Tulisan ini hanya sekedar iseng saja, ana coba membuka kembali wacana tentang ikhwan – akhwat era-sekarang (menurut pandangan ana). Bisa jadi isinya hanya curhatan, pengalaman dan interaksi pribadi ana, atau sesuatu yang tidak penting untuk dibahas (menurut antum, maybe), namanya juga hanya sekedar iseng :D . Boleh dong.. :D Yaa, syukur-syukur ada manfaatnya, amiin. (Tulisan ini akan terus ana tambah dan ana update setiap saat, insya Allah).

Bismillah.. mari kita mulai saja. Dari mana dulu ya??? ane juga bingung nih. Bebas aja lah ya..namanya juga iseng.. :D Hehehe..

Tentang “Teman Sejati” (Calon istri maksudnya, teman dakwah selamanya ).

Kata a’Faridhu : “Akhi..akhwat itu semuanya sama. Insya Allah semua diatas rata2 dalam hal ilmu agama dan kesholehan (sholehah maksudnya). insya Allah. Mangkanya.., kalo antum nanti cari calon istri, yang punya kompetensi dan keahlian khusus. Keahlian yang lain, selain standar dari yang dimiliki oleh sang akhowat. Misalnya anak kedokteran, biar kalo antum sakit ada yang ngurusin”

Kata Kakak ana : “Igas, kamu nabung dari sekarang..buat persiapan nikah nanti. Jaman sekarang nikah ga’ cukup modal 6,7,8 jutaan, apalagi antum anak laki-laki!!”. (Itu aja ngomongnya waktu ane masih SMA, tapi ampe sekarang ga jadi2 melulu, uangnya kepake terus).

Ana juga teringat dengan taujih seorang ust saat halaqoh akbar : “Akhi…haram antum punya 5 juta tapi gak nikah..”

Tentang Kritikan ana untuk akhwat.

Ada juga moment2 yang bikin ana jadi merasa ‘gak nyaman, bikin gemes, yang bikin ana jadi pengen teriak. Moment itu bernama syuro, ane paling gemes kalo syuro sama akhwat yang suaranya pelan, penuh kelembutan, penuh kesyahduan, penuh kasih sayang (lebay  banget ya :D ‘afwan abis ane kesel ).  Jujur, ane sih gak tau menau, itu akhwat emang lagi ngejaga banget atau emang gak ngerti batesan ikhwan-akhwat saat syuro?? Apalagi nanti akan timbul kesan syuronya sendiri-sendiri, ribut sendiri, rame sendiri, ngomong sendiri-sendiri. Bisa jadi hasil syuro tidak semuanya faham dan mengerti. Giliran dimintai pendapat…terucaplah kata : “afwan ukh, tadi ngomong apa ya? ane gak jelas…bisa diulang gak?”. Dugh!! Ketiban Beton 100 Kilo. :(

Ada juga akhwat yang hobinya pake bergo (jilbab langsung pakai),  sebenernya sih gak masalah..boleh2 saja, cuma yang jadi masalah si akhwat terkadang maen pake gitu aja, lupa pake dobelan jilbab sehingga kalo jalan dan kena sinar matahari jadi keliatan telinga dan rambutnya lantaran bergo yang dipakai terlalu tipis sampe terkadang rambutnya keluar dari peredaran. (sering-seringlah merapihkan jilbab wahai ukhti..hueekszk..sok perhatian.)

Seorang aktivis akhwat lebih sering ane lihat pakai jaket Organisasi, ini juga ga masalah. Asal jaketnya longgar, XL ukurannya sekalian atau ukuran yang 10% lebih besar dari postur tubuh. Kalo jaketnya cuma ngepas ama badan, terus dislerekin resletingnya sampe atas dengan jilbab berada didalam. Ini yang repot, bisa-bisa membuat lekuk tubuh si Akhwat. Kasian ane dong, jadi harus sering2 puasa sunnah Ikhwan mania. Oleh karena itu, lebih baik jilbabnya dikeluarkan saja. Sehingga bisa tetap hangat dengan jaket dan tetap bisa menutup aurat dengan jilbab yang menjulur panjang keseluruh tubuh. Beda kalo antum dalam kondisi sakit, misalnya.

Jujur niiihh…ane lebih suka dengan Akhwat yang gak banyak dandan (penting gitu?? :D ). (Akhwat yang ga banyak aksesoris dan banyak kosmetik).  Pake bedak dikit bolehlah…tapi kalo udah tampil modis.. ( Kalo gak mau dibilang genit! :D ). Beeuhh..ini yang bikin fitnah. Apalagi sampe pake parfum yang menyengat segala (karena kebanyakan, atau mungkin ketumpahan parfum :D ). Modis disini : Pake gelang pernak pernik yang gak jelas, Warna Jilbab, Baju dan Rok yang mentereng, Pake renda2 atau motif2 aneh (Biar diliatin sama orang lain). Tampil cantik its OK, tapi kalo udah tabaruj n kelebihan dosis. Dosa ditanggung sendiri. :D

Tentang sms antar ikhwan-akhwat.

Belum, masih ane kosongin dulu.

Tentang Menjaga AIB.

Nah, ini yang menarik, ternyata sekaliber ikhwahpun terkadang tidak pandai dalam menjaga Aib saudaranya. Ana coba membaca kultur ikhwah di Purwokerto, Ternyata memang masih menggunakan sistem “Jarkom” atau istilah “Bos” atau istilah lain yang menggambarkan transfor information. Misal : Dari temen kos sampai ketemen liqo, dari temen liqo sampai ke Murobbi, dari murobbi sampai ke Kaderisasi. Atau dari teman dekat (temen liqo atau temen kos) langsung melapor ke mas’ul (Murobbi atau Kaderisasi). Dengan bangganya sang informan melapor : “Akhi/ Ukhti… sifulan begini begini..sifulan begitu begitu..sifulan begini begitu. Tapi terkadang sering lupa, (Bahasa yang halus, daripada saya harus mengatakan BODOH karena GAK tau ilmunya). Apakah informasi yang disampaikannya itu, Aib sifulan atau bukan, Apakah “si Informan” tepat menyampaikannya atau tidak (Tepat orang, tepat waktu, tepat suasana, tepat untuk dilaporkan atau tidak, tepat untuk diolah atau tidak. dan masih banyak lagi). Yang sering ana lihat sekarang, terkadang “si Informan” jadi orang yang suka tebar gosip dan tebar sensasi. Yang lebih parah lagi cara menyampaikannya, terkadang “si informan” dengan bangganya membicarakan kepada semua  orang yang hadir dalam forum itu atau forum yang “si informan” temui (dengan jumlah orang  yang hadir  5,6 sampai 10 Orang). Padahal TIDAK semua orang berhak tau  apa yang yang ingin disampaikan oleh “si informan”. Ini dia masalahnya. Lucukan??

Ana tau betul kepada siapa saja ikhwah melaporkan (dalam hal ini semua aktifitas ana pribadi), jadi ana sering bikin sensasi kekader dengan cara2 yang kurang ahsan. Tujuannya si sederhana, ingin tau saja apakah si ikhwan atau si akhwat itu adalah saudara yang baik atau tidak bagi ana. Tentunya saudara yang memahami tentang Tarbiyah Islamiyah secara utuh, saudara yang memahami nilai-nilai isalm yang baik. Bukan Produk Setengah Jadi.

Nich..ane kasih logika sederhananya : Ust. Anis pernah mengatakan dalam salah satu bukunya. Orang itu akan akan menilai orang lain dari apa yang telah dilakukannya (bahasa gampangannya, liat akhlaknya). Dari situ bisa terlihat sedikit kepribadian seseorang. Orang menilai dari apa yang kita lakukan.

Jadi sebenarnya, membangun image itu tidaklah sulit bagi seorang ikhwah (ini menurut saya pribadi). Tampil saja antum dengan “Gaya-gaya” ikhwah kebanyakan, niscaya akan terbangun image yang baik.

Tapi ana tidak suka seperti itu, bagi ana hal itu basi dan membohongi diri ana sendiri. Gimana gak coba??? masa membangun image yang baik itu dibarengi dengan ucapan :

“Eh!! antum itu lagi berhadapan dengan akhwat akhi..”.

“Kita kan mau ketemu akhwat akh..”.

“Masa didepan akhwat begitu sih?”.

“Masa ngomong sama akhwat kayak gitu akh?”.

“Menghadap akhwat harus rapih dong!”.

“Eh, ada akhwat yang ketok pintu tuh..musiknya dikecilin..malu..gak enak.”

“Antum harus beda dong..cz kita mau syuro sama sifulana..”.

“Didepan akhwat itu kita harus tampil baik akhi..harus memberikan image yang baik..harus tegas”.

“Didepan akhwat itu kita harus set..set..set.. des.. des..des..tes..tes..tes..” .

Dan muuuuaaasiihh banyak lagi ucapan ucapan yang lainnya. Kalo menurut ane, si Ikhwan sudah bikin citra yang buruk dihadapan Allah, walau si akhwat tidak tau yang sebenarnya. Jika landasannya seperti itu, betapa naifnya harga diri seorang Ikhwan :( . Niat dan tujuan awalnya saja sudah jelek, kata-katanya saja sudah menjurus kepada kesyirikan. Inilah yang menyebabkan sang Akhwat “merasa dan menjadi” kaget setelah menjadi Istri sang Ikhwan”. Dalam hatinya sang akhwat berkata : “Oohhh..gini yah suami saya yang sebenarnya, sungguh jauh panggang dari api..”. Sambil ngelus dada dan berusaha untuk bisa ikhlas menerima sang suami yang “Dulu” terlihat baik semasa menjadi Aktivis Dakwah Kampus. Mangkanya ana suka pengen muntah kalo ada ikhwan yang gaya-gayanya kayak gitu. :D . Padahal mah biasa aja si kenapa..

Tentang sebuah penilaian sederhana dalam keseharian.

Yang diperhatikan Ikhwan tentang penampilan akhwat :

Dari jilbabnya. Seberapa panjangkah jilbab sang akhwat, pake kaos kaki apa nggak, pake manset apa nggak (sarung lengan sampai menutupi pergelangan tangan), suka tilawah apa nggak, Jilbabnya warna apa, Kalo ngomong sama ikhwan suka nunduk apa nggak (Bahasa lain dari Ghoudul Bashar, memalingkan wajah saat berbicara dengan ikhwan), Cara ngomongnya tegas atau tidak. Yang terpenting, sang akhwat bisa bersikap dewasa atau tidak. :D

Yang diperhatikan Akhwat tentang penampilan ikhwan :

Banyak hal yang biasanya dimiliki oleh seorang ikhwan, walaupun agak sulit memprediksi, apakah “dia” ikhwan atau bukan, lantaran tidak seperti akhwat yang “Harga mati” mengenakan jilbab, performance. Bisa jadi mirip penampilan ikhwan, gak taunya Misionaris Kristen. Ada itu yang begitu. Setau ane, biasanya akhwat menilai penampilan ikhwan (secara jahir-pen) dengan memperhatikan beberapa bagian dari tubuh sang ikhwan. Misalnya : Dikeningnya ada tanda bekas sujud atau tidak (tanda warna item dijidat.:D abis kejedot tembok mas..), pelihara jenggot atau tidak, bajunya pake “hem” atau tidak (kemeja kotak-kotak atau batik),   celananya ngatung atau tidak, wajahnya bercahaya atau tidak, diliat gantungan tasnya, Dimesjid suka nyempetin tilawah apa nggak.

Tentang Perhatian dan cari perhatian.

Bersambung terus…tunggu tulisan tulisan lanjutannya..