Pertanyaan :
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuhu.
Semoga selalu diberikan kesehatan untuk Pak Ustadz.
Ana yang dhaif ini minta dijelaskan tentang :
1. Apa bedanya manhaj salaf dengan manhaj Nubuwah? Adakah perintahnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosul untuk masuk atau mengikuti manhaj salaf?
2. Kenapa dari mulut-mulut salafy melarang untuk meng-kafirkan pemerintahan AS dan mudah meng-Khawarijkan harokah Islam IM, HT, DI, Jamaah Tabligh dll serta tokoh Islam seperti As-Syahid Hasan Al-Banna, Usamah bin Ladin, dll.
3. Kenapa salafy melarang umat Islam memberontak terhadap pemerintah yang zholim (menindas umat Islam, pemerintah yang tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bekerja sama dengan Nashrani dan Yahudi, dll)
Mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan
Wassalam.
Dari : S.ABDUL FATAH
Jawaban :
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.
Pandangan setiap orang dan tokoh itu bisa saja berbeda-beda. Perbedaan pandangan itu tentu disebabkan oleh banyak faktor. Diantaranya adalah :
1. Perbedaan Paradigma
Semua perbedaan pandangan ini bermula dari perbedaan cara pandang. Paradigma yang digunakan satu kelompok Islam terkdang tidak sama dengan yang digunakan oleh kelompok lainnya. Akibatnya, hasil akhirnya pun berbeda. Bahkan dalam kasus tertentu bisa jadi sangat bertolak belakang.
2. Perbedaan Sumber Informasi
Selain itu, yang juga ikut berpengaruh dalam perbedaan pandangan adalah sumber-sumber informasi yang digunakan. Informasi yang didapat sering berbeda sumbernya. Ada yang mendapat informasi langsung dari kancah permasalahan dan ada juga yang mendapat informasi turunan. Maksudnya informasi ini didapat bukan dari sumber aslinya, tapi dari kutipan dan telah dikutip lagi.
3. Perbedaan Subjektifitas
Terkait dengan masalah informasi ini adalah juga tingakta subjektifitas pemberi informasi. Sebagai contoh, dalam kasus Amerika menyerbu Iraq, Anda akan mendapatkan informasi yang berbeda ketika mengambilnya dari CNN dan Al-Jazirah. Padahal fakta dan kejadiannya di lapangan cuma satu, tapi analisa dan sudut pandang keduanya bisa bertolak belakang. Ditambah lagi sejauh mana para reoprter itu bisa punya akses langsung dengan sumber berita dan seberapa jauh dia hanya menggunakan asumsi.
Gambaran ini kira-kira bisa menjelaskan mengapa ada perbedaan pandangan yang cukup ekstrim dari kelompok-kelompok Islam ini. Karena hal-hal yang kami sebutkan di ataslah kenapa salafi punya penilaian sendiri terhadap Al-Bana yang berbeda dengan pandangan dari kelompok lainnya.
4. Statemen Pribadi Tidak Selalu Representasi Padangan Jamaah.
Satu lagi yang juga perlu diperhatikan, bahwa statemen apapun yang keluar dari tokoh-tokoh itu tidak otomatis mewakili nama jama’ah itu. Bisa saja itu merupakan opini pribadi yang latar belakang dan kondisinya bisa berbeda. Sehingga bisa dikatakan bahwa tidak semua tokoh salafi menyalahkan Hasan AlBanna, banyak juga yang secara jujur mengakui jasa-jasanya meski dengan catatan.
5. Pandangan Seseorang Bisa Berubah
Selain itu juga tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang berubah pandangan dan pendirian serta penilaian terhadap satu permasalahan. Sebagai contoh, Imam Asy-Syafi`i ra memiliki dua pandangan resmi dalam mazhab fiqihnya, yaitu qaul qadim dan qaul jadid. Qaul jadid mewakili pandangannya di Mesir dan merupakan koreksi atas pendapatnya sebelumnya.
6. Latar Belakang
Selain itu juga perlu dilihat latar belakang orang yang melakukan penilaian. Karena keahlian dan spesialisasi tiap orang berbeda-beda. Secara umum, orang yang ahli di bidangnya lebih berkompeten dan punya ototritas untuk berbicara sesuai dengan bidangnya. Misalnya, seorang dokter lebih tepat bicara tentang kesehatan badan ketimbang seorang sufi yang berkutat dengan masalah batiniyah.
Namun lepas dari semua faktor di atas, umat Islam punya kewajiban untuk berlaku adil, saling menyayangi, berperilaku mulia, husnuz zhon, tidak saling mencaci, tidak saling menggugat, tidak saling menjatuhkan.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-hujurat : 11).
Kalau pun mengoreksi atau mengkritis, maka lakukanlah dengan cara yang sebaik-baiknya. Bukan dengan menghujat, memaki, mencela dan semua perilaku kotor lainnya.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu . Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran : 159).
Menuduh orang lain melakukan kejahatan belum tentu membuatnya berhenti. Menuduh orang lain menjadi khawarij tidak berarti sudah melakukan amar makruf dan nahi mungkar, selama hanya bisa menuduh. Yang perlu adalah duduk bersama dan membahas apakah benar apa yang dituduhkan itu. Jangan sampai kita hanya mendengar sekilas lalu langsung menyebarkan fitnah. Allah SWT sudah mewanti-wanit untuk selalu bersifat objektif dan melakukan cross-chek sebelum bertindak.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat : 6).
Wallahu a`lam bis-shawab.
Wassalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuhu.
10 April 2009 at 01:42
assalamu alaikum
maju terus wahai pejuang-pejuang pergerakan islam, cintailah Allah niscaya Dia akan mencintaimu, rendahkanlah dirimu di hadapan kaum muslimin dan angkatlah dirimu di hadapan orang-kafir (laknatullah ‘alaihim), kobarkanlah semangat jihadmu dan jangan takut dengan hinaan orang-orang yang suka menghina.
10 April 2009 at 18:38
maju majulah titik titik berjaya raih kemenangan..
sebarkan rahmatnya bagi semesta,
itulah cita kita,
maju majulah titik titik..
14 April 2009 at 13:04
mas… baca tulisan ustadz sarwat di warnaislam.com
http://warnaislam.com/syariah/kontemporer/2009/4/2/31980/Kesal_Orang_Menghina_Ulama.htm
intinya : jangan turut ngeolok-ngolok
itu aja
salam
15 April 2009 at 13:10
Ya.syukron akhi..sudah mengingatkan ana. smoga antum dan yang lainnya (yang baca) bisa bersikap arif dan bijaksana.
17 April 2009 at 13:21
silaturrahmi blog …
21 April 2009 at 23:42
Jazakumullah khoiron katsiir sudah silaturrahim.
28 April 2009 at 16:21
assalamu’alaikum wr wb.
ya akhi….jangan lah antum berdebat!!berdebat dg orang bodoh itu mengeraskan hati!!!syukron..
22 Mei 2009 at 21:33
Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah carut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang dzalim.
KKN, represivitas penguasa, kedekatan pemerintah dengan Barat (baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari yang ‘sekedar’ demonstrasi, hingga yang berujud pemberontakan fisik.
Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan tidak timbul kerusakan yang jauh lebih besar.
Yang menyedihkan, Islam atau jihad justru yang paling laris dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya. Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakar dan ‘Umar bin Al-Khaththab dapat tegak kembali di masa kini.
Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di bejana ditumpahkan”. Yakni, mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah ‘Umar bin Al-Khaththab namun kewajiban yang Allah perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yang ada di hadapan mereka, justru dilupakan. Padahal dengan itu, Allah akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.
WAJIBNYA TAAT KEPADA PENGUASA MUSLIM
Allah telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapapun jelek dan dzalimnya mereka. Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata. Allah juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kedzaliman mereka dan tetap berjalan di atas sunnah.
Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliyyah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah seperti keadaan orang-orang jahiliyyah.1 (Lihat ucapan Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abbas c, dia berkata: ”Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliyyah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah z, dia berkata: “Kami masuk ke rumah Ubadah bin Ash-Shamit ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya: ‘Sampaikanlah hadits kepada kami –aslahakallah- dengan hadits yang kau dengar dari Rasulullah yang dengannya Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ Maka ia pun berkata:
“Rasulullah memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara baiatnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak –beliau berkata- kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13 hal.192, cet. Maktabatur Riyadh Al-Haditsah, Riyadh. HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya-ut Turats Al-Arabi, Beirut, cet. 1)
WAJIB TAAT WALAUPUN JAHAT DAN DZALIM
Kewajiban taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah , adalah terhadap setiap penguasa, meskipun jahat, dzalim, atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dengan memberikan hak mereka, yaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud z, dia berkata: “Rasulullah bersabda:
‘Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak -red) dan perkara-perkara yang kalian ingkari’. Mereka (para shahabat -red) bertanya: ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau berkata:
“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.”(Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim z. Dia berkata: “Kami mengatakan: Wahai Rasulullah kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu…(disebutkan kejelekan-kejelekan), maka Rasulullah bersabda:
‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’ (Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah dan lain-lain. Lihat Al-Wardul Maqthuf, hal. 32)
Berkata Ibnu Taimiyyah t: “Bahwasanya termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap kedzaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah dalam hadits yang masyhur.” (Majmu’ Fatawa juz 28, hal. 179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah Mesir)
Sedangkan menurut Al-Imam An-Nawawi t: “Kesimpulannya adalah sabar terhadap kedzaliman penguasa dan bahwasanya tidak gugur ketaatan dengan kedzaliman mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Berkata Ibnu Hajar t: “Wajib berpegang dengan jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari)
TETAP TAAT WALAUPUN CACAT
Meskipun penguasa tersebut cacat secara fisik, Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dalam memilih pemimpin adalah laki-laki, dari Quraisy, berilmu, tidak cacat, dan seterusnya, namun jika seseorang yang tidak memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa -apakah dengan pemilihan, kekuatan (kudeta), dan peperangan- maka ia adalah penguasa yang wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali, jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan, maka tidak perlu menaatinya (pada perkara tersebut, red) dengan tidak melepaskan diri dari jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar z bahwa dia berkata:
“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat walaupun yang berkuasa adalah bekas budak yang terpotong hidungnya (cacat)2” (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/467, cet. Daru Ihya-ut Turats Al-Arabi, Beirut. HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, hal. 54)
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah z. Dia berkata: “Berkata kepadaku ‘Umar z: ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tau apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini…, jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”
22 Juni 2009 at 00:10
benar itu, bahwa di situs resmi salafi.co.id terdapat artikel2 yg meng-khawarijkan bahkan menganggap sesat organisasi2 Islam seperti PKS, HT, taliban, Al Qaeda, dsb. Mereka juga mengatakan bahwa berkecimpung di jalur parlemen, seperti halnya PKS dan partai Islam lainnya adalah sesat karena parlemen di RI berdasarkan demokrasi “kafir”. Ini fakta bukan sekedar isu atau gosip murahan!(kalau tdk percaya buka situs resmi mereka), mereka(salafi) juga mengatakan bahwa Taliban atau al Qaeda bukanlah pasukan pembela Al-mahdi menjelang akhir zaman! padahal terdapat ciri2 yg menguatkan bahwa Taliban kemungkinan pasukan yg dimaksud, Insya Alloh. Sebetulnya Amerika telah memfitnah dan menjelek2 kan taliban dan Al Qaeda. Mereka (Taliban & Al Qaeda) bertindak ekstrim bukanlah tanpa alasan! dikarenakan pihak amerika terlebih dahulu yg memulai perang dan membunuh byk Muslim tanpa alasan yg jelas! Jadi akan menjadi adil, apabila Israel, Amerika dan sekutunya juga di cap sebagai teroris! mereka (Israel, amerika dan sekutunya adalah teroris yg sesungguhnya). pertanyaannya sekarang adalah Kenapa mayoritas penduduk dunia (termasuk sebagian kaum Muslim) membenci taliban? mereka adalah saudara kita yaitu Muslim Sunni! jgnlah kita membencinya, mereka(taliban) memperjuangkan Hak2 mereka! telah menyerbu dan menggempur Afghanistan utk alasan teroris dsb, padahal yg sebenarnya adalah masalah agama! dalam hal ini yg dimaksud adalah amerika mempercayai bahwa Pasukan al mahdi dari muslim sunni kelak akan muncul dari arah afghanistan, sehingga amerika bermaksud ingin menghabisi seluruh orang2 taliban. Dilihat dari hubungan darah, maka suku pasthun afghan adalah salah satu dari sekian keturunan Bani Israil yg hilang dan berpencar. Hanya sedikit keturunan bani Israil yg lurus dan tdk menyimpang sekarang, yaitu salah satunya Suku pasthun afghan, yg mana mereka telah memeluk Islam sejak nenek moyang mereka mengetahui ttg kemunculan seorang rasul penutup dari jazirah Arab yg bernama “Muhammad” dari kitab taurot mereka dahulu.