. sangat disayangkan,
5 Agustus 2011 at 17:27
@abi hariri: kelakuannya ngikut atasannya, gak usah heran. soal sakit hati, semoga marah dan benci hanya karena Allah..
25 Agustus 2011 at 13:55
Assalamu’alaikum.
Al Akh yang Sholeh,, Antum adalah Da’i yang di dambakan oleh Ummat dan Jamaah ini. Dan sudah sepatutnya seorang Da;i, seorang Mukmin yang berjuang untuk Qolallahu qola rasul. Kembali kepada Asholah Dakwah berbuat yang cakap. INGAT dari mana Antum berasal? dar mana awal Antum mengenal Dakwah ini? Waktu terus berjalan Akhi…. Seorang Kader Dakwah hendaknya dinamis, layaknya Bola Es yang semakin memutar maka ia semakin besar. Coba Antum Lihat Bagai mana perjuangan Ikhwah2 kita di Mesir. Berjuang Maximal dengan melihat kondisi kekinian. Sampai Akhirnya Rakyat Mesir pun tahu bahwa perlu adanya Reformasi birokrasi dan Politik. Dan itu tidak lain dan tidak bukan harus masuk dan terjun didalamnya untuk melakukan pewarnaan dan perubahan.
Ana, Affwan. Ingin menjadi saudara Antum karena Allah.
9 September 2011 at 09:35
@mujahidallah
Insya Allah ane sebenernya tidak mempermasalahkan perasaan sakit hati, tapi hanya menyayangkan sikap mereka,
Sebenernya kalo ane lihat dan amati, kebanyakan orang2 yg berselisih faham adalah orang2 yang berada di grade menengah bawah dalam artian orang2 yang baru faham akan tarbiyah atau berada di pertengahan. Sedangkan mereka2 yg diatas terlihat adem ayem dengan permasalahan seperti ini.
20 September 2011 at 14:39
sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini tlah berpadu
berhimpun dalam naungan cinta-Mu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam cinta-Nya
kuatkan lah ikatan-Nya
kekalkanlah cintaNya
tunjukilah jalan-jalanNYa
terangilah dengan cahayaMu
yang tiada pernah padam
ya Robbi bimbinglah kami..
amiin..
11 Oktober 2011 at 07:58
Sebagian betul sebagian berlebihan. Yang betul untuk introspeksi, yang berlebihan mungkin perlu otokritik dari penulis. Contoh penyebutan perubahan AD/ART mungkin penulis perlu melihat AD/ART yang lama dan baru, ada perubahan nggak ? (ingat kata2 ust Surahman di mata najwa)
1 November 2011 at 17:28
saya pribadi tidak pernah mempermasalahkan bagi orang yang masih bertahan di partai atau sudah keluar
tapi hendaknya jadilah orang-orang yang mutawasithun
pujilah yang layak dipuji
belalah yang layak dibela
Kritiklah, yang layak dikritik
lakukanlah keduanya secara terukur
tidak membela secara membabi buta
tidak pula mengkritik tanpa perasaan
mungkin memang pernah melakukan keburukan
tapi apakah pantas kita melupakan kebaikannya?
ada 2 hal yang harus kita ingat
1. kebaikan orang lain terhadap kita
2. keburukan kita terhadap orang lain
ada 2 hal yang harus kita lupakan
1. kebaikan kita terhadap orang lain
2. keburukan orang lain terhadap kita
mudah-mudahan kita bisa menjadi orang-orang yang mutawasithun
jadi ingat sebuah hadits
Diperlihatkan kepadaku neraka kebanyakan penghuninya kaum wanita karena kekufuran mereka. Para sahabat bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Nabi Saw menjawab, “Mereka mengkufuri pergaulan dan kebajikan (kebaikan). Apabila kamu berbuat ihsan kepada seorang dari mereka sepanjang umur lalu dia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkannya dia akan berkata, “Kamu belum pernah berbuat baik kepadaku.” (HR. Bukhari)
dari buku 1100 hadits terpilih Dr Faiz Almath
10 November 2011 at 17:03
Saya hanya simpati dgn PKS krn partai ini pd wktu dulu berani dgn lantang mnyatakan partai dakwah.
Manuver militansi yg luar biasa dibuktikan baik dr kader maupun anggota legislatif.
Dulu PKS sering melakukan demo besar untuk mengecam umat Islam yg sedang tertindas, namun KINI tiada lg.
Dulu anggota Legislatif mengembalikan uang suap kpd KPK, namun kini KPK malah minta di bubarkan…
Apa yg tjd pd PKS??PKS skrg tdk sperti dulu…
Kembalikan kjayaan PKS era Hidayat Nur Wahid…
9 Desember 2011 at 10:58
mana buktinya ???atau hanya prasangka buruk ???pks tidak ada mabit, materi halaqoh gak berkualitas, gak ada target hafalan ??baru2 ini ada mukhoyam al quran nasional yang kedua () lihat dijalanpanjang dot com, ada program hafalan di berbagai dpd sperti dpw jateng.., ada program tatsqif rutin, contoh di solo..kader pks mendirikan 4 sekolah islam terpadu, pesantren mahasiswa dan pusat kajian Islam..qiyadah bermewah2an..??/hehe coba search aus hidayat nur beliau sering ke dpr naik bis daripada mobil pribadi…penyimpangan dilakukan personal, bukan manhajnya..para sahabat pernah melakukan penyimpangan yang mengakibatkan mereka saling bunuh..ingat perang shiffin ??ingat juga perkataan khawarij yang menganggap pemimpin umat telah mengkhianati dan memecah belah umat dengan jatuhnya korban jiwa yg tidak sedikit. mereka juga keluar dari barisan dan membuat barisan sakit hati..setiap jamaah manusia pasti ada barisan sakit hati..apalagi cuma jamaah PKS..itulah sunnatullah..siapa yg tetap istiqomah??/
11 Desember 2011 at 12:51
#abdurrahman : kamu lucu..^^
11 Desember 2011 at 19:56
lebih ‘gak lucu’ lagi orang yang memecah belah umat dengan memasukkan masalah pribadi ke dalam masalah manhaj..saya pun pernah kecewa, disakiti dsb..tapi itu kesalahan saya dan juga org tsb..saya berusaha untuk menutupi aibnya. kalau ada yg tanya “antum ada masalah apa dgn beliau ??” saya jawab “ya cuma masalah pribadi. cuma salah paham ” dsb.dan saya hanya sharing masalah pribadi dengan org tertentu yg bisa dipercaya..antum terlalu mudah mengeneralisir masalah pribadi ke semua orang yang terlibat. beberapa tuduhan antum hanyalah prasangka saja..antum sdh siap menanggungnya di dunia dan di akhirat ??di pks ada org baik dan org buruk..org baik kita ikuti..org yg buruk ya itulah lahan dakwah kita..saling menasehati dengan adab Islami..
20 Desember 2011 at 22:45
yang dikatakan adalah fakta… benar keputusan sy untuk keluar, keluar dari PKS bukan berarti berhenti berdakwah, diluar sana ladang Dakwah nan luas membentang…. Allahuakbar….
“beberapa waktu yang lalu ada seorang teman bercerita. suatu saat dia berniat berdagang diacara PKS yang diadakan di sebuah hotel, dengan mengenakan koko sederhana dan cirikhas nya, dia berharap rizki yang dinantikannya segera diterima. namun sesampainya disana harapannya pudar. kesederhanaannya membedakan ia dengan kader yg hadir disana…. tidak beberapa lama datanglah tamu petinggi PKS yg diagung-agungkan dengan beberapa ajudan yang menyisir area dan mensterilkan area karena koko dan tas yang berisi dagangan itu ia diusir, diikuti dicurigai membawa bom…. masyaAllah’ miris mendengarnya…. pemimpin seperti inikah yang kita banggakan, takut mati hingga perlu dikawal dengan ketat, suudzon pada orang, dan jauh dari kesederhanaan. tapi balasan Allah dan janji-Nya tak pernah meleset beberapa waktu setelah acara tersebut rumah petinggi PKS itu dihancurkan sebagian oleh pemda. mungkin itu balasan atas kesombongannya wallahua’lam.
3 Januari 2012 at 11:05
tahun 2014 sy gak akan coblos lagi PKS, karena PKS sama aja dengan partai lain, ngejar uang dan kekuasaan, ini sangat terlihat terang benderang di TV..
12 Januari 2012 at 23:44
gaya web seperti ini basi…..penulis kurang cerdas…..emosional…copas….lebih mantabs pks watch (sayang kabur dodi-nya!!!)…lebih cerdas…enak jadi bahan introspeksi dan perbaikan diri…..Maju terus PKS…ummat masih membutuhkanmu !!!
13 Januari 2012 at 13:59
Saya menangis membaca tulisan Antum. Begitu besar perubahan PK sejak berganti nama menjadi PKS. Selain Antum, saya yakin banyak yang sependapat dengan tulisan ini. Wallahua’lam.
13 Januari 2012 at 15:49
to masmet :
ya iya lah..masak jualan di hotel..?? semua ada tempatnya bro.cobalah hidup tertib..
su’u zhon ??wah hebat ente, bisa tahu hati seseorang..
dikawal takut mati ??hehe..Rasulullah dalam perang, ada sahabat yg selalu mengawal beliau..sampai mereka berebut untuk mengawal beliau..apakah Rasulullah takut mati dan cinta dunia ???
subhanallah , bukankah petinggi PKS itu juga masih muslim..kalau ada musibah thd sesama muslim, seperti itukah sikap ente ???
14 Januari 2012 at 23:36
@37: Hehee.. emang bener, lagi emosi. Udah gag nahan gitu deh pokoknya.
Ana gag marah antum bilang begitu, yang jelas itu luahan perasaan saya, maklumlah saya kan gak secerdas antum atau dos.
14 Januari 2012 at 23:44
Itulah manusia, kalo pkswatch udah tidak aktif dipuji-puji, kalo pas idup dicaci maki. Bilang ingin memperbaiki partai dari dalam, nyatanya malah terlena sama program-program politik. Temen ana banyak itu yang ngomong mau memperbaiki partai dari dalam, tapi kenyataannya sibuk ngurusin diri sendiri. wallahu ‘a lam
17 Januari 2012 at 07:52
Antum sendiri udah ngapaian ….? Teman2 antum yg ada di dalam tetapi masih bertahan atas kekuaranagn dan nodanya PKS, masih lebih baik dr pada menjadi bersih krn menjauh, seperti antum ini …
Antum mencoba mengkritisi org lain, tetapi antum sendiri begitu bebal ketika dikritik ….
Antum mengaku dhaif dan bodoh, tetapi apa yg antum tulis justru menunjukkan antum berlagak tahu banyak hal, walau aslinya antum adalah dhaif dan bodoh seperti yg antum katakan sendiri.
Org-orang perfeksionis kayak antum ini memang tdk bisa hidup berjamaah, silahkan antum bergabung dgn Salafi, MMI, JAT, HTI, atau FKP …, tp belum meninggalkan gaya perfeksionis, maka antum juga akan menemui kekecewaan.
Akhi yg kecewa dgn jamaah sangat banyak, tp bukan begitu caranya, yang menginginkan agar jamaah ini seperti dahulu juga banyak, …. tp dlm berjamaah tidak bisa memaksakan yg lain hrs seperti apa yg kita maukan.
Lihatlah IM di Mesir, membuat partai yg jauh lebih terbuka dibanding PKS, wakilnya adalah non muslim …. bahkan lihatlah iklan mereka, menggunakan simbol salib, masjid, dan muslim dan non muslim, lihat itu di youtube …
Lihatlkah salafi di Mesir, partai mereka pun terbuka buat non muslim …
Adapun kekecewaan antum terhedap oknum petinggi PKS yg bermewah-mewah, ada dewan yg nonton xxx, … ketahuilah hal itu sudah pernah terjadi sejak zaman blm ada partai, sudah ada ikhwah berzina, bahkan membunuh, jauh, itu sblm partai ada …. tp kita tetap istiqamah trhadap jamaah, krn kita yakin itu adalah eror orangnya.
Lalu, antum lihat hal ada pada masa PKS, …. apa bedanya? Hanya krn jor-joran diberitakan media massa, … antum lgsung ciut? lalu keluar dr jamaah?
Dulu eror-eror itu tdk diberitakan media, krn memang kitga bukan apa-apa, tdk ada yg kenal …. saat ini sudah banyak kepentingan utk mengkerdilakan PKS….
Pilihan adalah kebebasan sendiri, silahkan ambil sikap dgn berita yg utuh, jgn cuma ngandelin berita sms, internet, forum ini dan itui, tetapi mampet dalam menganalisanya …
Allahu A’lam
17 Januari 2012 at 22:10
PREDIKSI :
- Pemilu 1999 PK no urut 24
- Pemilu 2004 PKS no urut 16 ( 24 – 8 : 16 )
- Pemilu 2009 PKS no urut 8 ( 16 – 8 : 8 )
- Pemilu 2014 PKS no urut 0… ( 8 – 8 : 0 )
AKANKAH PKS AKAN ” HILANG ” DI 2014….Hanya Allah SWT yang tahu
tapi yang sudah jelas hilang adalah idiologi ” partai islam ” dari PKS
21 Januari 2012 at 10:53
lebih baik seperti itu lah kak…
sebab dakwah itu bukan soal lambang…
21 Januari 2012 at 22:07
Asslamualaikum wr.wb, Akhifillah yang di rahmati Allah,sungguh ketika kita menaruh harapan kpd selain Allah maka siap-siaplah kita akan di kecewakan olehnya, apa yang antum alami merupakan bagian dari perjalanan panjang dari sebuah episode kehidupan,tapi yakinlah kita musti kuat mski sdh terusir dari para ikhwah yang secara gak langsung mengklaim diri mereka bak malaikat n full perfect,bersabarlah n keep istiqomah..amiin
5 Februari 2012 at 14:00
Ya, Saya ‘Orang PKS’, So What? (Catatan Partisipasi MUKERNAS PKS JOGJA 2011)
Orang 1 : “ Oooo ternyata kamu anak PK tho, Vid? Penampilanmu beda ya! Keseret juga ya ke partai” sindir teman saya itu, saat itu masih kuliah dan saya ‘masih hijau’ dalam barisan ini. lalu diapun tak lagi ‘hangat’ pada saya. Dahulu, masih PK.Ucapannya selalu sinis. Lha saya? biasa aja toh orang-orang yang ‘menyeret’ saya juga dikenal orang-orang yan baik dan santun?! hehe
Orang 2: “Mbak Vida aktivis PKS juga tho ternyata? Saudara saya juga lho mbak, trus pas saya pindah ke Medan, ternyata guru ngaji saya juga PKS…” dia –juga teman saya- meskipun usianya lebih muda. Gadis muda itu,meskipun menurutnya pemahaman Islmanya ‘biasa’ aja, tapi dia juga oke-oke saja saat tau saya –critanya- kader PKS
Orang 3: “Subhanallah Vida, kowe tuh caleg PKS juga tho kemaren. Sayang ya Vid, aku di Jakarta. Waduh bapakku sih karena walikota dia milih Jokowi, nyontrengnya ya partainya Jokowi Vid, gak ngerti sih kalo pemilihannya beda. tapi seneng lho Vid sama anak2 PKS dari di kampus emang kliatan ya?” Dan sahabat saya yang selalu mengucap ‘subhanallah’ itupun selalu bersemangat setiap kali saya direct selling saat pemilu. Dan hingga kini,persahabatan kami sehangat mentari haha.
Orang 4: “Saya ini orang bodho, bu Vida. Sejak dahulu saya cuma tergerak kalau ada yang ngajak berbuat untuk masyarakat. Suami saya keluar dari satgas P***, lha sudah ndak gathuk (tidak matching) sama nuraninya. Sekarang, saya mungkin cuma punya semangat, PKS menyambut baik dan menghargai potensi saya. Monggo mbak, yang penting kita berbuat untuk masyarakat.” Dia perempuan lulusan SMP, itu ucapannya saat pertama kali saya ngontrak di kawasan Sangkrah, dan dengan percaya diri dia ‘babat alas’, keluar dari kebiasaan kampungnya yang ‘merah’, membantu kerja-kerja kami melalui PWK,hingga kini. Kini dia dan suaminya menjadi Pak dan Bu RW dan tidak ada jawaban selain kata : ya , bu! setiap kali saya ajak ‘bergerak’ hehe
Orang 5 : “Kamu jangan sampai nyebut atau ketauan kalo kader PKS lho, nanti pada ndak mau ikut pengajian, takut dijak milih PKS. “ hehehe.ini yang agak lucu menurut saya. Lha wong partai yang tidak ada bau-bau Islamnya aja bikin pengajian ndak pada ribut, kok PKS yang emang kerjaannya bikin pengajian dibikin ribut.Aneh juga.
Orang ke-6:” Ustadzah –hayah saya paling tidak sreg dipanggil ustadzah, yaaah mungkin karena saya dianggap istri ‘Ustadz’. Begini ust, gimana tentang tawaran kami untuk ikut Lokakarya Mubalighah se-Jawatengah? Tapi syaratnya memang harus setuju dengan khilafah syar’iyah ustadzah” hehee saya tersenyum.
“Siapa yang ndak mendukung khilafah syar’iyah Bu? jawab saya guyon, Tapi kami hanya memilih lewat jalur partai. Lha terserah panjenengan dan teman-teman, saya kan cuma diundang.Cuma mungkin kendala saya diwaktu Bu, apalagi kalo harus di luar kota, saya ndak bisa ninggal tiga anak” dan ibu muda yang pernah bertetangga dengan sayapun sampai hari ini tetap ‘istiqomah’ dan pantang menyerah memberi saya undangan-undangan acara harakahnya, atau mengisi pelatihan menulis untuk akhwat harakahnya. Sayapun menghadirinya jika tidak bebarengan dengan acara saya.
Begitulah. Pilihan berada dalam jalur dakwah siyasi bukan sebuah kebetulan. Komentar dan tanggapan orang terhadap Partai Dakwah ini beserta kader dan simpatisanya pun beragam. Tulisan ini sungguh bukan sebuah upaya menyombongkan diri. Apalah kita ini. Tulisan ini hanya sebagai bentuk partisipasi saya dalam rangka Mukernas PKS di Joga. Spirit ”Bekerja untuk Indonesia” sejak Munas yang lalu menginspirasi saya. Pun begitu, justru melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua yang ’terlanjur’, ’sengaja’, atau ’tidak sengaja’ dianggap sebagai ’orang PKS’ untuk memuhasabahi diri. Mengapa? Sebelum kita terlalu overestimate menganggap diri kita seorang ’kader’. Dan Sebelum orang lain overestimate pula terhadap kita, mungkin beberapa hal dibawah ini bisa menjadi bahan menakar kepantasan kita sebagai kader, pegiat partai dakwah ini
1. Memahami: Jalan Panjang Menguatkan Komitmen
Tarbiyah mengajarkan kita memaknai setiap proses perubahan dalam diri kita. Kita mungkin sama ingat bagaimana para murabbiyah, ustadz-ustadzah kita, orang-orang awal dalam dakwah ini meretas dakwah dalam setiap masa. Apa yang menjadikan mereka taft dalam dakwah ini dan tetap ada disini? Ya, PEMAHAMAN yang utuh terhadap manhaj dakwah Rasulullah dan jama’ah ini. Pemahaman itu yang menghindarkan kita dari jebakan-jebakan apatis dan sinisme tanpa ujung pangkal.
Pemahaman itu yang menjadikan kita bertumbuh dalam nuansa kritik membangun yang hangat , mencerdaskan, tegas dan sekaligus mesra dalam persaudaraan. Pemahaman yang akan membuat kita tegar menghadapi orang-orang tipikal pertama diatas. Saya juga masih belajar. Untuk tidak reaktif (apalagi dengan karakter saya yang meletup-letup hehe). Namun satu hal yang hingga kini saya syukuri, bahwa saya tidak ingin memberikan loyalitas saya tanpa pemahaman. Saya akan kejar pemahaman untuk hal-hal prinsip agar kita tidak menjadi barisan orang yang berkerumun, meskipun perjuangan dan gerakan perbaikan kadang tak menyisakan waktu bagi orang-orang yang hanya terus bertanya. Kita tidak boleh lagi menjawab ’tidak tahu’ pada orang-orang yang bertanya, sinis dan mendebat. Pemahaman menjadikan kita orang-orang yang siap menjadi humas untuk gerakan dakwah ini. Bagaimana?
2. Membuktikan Profesionalitas
Kita sama tau bahwa dakwah ini bergerak dinamis, menyentuh semua ranah profesi, kalangan dan semuanya. Pilihan politikpun sebenarnya tak lagi terlalu dikotomis. Kita yang mengaku atau diakui sebagai ’orang PKS’ ini harus mampu membuktikan bersikap profesional dibidangnya. Kita dapat mengerjakan secara sungguh-sungguh setiap amanah yang dibebankan dan melekat pada diri kita. Apapun peran kita. Bahkan saya yang iburumahtangga ini harus selalu profesional mengurus rumah, dakwah, bertetangga, dan semuanya.
Profesionalisme adalah kunci menghadapi orang-orang bertyipikal 2, 3 dan 4 diatas. Orang-orang yang melihat PKS sebagai kumpulan orang-orang yang memang ‘berkarakter’ pekerja dan pegiat kebaikan. Belajar , mengerti strategi, mantap dan merencanakan dan melakukan evaluasi adalah niscaya. Kita tidak boleh lagi terjebak pada ’kerja-kerja dadakan’, tanpa alur dan latah. Masih banyak maksud dari poin ini namun apatah saya?Mungkin Anda bisa sangat panjang menambahkan
3. Membuktikan Tetap Bersih
Ujian yang sering kita hadapi dalam iklim politik negri ini adalah cibiran tanpa ampun terhadap korupsi dan segala manifestasinya. sebagai partai dengan jargon bersih, peduli dan profesional, Kader-kader PKS dituntunt untuk selalu teliti dan tidak terlalu ’lugu’. Mungkin banyak orang pandai disekitar kita namun terlalu ’lugu’. Jebakan-jebakan yang merusak upaya untuk menjaga kebersihan dakwah dan pelakunya dalam bentuk materi, money politics dan segala bentuknya harus terus dikawal
Saudara-saudara kita yang sangat terpilih dan –saya percaya- mampu menjaga amanah yang dibebankan dipundak mereka di tempat-tempat ’basah’ dan licin harus selalu kita jaga agar tidak tergelincir.Termasuk, berhati-hati dalam pengajuan dan pencairan dana-dana, proposal dan tender-tender yang tidak jelas. Bukan kemresik kata orang Jawa (sok bersih).Tapi marilah kita yakini bahwa berhati-hati dalam hal materi itu menentramkan.Mari kita terus belajar dan mencari hujjah yang jelas dalam perkara ini. Bagaiamana syar’inya? Bagaimana mashlahatnya. Mungkin begitu kira-kira.
4. Membuktikan Tetap Peduli
Tarbiyah benar-benar merangsang kita untuk peka terhadap persoalan. Ini yang harus kita buktikan. Hari ini, dengan berbagai pesrsoalan yang ada, masyarakat kita tetap haus kepedulian. Tetap peduli dan membuktikannya tanpa pamrih tetap menjadi keniscayaan. Kepedulian kita yang menggerakkan orang-orang berpotensi baik dimasyarakat untuk tergerak dan mendukung kita
Seperti orang ke-6 yang saya tulis diatas.Namanya bu Sukini. Banyak orang-orang baik dan memiliki potensi kepedulian yang bisa kitafasilitasi. Soal kemenangan, suara dan segala hal politis menurut saya itu bonus dari Allah. Jika kemenangan hanya diukur dengan angka-angka, mungkin hari ini kita tak mungkin tetap ada. Kepedulian adalah etos kita untuk mengasuh oarang-orang yang telah mendukung, ingin mendukung atau yang kurang mendukung. Kepedulian menjadikan kita pantas mendapatkan kerinduan dari masyarakat. Termasuk kita merawat kantung-kantung pendukung dakwah yang telah kita bina .Entah apalagi, semoga temans semua bisa menambahkan
5. Membuktikan Kita Dapat Bersinergi dengan Luas, Luwes dan Diplomatis
Ini yang harus kita buktikan selanjutnya. Saya masih sangat ingat, saat pileg beberapa waktu yang lalu, PKS di daerah kontrakan saya tiba-tiba mendapat suara signifikan.Urutan ketiga setelah D******* dan P*** hawa ’panas’ sangat terasa. Spanduk Pos Wanita Keadilan ditembok rumah saya tiba-tiba tersobek dan raib, para ’pembesar’ partai lain di kampung yang kalah memberenguti saya dan kawan-kawan.Hehhe. Namun saat pemilihan walikota dan PKS berkoalisi dengan partainya Joko Widodo, walikota kami, hawa persahabatn itu menyeruak. Saya dan suami sampai dibuat salting karena mereka sangat hangat menyambut kader-kader PKS yang hendak memilih. Ya, ya, ya politik memang unpredictible.Tapi bukan itu yang saya maksud di poin ini.
Kita harus buktikan bahwa ’orang PKS’ mampu berpikir global dan bertindak local. Kita mampu menjalin sinergi kebaikan dengan siapapun, harakah manapun (tipikal orang ke-6 diatas), jama’ah manapun, partai manapun. Kita bisa dan mampu menjadi orang dengan pemahaman Islam dan budaya yang luas, memberi kemudahan, tidak kaku dan sempit.Kita mampu menembus batas-batas SARA dan budaya. Kita mampu, ya kita mampu bersikap luwes dalam berkomunikasi, simpati dalam sikap, luas dalam cakrawala wawasan.
Pun kita bisa juga berdiplomasi dalam menjawab kritikan, hujatan dan mampu cool and confident. Diplomasi dan kecerdasan bertindak dan berkomunikasi menjadikan kita mampu menjadi humas dakwah ini. Sinergi dengan banyak pihak dan banyak oarang akan melatih kita menjadi orang-orang yang opend mind, mau belajar dari oranglain, tidak gegabah, berpikir strategis, sabar, teguh dan ikhlas. Semoga.
6. Membuktikan Kita Selalu Optimis dan Kreatif
Saya sedang selalu belajar untuk optimis bersama dakwah ini. Belajar. Sebab semangat adalah sesuatu yang dapat turun naik, seperti juga iman. Pun dengan keegoisan saya yang mungkin masih menyeruak. Maafkan. Sebelum kita menyebarkan dakwah ini, bergiat dengan banyak rencana, mungkin kita harus mencitrakan diri kita-dan benar-benar membuktikannya- untuk menjadi barisan orang yang optimis terhadap dakwah siyasi ini. Optimis bahwa kita akan mampu membuktikan ketidakmungkinan. Optimis bahwa kita bisa membuka lahan-lahan dakwah baru, berkenalan dan menebar kebaikan pada orang-orang baru. Optimis bahwa kita dapat meng-up grade kemampuan maknawiyah dan fikriyah kita
Optimisme itu akan melahirkan hentakan-hentakan kreatifitas yang dahsyat. Optimisme akan melahirkan pikiran dan ide-ide ceremlang untuk terus membuat kreasi-kreasi dakwah yang manis dan mencerdaskan bahkan ide itu terus merunyak saat kita sudah akan beranjak tidur! Saya sedang sangat suka dengan kalimat ”mewakafkan diri dan waktu untuk dakwah”. Entahlah, yang saya rasakan kalimat itu seolah membuat saya berhenti dari menasihani diri sendiri. Kalimat itu menjadikan saya istri yang siap melepas suaminya segera pergi untukkerja-kerja dakwah ini, siap menghandle anak-anak dan rumahtangganya. Inilah optimisme. Apa hubungannya? Optimisme kita dan kratifitas kita akan menjadikan kita mampu menjadi figur teladan untuk masyarakat kita. Kitapun akan malu bermalas-malasan karena kita harus membuktikan semangat itu terlebih dahulu.
7 . Membuktikan Bahwa Kita TETAP BEKERJA!
Seperti yang saya sebut diawal, saya suka dengan motto ”Bekerja untuk Indonesia” yang digulirkan PKS sejak munas. Kalimat afirmatif ini perlu. Kalimat yang mengisyaratkan bahwa kita tidak lagi bisa hanya meladeni omong kosong tentang cibiran dan sinisme serta apatisme yang sama sekali tidak produktif. Bekerja sepertihalnya Allah isyaratkan dalam ayat
Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu (9:105)
Amal menjadi penjawab paling mujarab. Mari bekerja. Dari manapun kita, mari bekerja untuk negri ini. Dimulai dengan kerja-kerja kecil yang riil. Maka, tak elok rasanya kita dianggap ’orang PKS’ sementara kita tak pernah menyapa tetangga, berkumpul dengan mereka. Tak elok sepertinya saat orang sudah antusias mengharap peran-peran keumatan dan kenegarawanan, kita masih sibuk meladeni kritikan, takut menampakkan identitas dan mengelak dari amanah-amanah dakwah ini. Jika begitu, ucapkan selamat tinggal kejayaan.
Begitulah. tulisan saya selesaikan tepat setelah rangkaian pembukaan Mukernas PKS di Jogja usai semalam (meskipun saya tidak sempat mengikutinya lewat televisi, maklum, nyambi menghantarkan tidur anak-anak, ed). Bukan bermaksud berlebihan. Tapi tulisan ini pengingat diri sendiri. Selain itu menulis adalah sebuah hentakan luarbiasa dan bentuk kepedulian saya terhadap segala peristiwa. Mungkin bberapa poin diatas dapat menjadikan kita lebih optimis dan pede mengatakan ”Ya, saya kader PKS, mari kita bekerja bersama untuk Indonesia!” Selamat Mengikuti Mukernas PKS di Jogjakarta. Darimanapun kita, mari bekerja untuk Indonesia! Salam inspiratif! Wallahu a’lam bishawwab